
Di Club
Rose POV
Aku harus membuatnya mabuk.
"Bagaimana kalau kita bermain siapa yang minum lebih banyak akan menang?" Ujarku dengan mengajak Stevan duduk di depan meja bartender.
"Apa kamu yakin ingin bermain itu? Aku tidak mudah mabuk. Tapi bagaimana denganmu?" Jawab Stevan dengan nada tertarik.
"Sudahlah. Aku hanya ingin melupakan semua masalah dan bersenang-senang malam ini. So, Take it or leave it?" Ujarku dengan smirk.
"I'll take it." Jawab Stevan dengan tersenyum.
Okay. Tetap tenang Rose. Dan usahakan untuk tetap sadar nanti. Pikirku menyemangati diri sendiri.
Aku memesan bir dan meminta bartender menyiapkan beberapa di meja.
"Minuman sudah siap. Let's start now." Ujarku dengan tersenyum.
Stevan mulai meminum gelas pertamanya hingga habis. Lalu aku tidak mau kalah dan mulai minum juga
Beberapa menit kemudian, kepalaku mulai berputar dan tubuhku terasa ringan seperti tanpa beban. Aku melihat Stevan yang masih lanjut minum.
Suara musik di lantai dansa terdengar menarik di telingaku. Aku berdiri dan berjalan ke lantai dansa. Alunan musik membuatku menggerakkan badan sesuai ritme. Aku memejamkan mata dan menikmati alunan musiknya.
Rasanya sangat nikmat. Semua beban pikiranku hilang, hanya ada suara musik yang mengalun sekarang. Senyumku pun mengembang.
Saat membuka kedua mataku, samar-samar aku melihat Revon berdiri di depanku. Tanpa membuang waktu aku mendekat kepadanya dan memeluk lehernya.
Aku bisa merasakan lengannya yang merengkuh pinggangku agar mendekat. Membuat tubuhku benar-benar menempel dengannya.
Tiba-tiba dia menciumku dan aku pun membalas ciumannya sambil memejamkan mata. Setelah merasa kehabisan nafas, aku menghentikan ciumannya.
Aku tersenyum senang dan membuka mataku. Namun mataku membelalak seketika melihat bukan Revon yang ada di depanku melainkan.... Stevan.
Tidak. Ini tidak mungkin terjadi. Pikirku menolak kejadian baru saja.
Dengan cepat aku mendorong lelaki itu menjauh dan berjalan pergi menuju pintu keluar. Sialnya, aku baru tahu kalau sedang hujan di luar. Tanpa berpikir, aku melangkahkan kaki menjauh dari club di bawah guyuran hujan.
Aku memeluk tubuhku sambil berjalan entah kemana. Aku sama sekali tidak pernah ke daerah sini. Ditambah guyuran air hujan terasa sangat dingin hingga ke tulang membuat kepalaku menjadi pusing.
Aku mendengar suara seseorang memanggilku, tapi aku tidak menghiraukannya. Itu pasti Stevan yang memanggil dan aku tidak mau bertemu dengannya.
Tiba-tiba seseorang yang memanggilku tadi berdiri di depanku membawa payung. Aku menaikkan pandanganku, dan ternyata itu adalah Alex.
Aku melihat dia sedang mengatakan sesuatu, tapi aku tidak bisa mendengarnya karena kesadaranku mulai menghilang dan kegelapan menyambutku.
•••
Di rumah Alex
Terlihat seorang wanita sedang terlelap di ranjang. Karena sinar matahari yang masuk, dia terbangun dan mengerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya.
Dia melihat sekelilingnya. Dinding putih, perabotan yang minim dan interior yang minimalis.
"Dimana ini?" Tanya Rose pada dirinya.
Cklek. Terdengar suara pintu terbuka.
Dia melihat Alex menghampirinya dengan membawa nampan makanan. Seketika wajahnya panik dan melihat tubuhnya.
"Gaunku? Apa yang sudah kamu lakukan padaku?" Teriak Rose panik.
"Whoaa. Calm down. Aku bisa jelaskan." Jawab Alex sambil menaruh nampan di meja.
"Jangan bilang......" Ujar Rose dengan panik.
"Tidak. Kita tidak melakukan itu. Jadi tetap tenang, okay? Pasti kepalamu masih pusing kan?" Ujar Alex yang mengambil kursi dan duduk di samping ranjang.
"Kamar mandi ada di sana." Jawab Alex dengan menunjuk pintu di sebelah kanannya.
Rose secepat mungkin bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Setelah cukup memuntahkan seluruh isi perutnya, dia kembali menghampiri Alex.
"Minum ini dulu untuk meredakan hangovermu." Ujar Alex.
Rose menerimanya dan meminum obat itu.
"Kamu bisa menjelaskan sekarang." Ujar Rose setelah duduk di ranjang.
"Makan dulu, baru aku jelaskan." Jawab Alex dengan tegas.
"Aku tidak mau makan sebelum kamu jelaskan." Ujar Rose keras kepala.
"Fine. Aku jelaskan sambil kamu makan, okay?" Ujar Alex dengan memberikan sepiring pancake coklat.
Rose menatapnya kesal namun tetap menuruti perkataannya.
"Semalam saat aku melewati jalan xxx tanpa sengaja aku melihat wanita mirip denganmu berjalan di tengah hujan. Jadi aku berpikir mungkin itu kamu. Aku coba memanggilmu berulang kali, tapi kamu tidak berhenti ataupun menoleh sedikitpun. Lalu karena masih penasaran, aku turun membawa payung dan menghampirimu. Tepat setelah itu kamu pingsan." Ujar Alex.
"Lalu, siapa yang mengganti gaunku?" Tanya Rose.
"Adik perempuan temanku yang menggantikannya. Dia sedang menginap disini. Ah, ya. Gaunmu akan kering sebentar lagi. Jadi kamu bisa beristirahat dulu disini." Ujar Alex dengan senyuman.
"Kamu tidak bohong kan? dimana dia sekarang?" Ujar Rose dengan memicingkan mata.
"Fine. Aku akan memanggilnya." Ujar Alex lalu mengirim pesan ke ponsel dia.
Selang beberapa detik, seorang gadis berumur 17 tahunan dengan rambut blonde lurus pun datang.
"Hai. Kamu sudah bangun rupanya. Aku Ariana Steve." Ujar gadis itu dengan ramah.
"Hai. Aku Roseline Mint. Terimakasih sudah menggantikan bajuku." Ujar Rose ramah.
"You're welcome." Jawabnya lalu pamit pergi.
"Kenapa semalam kamu berjalan sendirian di tengah hujan?" Tanya Alex penasaran.
"Bukan urusanmu."Jawab Rose singkat. Dia sudah selesai makan.
"Okay aku tidak memaksa. Kalau begitu aku pergi dulu." Ujar Alex yang tidak dijawab oleh Rose.
Setelah melihat Alex keluar. Pikiran Rose kembali kalut.
"Damn. Jadi semalam bukan mimpi? Aku mencium Stevan." Gumam Rose.
Setelah gaun Rose kering, Ariana mengantarkannya tadi siang. Dia berterimakasih dan segera bersiap untuk pulang.
Merapikan semua barangnya lalu berjalan keluar kamar. Saat menuruni tangga dia bertemu Alex di ruang tamu.
"Kamu sudah mau pulang?" Tanya Alex.
"Ya. Kamu tidak perlu mengantarku. Aku akan memesan taksi." Ujar Rose lalu berjalan keluar.
Saat membuka pintu, dia berhenti melangkah karena melihat beberapa lelaki sedang bertarung di halaman.
"Biar aku antar. Ayo ikut aku." Ujar Alex yang entah sejak kapan ada di samping Rose.
Rose pun mengikuti lelaki itu berjalan ke arah halaman. Mereka yang bertarung sejenak berhenti dan memandang ke arahnya.
"Wow. Bos, she's beautiful." Ujar salah satu lelaki dengan tubuh tinggi dan kekar.
Alex tidak menjawab dan hanya menatap tajam kepada mereka semua. Mereka terlihat bungkam seketika.
Alex dan Rose pun kembali berjalan menuju mobil dan segera pergi dari sana.