My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 51 - Trauma?



Chapter sebelumnya


"Aku tidak akan melakukannya jika menjadi kamu. Jangan sampai kesabaranku habis, aku bisa saja melemparmu dari lantai 2 ini." Ujar Revon dengan rahang yang mengeras.


"Oh, aku sangat ketakutan." Ujar Alex dengan tersenyum.


"Aku tidak akan mempertemukanmu dengan Rose sebelum kamu lakukan permintaanku."


"Katakan! Dimana dia?!" Ujar Alex dengan kesal.


Dengan mudah Revon melepas cengkraman tangan Alex yang berada di kerah bajunya. Lalu dia menjauh hingga cukup untuk memberikan jarak antara keduanya.


"Keluar dari rumahku. Aku sudah muak dengan aroma tubuhmu."


Alex membenarkan jaket yang dia kenakan dan berbalik siap untuk keluar.


Braak!


Lagi-lagi dia menutup pintu dengan sangat keras. Kali ini lebih keras namun tidak sampai membuat pintu itu menjadi rusak atau hancur.


"Dia benar-benar merusak moodku. Sialan!" Ujar Revon dengan emosi.


Meraih botol wine di meja, tanpa berpikir dia melempar dengan kuat botol wine itu ke arah pintu. Seketika pecahan botol berserakan di lantai begitu pun cairan wine merah itu.


•••


Hari pun berganti malam. Sinar rembulan menerangi gelapnya malam dan rintik-rintik hujan mulai turun membasahi alam.


Setelah terbagun dari tidurnya sore tadi, Rose mendapati Revon duduk di sofa sedang meminum wine sambil membaca beberapa lembar kertas yang berserakan di meja.


Saat dia mendekati lelaki itu, Rose melihat isi tulisan itu adalah nama-nama tempat yang terlihat menyeramkan.


Rose yang penasaran pun mengeluarkan pertanyaan yang berada di pikirannya.


"Tempat apa ini?" Tanya Rose dengan pandangan yang masih tertuju pada kertas.


Tersadar jika Rose sedang mengamati kertas-kertas itu. Seketika Revon merapikan kertasnya dan menyimpannya di map.


"Bagaimana perasaanmu? Apa masih ada yang sakit?" Ujar Revon dengan lembut.


Rose pun mengerutkan alis tidak suka.


"Aku sudah tidak apa-apa. Mana kertasnya! Aku belum selesai membacanya, Revon." Ujar Rose yang mencoba mengambil map dari tangan Revon.


Tentu saja dengan lihai Revon menjauhkan map itu dari jangkauan Rose. Hal itu semakin membuat Rose kesal dan tidak sabar. Tapi Revon juga merasa kesal akan sesuatu. Bukan hanya rose yang kesal.


"Revon? Coba panggil aku sekali lagi?" Ujar Revon dengan satu alis terangkat.


"Berikan aku kertas itu." Ujar Rose.


Semakin Rose meminta kertas itu, semakin Revon menjauhkannya. Untuk mempermudah dirinya, Rose mendekat ke sisi tubuh Revon dan kembali meraih mapnya.


"Bae, kamu tidak perlu memikirkan apapun. Aku akan mengurus semuanya sampai Robert dan Erica ditemukan." Ujar Revon dengan tegas.


"Jadi, benar kamu sedang mencari tempat dimana Robert dan Erica berada? Aku ingin membaca kertas-kertas itu, mungkin saja aku ingat sesuatu yang bisa menjadi petunjuk kita menemukan Robert dan Erica."


"Tidak. Kamu harus istirahat hingga kamu benar-benar pulih. Aku juga tidak mau melibatkanmu dalam hal apapun yang berbahaya."


"Revon... Aku tidak..." Ujar Rose yang tiba-tiba dipotong oleh Revon.


"Kenapa kamu terus memanggil namaku? Apa tidak ada panggilan lain?" Ujar Revon dengan menatap Rose kesal.


"Maksudmu?"


Revon menutup mata dan tersenyum tipis. Sekejap lelaki itu menarik pinggang Rose hingga membuatnya terduduk di pangkuannya.


"Terlalu lama tertidur sepertinya kamu mulai melupakanku? Melupakan sedekat apa hubungan kita?" Ujar Revon sambil membuka mata dan menatap tajam wanita dihadapannya.


"Sudahlah Revon, ada yang lebih penting daripada pembahasan ini." Ujar Rose dengan nada dingin.


Tanpa sadar perkataan Rose membuat perasaan Revon tersulut. Bola matanya berubah menjadi hitam pekat.


"Jadi kamu menganggap hubungan kita tidak penting?" Ujar Revon dengan ekspresi datar.


Rose yang baru saja menyadari perubahan aura Revon membuatnya terdiam dan menciut. Lelaki itu terus menatap Rose menunggu jawaban. Setelah mengumpulkan keberanian akhirnya Rose mengeluarkan suara.


"Tidak.. bukan.. itu.." Ujar Rose dengan terbata-bata.


"Katakan dengan jelas!" Ujar Revon dengan suara agak tinggi.


Aura yang menakutkan dan bola mata hitam pekat membuat Rose terdiam. Suaranya kembali hilang entah kemana.


Selama beberapa detik Rose hanya menatap Revon, lalu selanjutnya pandangannya teralihkan ke jendela kamar yang menunjukkan pergantian waktu dari sore ke malam hari.


Dengan sedikit kasar Revon meraih dagu wanita itu agar kembali menatapnya. Pancaran ketakutan terlihat dari mata Rose membuat Revon menghembuskan nafas kasar.


"Apa kamu takut denganku?" Ujar Revon dengan nada datar.


Rose menatap mata lelaki itu yang seakan menariknya masuk. Dia menelan ludahnya dengan susah payah.


"Apa yang kamu takuti dariku? Aku bahkan tidak pernah memukulmu." Ujar Revon dengan frustasi.


"Hitam pekat.. Kegelapan.. Warna bola matamu... membuatku seakan tertarik kembali ke dalam kegelapan." Ujar Rose dengan lirih.


Mendengar itu Revon terdiam, bibirnya membentuk garis tipis. Segera dia menurunkan tubuh Rose dari pangkuannya dan berjalan keluar dari kamar tanpa menoleh.


Rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya membuat Rose menarik nafas dalam-dalam. Dia terduduk di sofa sambil memeluk kedua lututnya.


"Apa yang sudah aku katakan? Tidak. Aku tidak mungkin mengatakannya, kan?" Gumam Rose.


Suara rintik hujan memenuhi indra pendengaran. Semakin lama rintik hujan semakin deras. Malam ini hujan sepertinya akan berlangsung lama.