
Setelah mendengar penjelasan Erica, Revon kembali berpikir keras. Jika memang alam bawah sadar Rose terhubung dengannya itu berarti dia memiliki kesempatan untuk bertemu dia lagi di mimpi.
Tapi bagaimana dia bisa bermimpi seperti itu lagi?
"Apa ada cara bagaimana aku bisa tertemu lagi dengannya dalam mimpi?" Tanya Revon kepada Erica.
"Entahlah... Revon.. Kamu tahu kan aku masih belum mahir dalam ilmu sihirku?" Ujar Erica.
Revon menghembuskan nafa lelah, jari-jarinya menyisir rambutnya secara perlahan.
"Jadi kamu akan mencari buku itu kemana?" Tanya Revon.
"Aku harus menghubungi kerabatku. Dan mulai bertanya ke mereka. Namun... aku tidak yakin mereka akan memberitahu. Buku itu sangat berharga bagi kaum penyihir." Jawab Erica dengan menundukkan kepala.
"Kamu beri tahu saja kepadaku apa mereka punya buku itu. Lalu aku sendiri yang akan mengambilnya."
Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Revon mengatakan "masuk" lalu terlihatlah asistennya sedang membawa secangkir minuman.
"Saya membawakan minum untuk Ms. Zanquen." Ujar Robert.
Lelaki itu meletakkan cangkir di meja dekat sofa. Erica melirik ke arah Robert dan lelaki itu memberikan senyuman hangatnya. Melihat itu, Erica menjadi berdebar-debar dan merasa canggung.
Kenapa dia sejak tadi tersenyum terus kepadaku? Pikir Erica dengan menggigit bibirnya.
"Saya berada di ruang tamu jika anda mencari saya." Ujar Robert dengan menatap Erica secara terang-terangan.
Sebelum undur diri, Robert mengangguk kepada Revon dan pergi menghilang di balik pintu.
•••
Byur!
Aku terjatuh ke dalam air yang teramat dingin hingga terasa menusuk tulang. Tidak lupa aku juga masih menahan nafas.
Perlahan aku membuka mata, dan seketika aku terkejut melihat seorang wanita dengan gaun putih sedang berada 2 meter dihadapanku di tengah kegelapan air.
Entah karena cahaya yang memang sangat minim. Di dalam sini sangat gelap. Namun aku masih bisa mellihat wanita itu.
Apakah dia Rose?
Semakin ku pikirkan, penasaran itu semakin besar. Perlahan aku mendeketinya dan menyisakam jarak satu jengkal darinya. Melihat dari reaksinya, dia tidak menolak dan hanya diam.
Tanganku terangkat membelah juntaian rambut yang mengambang menutupi wajahnya. Mataku terbelalak melihat wajah wanita itu. Dia adalah...
"Rose..." Ujarku dalam air. Tentu saja itu tidak mengeluarkan suara karena teredam oleh air.
Kedua mata wanita itu terpejam dan wajahnya pucat. Bibirnya sudah tidak lagi berwarna pink melainkan membiru. Saat aku sentuh kulitnya dengan jari-jariku, aku tersentak karena rasa dingin yang seperti membekukan jariku.
Tidak! Apa yang terjadi?
Aku mencoba berenang dan menariknya keatas, berharap menemukan permukaan laut sehingga membuatku bisa membawanya pergi dari sini. Membawanya pulang ke rumah.
Tapi, setelah satu jam aku berenang. Tetap tidak terlihat permukaan atau cahaya dari arah luar air.
Setelah berenang tapi tidak kunjung menemukan permukaan laut, aku memutuskan untuk berhenti.
Ah, teleportasi !!
Aku mencoba melakukan teleportasi. Percobaan pertama, tidak terjadi apa-apa. Kedua, tetap tidak terjadi apa-apa. Ketiga kalinya.. aku masih tetap berada di lautan gelap dan dingin ini.
Kenapa tidak bisa?! Shit!
Tiba-tiba kedua mata Rose terbuka. Dia menatapku lalu berusaha lepas dari pelukanku.
Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu.
Aku menggelengkan kepala sambil mencoba mengatakan kalau aku tidak mau melepaskannya.
Selanjutnya dia melakukan hal yang tidak aku duga.
Dia.. menampar pipiku dengan sangat keras.
Aku hanya terdiam beberapa saat mencoba mencerna kejadian yang baru saja terjadi.
What the hell?!!