My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 82 - they are coming



Rose tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Revon. Tangan Rose menangkup wajah Revon dan menatap lekat netra kehitaman milik Revon. "Katakan, kenapa kamu berkata seperti itu? Revon, dulu … kamu pernah mengatakan ingin hidup denganku, bersama anak-anak kita."


"Bae, aku … aku hanya … aku tidak ingin kehilanganmu," ucap Revon.


"Kamu tidak akan kehilanganku. Apa sebenarnya yang kamu takutkan? Katakan, Revon!" desak Rose.


Revon mengeratkan rahangnya dan menutup matanya. Dia berusaha agar emosinya tetap terkontrol dan tidak membuat warna netranya berubah. Saat menyadari Rose yang berada didekatnya, Revon segera memeluk Rose dan menenggelamkan wajahnya di leher Rose. 


"Revon? Kamu belum men—"


"Ssstt. Biarkan aku seperti ini, sebentar saja."


"Kamu harus menceritakannya kepadaku. Kamu tahu, memiliki anak adalah impian setiap wanita yang sudah menikah. Dan aku menginginkan anak darimu," jelas Rose.


Revon menatap mata Rose. "Kita bicarakan ini nanti. Sekarang, nikmati pesta ini. Okay?" 


Rose melepas pelukan Revon dan menjauh. Wanita itu menatap danau yang berada di sisi hotel. Rose terlihat kesal karena Revon yang menunda untuk memberikan jawaban.


"Bae? Please, jangan seperti ini. Aku pasti akan menceritakan semuanya nanti," ucap Revon.


Revon memeluk Rose dari belakang. Lelaki itu mengecup kulit Rose yang tidak tertutupi oleh gaun pengantinnya. Dari bahu perlahan naik ke leher jenjang Rose. Revon melakukan aksinya dengan lancar, ditambah lagi rambut Rose yang tertata rapi ala Messy Bun. 


"Janji?" lirih Rose tanpa menoleh ke arah Revon.


"Aku berjanji dengan seluruh jiwa ragaku. Sekarang, kita harus kembali ke acara sebelum orang-orang mengira aku sedang memakanmu," jawab Revon. 


Revon masih menciumi leher Rose dan memeluk tubuh Rose erat. Rose menjauhkan lehernya lalu menatap Revon. "Kamu ingin kembali ke acara atau kamu ingin memakanku, huh?"


Revon tersenyum manis. Dengan mudahnya Revon memutar tubuh Rose agar tubuh mereka saling berhadapan. Revon menangkup wajah Rose lalu mencium bibir kemerahan milik istrinya itu. Ciuman yang lembut dan intens.


"Aku ingin sekali mengusir semua tamu agar acara ini selesai," ungkap Revon dengan suara serak.


"Kamu sendiri yang menyusun acara ini. Seharusnya kamu percepat acaranya," ucap Rose sambil bercermin di salah satu kaca yang menjadi hiasan dinding.


Wanita itu memperbaiki penampilannya yang terlihat berantakan. "Kamu merusak riasanku."


"Aku bisa apa? Kamu terlalu cantik untuk diabaikan," goda Revon.


Rose memukul lengan Revon sebelum menggandeng lelaki itu untuk berjalan kembali ke arah ballroom tempat acara resepsi.


•••


"Oh lihatlah, bahkan sebelum acara selesai kalian sudah saling bercinta, huh?" sindir lelaki bergaya urakan yang baru datang bersama wanita.


Revon menampilkan smirknya kepada lelaki itu. Sedangkan Rose bersemu merah mendengar ucapan lelaki itu.


"Aku tahu kamu iri, Alex. Jadi, aku tidak akan peduli dengan ucapanmu," balas Revon.


"Teresa. Apa kalian … ?" tanya Rose kepada wanita disamping Alex.


"No. Aku hanya menjadi pasangannya untuk datang kesini. Aku tidak tahan mendengar ocehannya setiap hari," terang Teresa dengan melirik Alex.


Alex menatap Teresa dengan senyum jahil. "Aku berinisiatif untuk datang denganmu, karena aku tahu kamu ingin datang ke acara ini denganku tapi kamu terlalu malu untuk mengajakku."


"Revon? Bisa kita usir saja lelaki bodoh ini?!" bisik Teresa.


"Aku tidak keberatan jika dia memberikan sedikit pertunjukan," balas Revon.


"Kamu tidak tahu seberapa besar keinginanku untuk mengacau. Tapi, aku tidak suka melihat Rose sedih nantinya," canda Alex.


Rose memutar mata mendengar candaan Alex. Namun, Revon sepertinya tidak menganggap itu candaan. Jika tatapan bisa membunuh orang, mungkin sekarang Alex sudah terkapar di lantai akibat tatapan tajam Revon.


Rose pun mencoba mengalihkan pembicaraan. "Dimana Aston dan Erica? Mereka tidak datang kesini?" 


Teresa tersenyum. "Mereka sedang dalam perjalanan, Aston cukup sibuk mengurus berkas untuk pindah sekolah. Maka dari itu mereka terlambat." 


"Ah, aku senang kalian bisa kembali ke Paris," ungkap Rose.


Setelah perbincangan itu, tidak lama kemudian Erica dan Aston datang. Mereka tampak sangat tergesa-gesa, namun saat mendekat ke arah kedua pengantin mereka memperlambat langkahnya dan tersenyum.


Erica segera memeluk Rose dengan cukup erat. "It's okay. Yang penting kalian datang." 


Setelah melepas pelukannya, Erica tersenyum kepada Revon.


"Akhirnya aku bisa melihat kalian menikah," goda Erica kepada Rose.


"Hentikan itu Erica. Kamu terdengar seperti ibu-ibu yang melihat anaknya menikah," balas Alex dengan wajah menyebalkan.


"Aku tidak bicara denganmu," kesal Erica.


Alex dan Erica saling menatap tajam, lalu Aston berusaha memisahkan kakaknya dari Alex. Aston berdiri diantara Alex dan Erica. "Aku sudah cukup kesal karena jetlag."


Mendengar itu, Erica segera berbalik menjauh dari Alex dan pergi berkeliling mencari makanan.


"Happy wedding, Mr. Dent and Mrs. Dent," ucap Aston kepada Revon dan Rose.


"Thanks, Aston. Aku sudah menyewa kamar atas nama kalian, jadi setelah acara, kalian bisa menginap beberapa hari disini," terang Revon.


Aston dan Teresa pun mengucapkan terima kasihnya. Sementara Alex hanya mengangguk lalu berjalan menjauh. 


Setelah berbincang beberapa menit, Aston dan Teresa pun pamit untuk pergi berkeliling area hotel. Kini kedua mempelai pengantin itu pun berbincang dengan beberapa tamu lainnya.


•••


Disisi lain hotel, Robert sedang berbicara dengan beberapa penjaga yang merupakan vampir yang sudah terlatih. Robert sedang mengecek laporan dari beberapa penjaga itu. Setelah memastikan semuanya aman dan terkendali, Robert pun membiarkan mereka kembali ke posisi masing-masing.


 


Saat akan pergi untuk kembali ke acara, Robert melihat Erica yang berjalan kurang hati-hati. Seorang pelayan yang membawa minuman tertabrak oleh Erica, Robert segera berlari dan melindungi Erica tepat sebelum gelas berisi minuman yang dibawa pelayan jatuh mengenai tubuh wanita itu. 


Pyaar


Pyaar


Pyaar


Gelas-gelas berjatuhan ke lantai. Erica merasa terkejut hingga menutup mata. Karena merasakan hembusan nafas seseorang yang berada di wajahnya, Erica perlahan membuka mata.


"Kamu harus berhati-hati saat berjalan memakai gaun," pinta Robert. Lelaki itu menatap Erica dengan intens.


"Ehmm … sorry," lirih Erica.


Selang beberapa detik, Robert membantu Erica berdiri lalu meminta pelayan untuk membersihkan pecahan gelas di lantai. Erica melihat jas yang dipakai Robert basah karena tumpahan minuman. "Robert, jasmu menjadi basah. Eh … maafkan aku. Berikan jasmu, biar aku bersihkan." 


"It's okay. Kamu tidak perlu membersihkannya. Aku membawa jas lain di mobil," jelas Robert. Lelaki itu segera beranjak menuju ke tempat parkir mobil untuk mengambil jas.


Erica yang masih merasa bersalah tetap memaksa ingin membersihkan jas Robert. Erica mengikuti Robert hingga ke mobil. "Erica, kamu tidak perlu membersihkannya. Aku akan membawanya ke laundry besok."


"Berikan padaku jas itu. Aku merasa bertanggung jawab karena kamu sudah menolongku," paksa Erica. 


Robert tersenyum sambil bersandar ke badan mobil. Lelaki itu menatap Erica dari atas hingga ke bawah. "Kamu harus memakai sesuatu yang kamu suka dan kamu nyaman memakainya. Hanya melihatmu saja, aku tahu kamu tidak nyaman dengan gaun itu."


"Hey! Apa kamu pikir aku tidak bisa memakai gaun? Aku memilih gaun terbaik di butik itu," kesal Erica.


"Aku tidak mengatakan kamu tidak bisa memakai gaun. Kamu bisa memilih gaun yang kamu suka dan nyaman memakainya. Bukan hanya karena gaun itu adalah gaun terbaik di butik itu. Oke, aku tidak bisa berlama-lama diluar. Aku harus segera kembali ke acara," jelas Robert. 


Lelaki itu pun membuka bagasi mobil untuk mengambil jas. Setelah memakai jas yang bersih, Robert berniat untuk menyimpan jas kotornya. Namun tepat sebelum dia menyentuh jas itu, Erica tiba-tiba menarik tangan Robert agar menghadap dirinya. Tanpa diduga oleh Robert, Erica mendaratkan bibirnya tepat di bibir Robert.


Robert terdiam karena terkejut oleh kejadian itu. Tapi keterkejutannya tidak sampai disitu, Robert bisa merasakan Erica ******* bibirnya. Meminta untuk membalas ciumannya.


Tanpa membuang waktu, Robert membalas ciuman Erica dengan lembut. Waktu terasa berhenti, dan hampir membuat mereka terlena. Setelah puas dengan ciuman mereka, Erica seketika merasa malu bukan main. Wanita itu perlahan menjauh tanpa berani menatap mata Robert. Dengan cepat Erica meraih jas kotor milik Robert lalu berjalan cepat memasuki area hotel. 


"Aku akan mengembalikannya setelah bersih," teriak Erica sedikit menoleh kebelakang.


Robert mengusap wajahnya kasar lalu tersenyum lebar. "Oh, girl! You already lit the fire."