My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 22 - Playing with fire



Setelah Rose selesai bersiap, dia menghampiri Revon yang sedang duduk di sofa, fokus dengan ponselnya.


Untuk menarik perhatian lelaki itu, Rose sedikit berdehem.


"Eheem.. hem.."


Revon pun menengok ke sumber suara dan tersenyum melihat Rose.



"Kamu sangat cantik, bae." Ujar Revon lalu memeluk pinggang Rose.


"Benarkah? Aku rasa wanita yang kemarin menemuimu lebih cantik dariku." Jawab Rose sambil mengangkat satu alisnya. Dia menjauh dari Revon berjalan keluar kamar.


"Itu hanya pendapatmu. Bukan pendapatku. Dan dimataku hanya kamu wanita yang tercantik." Ujar Revon dengan tenang. Lelaki itu sudah berada di samping Rose dan merangkul pinggangnya.


Mereka berjalan keluar rumah dan bertemu Robert di halaman. Asisten itu memberikan kunci mobil ke Revon membuat Rose menatapnya heran karena tidak biasanya lelaki itu akan menyetir mobil sendiri.


"Kamu yang akan menyetir mobil?" Tanya Rose tiba-tiba.


"Yes." Jawab Revon singkat sambil menaikkan satu alisnya.


"Apa kamu sudah benar-benar pulih? " Tanya Rose dengan cemas.


"Tidak perlu cemas, bae. Aku sudah benar-benar pulih." Jawab Revon sambil membukakan pintu untuk Rose.


Setelah wanita itu masuk, kemudian Revon pun ikut masuk juga di kursi pengemudi.



Mereka pun mulai pergi meninggalkan rumah. Dalam perjalanan, Rose melihat pemandangan laut yang indah.


"Jadi di mana kita sebenarnya?" Tanya Rose ketika melihat sekitar yang terbentang lautan biru.


"Brittany. Kamu pasti hanya tahu Paris, kan?" Jawab Revon dengan smirknya.


"Ya. Melihat pantai, membuatku ingin berenang dan bermain pasir." Ujar Rose dengan melihat keluar jendela.


"Kita akan kembali lagi ke sini, bae. Jadi kamu bisa kapan saja ke pantai." Jawab Revon dengan tersenyum lalu mencium tangan Rose yang ada di genggamannya.


Setelah beberapa menit, ternyata Revon menghentikan mobilnya di Airport. Sebuah pesawat jet terparkir di sana dan siap untuk lepas landas.


"Jangan bilang..." Ujar Rose sambil menatap Revon.


"Kamu pikir aku akan menyetir selama 4 jam lebih? No way!" Ujar Revon dengan smirknya.


Lelaki itu turun dan membukakan pintu mobil untuk Rose.


"Vas-y, Ma Rose (Silahkan, Roseku)" Ujar Revon dengan Bahasa Perancisnya. Tangannya terulur ke depan untuk membantu Rose turun.


"Merci, ma chère (Terimakasih, sayangku)" Jawab Rose dan menerima uluran tangan Revon dengan senang hati.


Saat ini Revon sedang berbicara kepada seorang lelaki dan memintanya membawa mobilnya kembali ke rumah.


Setelah itu dia menggandeng tangan Rose menuju ke pesawat. Seketika Pilot, Co-Pilot dan 2 Pramugari menyambut mereka.


"Selamat Siang Mr. Dent dan Mrs. Dent. Kami akan menemani perjalanan anda kali ini. Dari Brittany ke Paris." Ujar salah satu pramugari.


Mendengar nama Mrs. Dent membuat Rose membelalakkan mata dan pipinya merah merona. Dia melirik ke arah Revon, tapi lelaki itu terlihat tenang-tenang saja.


"Yes, thanks. Apa semua sudah siap?" Tanya Revon kepada Pilot.


"Semua sudah siap Mr. Dent. 10 menit lagi kita bisa lepas landas." Jawab Pilot dengan ramah.


"Good." Ujar Revon lalu menarik Rose masuk ke dalam pesawat.



Revon mengajak wanita itu duduk di sofa panjang. Namun sejak tadi Rose hanya terdiam dan terlihat sedang berpikir.


"Hey! Kamu terlihat sedang berpikir. Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Revon sambil menatap Rose sangat dekat.


Sebelum Rose sempat menjawab, seorang pramugari datang dengan senyum menggodanya.


"Hello, Mr. Dent. Apa ada sesuatu yang anda inginkan?" Tanya pramugari itu tanpa melihat ke Rose yang berada tepat di samping Revon.


"Kamu ingin sesuatu, bae?" Tanya Revon kepada Rose sambil memeluk pinggangnya erat.


Rose menampilkan smirknya kepada pramugari itu. Dengan sengaja Rose mengecup bibir Revon di depan dia.0⁰0


"Jus jeruk dan sandwich with extra cheese." Jawab Rose kepada Revon.


"Alright." Ujar Revon lalu menatap pramugari itu dengan wajah datar.


"Baiklah, Mr. Dent. Saya akan segera membawakan pesanan anda." Ujar pramugari yang masih mencoba menggoda Revon dengan sedikit menunduk.


Hal itu membuat bajunya sedikit terbuka dan menampilkan dadanya. Tapi sayang sekali Revon tidak melirik ke pramugari itu sedikitpun.


Degan raut wajah kesal, pramugari itu pergi dari hadapan mereka. Melihat itu Rose menjadi tertawa kecil.


"Apa yang lucu?" Tanya Revon dengan tatapan geli.


"Kamu tidak melihat raut wajahnya?" Tanya Rose balik dengan tertawa.


"Aku sudah sering mengabaikannya. Tapi dia masih saja seperti itu. Antara terlalu gigih atau terlalu bodoh?" Jawab Revon dengan mengangkat kedua bahu.


"Pfftt.. Aku harus berhenti tertawa sebelum dia kembali." Ujar Rose sambil berusaha menahan tawa.


"Aku suka melihatmu tertawa lepas." Ujar Revon dengan menatap wanita itu intens.


Lelaki itu semakin mendekat ke arah Rose dan membuat wanita itu menatapnya dengan mata terbelalak. Perlahan Revon membaringkannya di sofa yang empuk.


Pandangan mereka saling terkunci. Bibir Revon mulai mengecup bibir Rose dengan pelan. Akan tetapi tangan wanita itu mendorong Revon agar menjauh.


"Revon.. bagaimana kalau ada yang melihat?" Tanya Rose dengan cemas.


Namun lelaki itu tidak menjawab dan melanjutkan aksinya. Mencium rahangnya lalu turun ke lehernya. Aroma darah Rose membuat Revon ingin mencicipinya. Mungkin karena memang dia haus. Tanpa sadar, taringnya pun mulai memanjang.


"Shit!" Umpat Revon mencoba melupakan rasa hausnya yang muncul tiba-tiba.


Mendengar itu, Rose melirik Revon yang tiba-tiba menjadi tegang.


"Ada apa?" Tanya Rose yang berusaha menarik wajah Revon menjauh dari lehernya.


"Haus. Engghh... Tenggorokanku terasa terbakar." Jawab Revon dengan nafas yang tidak beraturan.


"Eh... kapan terakhir kamu minum darah?" Bisik Rose dengan cemas.


"Kemarin sore... mungkin..." Jawab Revon lalu menatap mata Rose.


Iris mata mata lelaki itu berwarna merah gelap dan gigi taringnya terlihat agak panjang.


Rose hanya menatap dia dan bingung harus bagaimana.


"Aku akan pergi sebentar." Ujar Revon dan bangkit dari sofa. Namun tangan Rose mencegahnya untuk pergi.


"Kamu mau kemana? Jangan bilang kamu ingin meminum darah salah satu pramugari itu." Ujar Rose dengan alis berkerut.


"Aku tidak punya pilihan, bae." Jawab Revon dengan gugup.


"Tidak. Aku tidak mengizinkanmu. Aku tidak mau kamu menyentuh wanita lain." Ujar Rose.


"Lalu kamu ingin aku meminum darah pilotnya? Don't be crazy, bae." Ujar Revon.


Rose terlihat berpikir keras, lalu tiba-tiba pramugari yang tadi datang mengantar pesanan.


Revon berpindah tempat duduk ke sisi lain pesawat, membelakangi mereka berdua.


"Ada lagi yang anda perlukan Mr. Dent?" Tanya pramugari setelah menaruh pesanan di meja dekat Rose duduk.


Selama beberapa menit pramugari itu menunggu jawaban, tapi Revon hanya diam. Akhirnya Rose berinisiatif untuk memintanya pergi.


"Anda bisa pergi nona. Kami tidak memerlukan apa-apa lagi." Ujar Rose dengan jelas.


Pramugari itu hanya menatapnya dan tidak menghiraukan perkataannya.


Sepertinya dia harus melakukan cara lain untuk mengusirnya. Dengan langkah panjang, Rose menghampiri Revon yang sedang duduk membelakangi pramugari itu.


Wanita itu naik ke pangkuan Revon dan menciumnya dengan intens. Tanpa dia sadari, itu semakin membuat Revon hilang kontrol.


Lelaki itu mencium Rose kembali dengan rakus. Seketika membuat pandangan wanita itu teralihkan dari pramugari tadi.


Sedangkan pramugari tadi menatap mereka dengan raut wajah tidak suka dan sangat kesal, lalu pergi dari hadapan mereka.


Detik selanjutnya tiba-tiba Rose sudah berada di kamar dengan Revon yang menciumi lehernya. Dia menahan tangan Rose diatas kepala dan menggoreskan taringnya ke leher wanita itu.


"Re.. Revon... " Ujar Rose dengan gugup bercampur takut.


Tapi lelaki itu terlihat tidak mendengarnya.


"Revon!" Ujar Rose dengan nada lebih keras.


Revon berhenti dan menatap mata Rose. Wanita itu terkejut melihat warna mata Revon yang kini menjadi hitam semua. Seketika jantungnya berdetak kencang.


"Kamu sudah menyulut api, Rose. I want you. All of you." Jawab Revon dengan tatapan yang intens.