My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 49 - I miss you



Chapter sebelumnya


"Aku ingin menanyakan sesuatu yang serius." Ujar Revon tiba-tiba.


"Soal apa?"


"Kejadian saat kamu tidak sadarkan diri."


"Hmm.. baiklah. Aku akan menjawab sebisaku."


"Apa yang kamu rasakan saat tertidur?"


"Hanya rasa dingin dan gelap.. aku tidak bisa melihat apapun."


"Apa kamu pernah berkomunikasi denganku melalui mimpi?"


"Komunikasi?"


"Yah. Karena aku sempat mendengarmu mengatakan sesuatu di dalam mimpiku."


Deg.


Rose merasa jantungnya berdegup kencang. Dia merasa ada sesuatu penting yang terlupakan.


"Apa yang terakhir kali aku katakan?"


"Kamu mengatakan.. Robert ... ROBERT DAN ERICA DALAM BAHAYA." Ujar Revon seketika membelalakkan mata.


"ROBERT DAN ERICA DALAM BAHAYA" Ujar Rose berbarengan dengan Revon.


•••



Revon seketika menatap wanita itu dengan raut wajah ingin meminta penjelasan. Sementara Rose sendiri tidak tahu harus menjelaskan kepada Revon seperti apa.


Pasalnya, Rose tidak bisa mengingat dengan jelas apa saja yang dia pikirkan saat tidak sadarkan diri beberapa minggu yang lalu. Semua seperti kepingan-kepingan memori yang perlahan terhanyut oleh waktu.


"Aku.. aku tidak tahu. Aku tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang aku pikirkan atau katakan kepadamu. Semuanya seperti sebuah kertas yang hanyut ke dalam sungai."


"Ya, memang beberapa kali aku merasa seperti sedang berbicara denganmu. Mendengarmu menanyakan hal itu, membuatku jadi ingat. Jika Robert dan Erica dalam bahaya... Kita harus menolong mereka.." Jelas Rose dengan raut wajah serius.


"Itu.... Akan membutuhkan waktu dan tenaga. Entah seberapa parah kekacauan yang mereka hadapi hingga aku tidak mendapat kabar lagi dari mereka. Bahkan ponsel mereka tidak aktif. Aku akan coba pikirkan nanti." Ujar Revon dengan wajah tenang.


"Kenapa kamu sangat tenang sekali? Kamu tidak mengkhawatirkan mereka?" Tanya Rose dengan pandangan menyelidik.


"Mereka bisa menunggu." Ujar Revon dengan menatap wajah Rose dengan intens.


"Tidak. Tidak bisa begitu. Revon, mereka pasti dalam..." Ujar Rose yang tiba-tiba terpotong oleh Revon.


"Mereka bisa menunggu. Bae, apa kamu tidak merindukanku? Kenapa kamu lebih memperdulikan mereka daripada aku yang saat ini ada di depanmu?" Ujar Revon dengan tenang namun terlihat raut wajahnya sedang serius.


"Tentu.. aku sangat merindukanmu. Tapi, kita harus segera menyelamatkan Robert dan Erica. Bagaimana kalau sesuatu terjadi kepada mereka?" Ujar Rose tidak ingin kalah.


"Sstt.. Berhenti mencemaskan mereka. Aku akan menyelamatkan mereka dan aku pastikan mereka akan baik-baik saja. Kamu percaya kepadaku, kan?"


Rose menatap kedua mata Revon dan menganggukkan kepala.


"Apa kamu tidak punya mulut untuk bicara, hmm?" Ujar Revon dengan mengusapkan ibu jarinya pada bibir yang masih sedikit pucat itu.


Krruukk..


Tiba-tiba terdengar suara perut yang berbunyi nyaring hingga terdengar ke telinga Revon. Seketika pipi Rose merona karena malu dengan perutnya yang sudah protes minta makan.


"Oke, karena kamu sudah kelaparan. Saatnya memakan chocolate moussenya. Tapi.. aku mau kamu terus bergerak. Dan aku akan menyuapimu. Kamu mengerti maksudku, kan?" Ujar Revon sambil membawa piring yang berisi kue kesukaan Rose itu.


Lelaki itu tidak ingin menghentikan aktivitas sebelumnya. Dia masih merindukan Rose, rindu merasakan tubuhnya yang saling bersentuhan dengannya. Bahkan saling menyatu.


Perlahan Rose memberi jarak antara tubuhnya dan tubuh lelaki itu agar dia bisa memandangi wajah tampan Revon dengan leluasa.


Rose mengecup bibir Revon dan mulai menggerakkan pinggulnya. Revon ingin membalas kecupan itu agar menjadi ciuman panas.


Tapi benda di tangannya membuatnya mengurungkan niat dan mulai menyendokkan kue itu.


"Haah.. Aku sangat ingin melahap habis bibirmu. Tapi sepertinya bibirmu lebih membutuhkan makanan." Ujar Revon dengan smirknya.


Nafas Revon tidak beraturan, dan sesekali dia mengeratkan rahangnya.


Satu suapan kue berhasil mendarat di mulut wanita itu. Melihat Rose yang sangat menikmati kuenya, membuat sesuatu yang dibawah sana semakin mengeras.


"Oh God! Rose...Hmm.." Desah Revon dengan mata yang terpejam.


Rose sengaja menggerakkan pinggulnya dengan sangat pelan seolah sedang menikmati sensasi kue yang ada di mulutnya juga sensasi nikmat dan basah di bawah sana.


"Apa kamu sengaja membuatku semakin gila?" Ujar Revon dengan nada lirih dan alis yang berkerut.


"Aku tidak mengerti maksudmu." Jawab Rose dengan tatapan bertanya.


"Kamu... bergerak pelan seperti ini. ****!"


"Ini termasuk reward yang aku berikan kepadamu."


"Reward yang menyiksa." Ujar Revon dengan memejamkan mata dan garis tipis terbentuk di bibirnya.


Sedikit demi sedikit kue yang berada di piring sudah habis. Suapan terakhir yang mendarat di bibir Rose membuatnya tersenyum karena senang. Setelah selang beberapa saat Rose kembali menjawab perkataan Revon.


"Menyiksa? Apakah ini termasuk menyiksa?" Ujar Rose sambil menjilat sisa coklat yang menempel di bibirnya.


Seketika pandangan Revon tertuju pada bibir yang masih terdapat sedikit coklat itu. Meletakkan kembali piring ke meja, dia lalu mengangkat tubuh Rose yang berada di atasnya.


Disaat itulah Revon mengambil alih pergelutan. Dengan lihai dia berjalan ke shower dan menghimpit tubuh Rose diantara tubuhnya dan dinding. Mencium, mengusap dan menggigit lelaki itu lakukan dengan sensual.


"Kamu sengaja memancingku, hmm? Selamat, kamu berhasil, bae." Bisik Revon di telinga Rose.


Revon menyalakan shower, membuat air dingin dan segar meluncur bebas ke tubuh mereka. Bibir kemerahan lelaki itu pun mencium bibir Rose dengan penuh hasrat.


Ciuman itu semakin turun hingga ke leher jenjang Rose.


"Nikmati pelayanan dariku, bae." Ujar Revon dengan smirknya.


Perlahan dia memasukkan kembali juniornya. Dengan ritme awal yang pelan, hingga berubah menjadi cepat.


"Aahh.. Revon.." Desah Rose dengan mata yang terpejam.


"I love you, Rose." Ujar Revon dengan lembut.


Mereka pun mencapai puncak kenikmatan dengan tubuh yang masih berada di bawah guyuran air.


Dengan sigap, Revon menurunkan tubuh Rose dan mulai membersihkan tubuhnya dengan sabun beraroma lavender.


"Setelah mandi kamu harus istirahat. Jangan memikirkan apapun dan jangan melakukan apapun." Ujar Revon.


"Bagaimana dengan Robert dan Erica? Kita harus menyelamatkan mereka." Ujar Rose dengan alis yang berkerut tidak suka.


"Serahkan padaku. Kamu tidak perlu ikut memikirkan ini. Aku tidak ingin kamu dalam bahaya lagi." Ujar Revon dengan tegas.


"Bagaimana bisa aku tidak memikirkan mereka? Aku yang memberitahumu bahwa mereka dalam bahaya, tapi aku malah disini dan tidak menolong mereka...."


"Stop! Aku tidak ingin bertengkar denganmu." Ujar Revon dengan nada memperingatkan.


Rose terdiam dan menatap tajam ke arah Revon. Setelah itu mereka menyelesaikan ritual membersihkan tubuh tanpa ada yang berbicara lagi.