
Kamar Rose
Setelah bangun dari tidur, dia berulang kali mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa ini adalah kenyataan dan tadi adalah mimpi. Dia mencubit pipinya dan merasakan sakit di bekas cubitan itu.
Lalu dia juga mencoba membasuh wajahnya dengan air dingin berulang kali hingga dia benar-benar yakin kalau sekarang dia sedang tidak bermimpi.
Rose menghembuskan nafas lega. Namun pikirannya masih kalut.
"Apa aku harus ke psikiater?" Tanyanya pada diri sendiri.
Dia tertawa miris, tidak mungkin dia pergi ke psikiater dan bilang kalau dia selalu bermimpi buruk setelah membunuh seseorang.
"Hah! Aku butuh pengalihan. Syarat! Yah aku harus mulai mengerjakan itu." Ujar Rose lalu bergegas kembali ke kamar dan mengambil laptop.
Menghidupkan sistem dari benda persegi itu dan membuka aplikasi untuk mengetik.
...¤¤¤¤¤...
...SYARAT-SYARAT YANG HARUS DIPENUHI SELAMA MENJALIN HUBUNGAN KERJA...
Syarat-syarat ini ditujukan kepada Mr. Stevan Hallagar selama Ms. Roseline Mint bekerja sebagai Asisten Pribadi. Syarat-syarat ini tidak akan berlaku bila hubungan kerja antara keduanya sudah tidak berlanjut.
Ms. Roseline Mint bekerja sebagai Asisten Pribadi hanya pada hari dan jam kerja saja. (Hari senin- kamis jam kerja 8 a.m - 3 p.m).
Tidak ada kontak fisik yang berlebihan.
Tidak ada tindak kekerasan dalam bentuk apapun.
Tidak ada pemaksaan dan ancaman dalam bentuk apapun.
Tidak ikut campur dalam urusan pribadi.
Bila ditemukan tindakan yang melanggar dari syarat-syarat, maka Ms. Roseline Mint bisa berhenti dari pekerjaan.
Yang bertanda tangan,
CEO Firstin, Inc
Stevan Hallagar
.
Calon Asisten Pribadi
Roseline Mint
...¤¤¤¤¤...
Apa seperti ini sudah cukup melindungiku? Aku rasa sudah cukup. Tapi bagaimana kalau dia tidak setuju? Ah, sudahlah. Pikir Rose.
Akhirnya dia menyimpan file itu untuk nanti di cetak. Sementara dia bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
•••
Ruangan CEO
Rose mengetuk pintu ruangan namun tidak terdengar perkataan apapun yang mempersilahkan dia untuk masuk. Karena dia pikir tidak ada orang di dalam, Rose pun masuk ke ruangan.
Namun seketika dia kaget melihat pemandangan di depannya. Seorang wanita duduk di meja membelakanginya dengan baju yang setengah terbuka sementara Stevan yang berada di depan wanita itu sedang fokus menciumi tubuhnya.
"What the ****!" Teriak Rose spontan membuat Stevan menoleh.
Lelaki itu mengerjapkan mata beberapa kali sebelum menjauh dari tubuh wanita itu. Dia membantu wanita itu membenarkan bajunya dan mengatakan,
"Kita lanjutkan nanti" Ujar Stevan dengan mengedipkan satu mata.
Kemudian wanita itu berjalan ke arah pintu dan menatap Rose dengan pandangan tidak suka.
Yeah! Kamu sendiri yang bercumbu tanpa tahu tempat. Pikir Rose dan membalas menatapnya jijik.
"Jadi, ada apa kamu kesini?" Tanya Stevan setelah membereskan meja kembali.
Ewwh, aku tidak mau menyentuh meja bekas pantat wanita itu. Pikir Rose.
"Sesuai yang aku katakan kemarin. Aku ingin memberikan syarat-syarat yang harus kamu penuhi." Jawab Rose.
Dengan enggan, Rose berjalan mendekat dan duduk di hadapan Stevan tanpa menyentuh meja.
"Berikan padaku. Biar aku lihat" Ujar Stevan sambil menengadahkan tangan.
Rose memberikan map di tangannya kepada Stevan. Lelaki itu membukanya dan mulai membaca isi syaratnya.
"Kontak fisik yang berlebihan?" Tanya Stevan sambil memiringkan kepala.
"Yeah! You know what i mean, right?" Ujar Rose.
"No, i don't know what you mean. So, tell me." Jawab Stevan.
Yang benar saja? Apa dia pura-pura tidak tahu? Pikir Rose.
"Kontak fisik berlebihan seperti, ciuman, berpegangan tangan, berpelukan dan lainnya." Ujar Rose.
"Itu kamu sebut berlebihan?" Tanya Stevan dengan tatapan tertarik.
"Iya. Aku tidak mau ada yang melakukan hal itu kepadaku. Kecuali orang yang aku anggap spesial." Jawab Rose dengan serius.
"Orang spesial? Seperti Revon?" Ujar Stevan dengan menaikkan satu alisnya.
"Ya." Ujar Rose singkat. Dia merasa risih ketika Stevan menyebut nama Revon.
"Tapi .. dia sudah mati, kan?" Ujar Stevan.
Rose baru sadar akan satu hal.
Kenapa dia tahu kalau Revon mati? Ini semakin menguatkan kalau dia ada keterkaitannya dengan semua ini. Pikir Rose.
"Bagaimana kamu tahu kalau dia sudah mati? Mungkin saja dia masih hidup." Ujar Rose dengan tenang.
"Heh. Dia sudah mati, aku yakin akan hal itu. Karena…" Ujar Stevan yang tiba-tiba berhenti.
Shit! Wanita ini mencoba memancingku. Hampir saja aku mengatakannya. Pikir Stevan.
"Karena dia tidak muncul hingga sekarang. Iya, kan?" Ujar Stevan.
"Sepertinya kamu tadi ingin mengatakan sesuatu yang lain." Ujar Rose dengan menatapnya tajam.
"Benarkah? Aku rasa tidak." Jawab Stevan dengan smirknya.
"Hanya ini syaratnya?" Ujar Stevan mengalihkan pembicaraan.
"Satu lagi. Tidak ada bercumbu di kantor." Ujar Rose dengan tegas.
"Untuk yang satu ini aku tidak setuju." Ujar Stevan dengan kedua alis naik.
"Kenapa tidak?" Tanya Rose kesal.
"Kamu tulis disini "Tidak ikut campur urusan pribadi" aku juga akan menerapkan ini kepadamu. Jangan ikut campur urusan pribadiku dan bercumbu termasuk dalam urusan pribadiku." Ujar Stevan dengan tenang.
"Lalu kamu ingin membuatku menonton adegan seperti ini terus? Menjijikkan." Ujar Rose dengan alis berkerut tidak suka.
"Kamu bisa menutup matamu, kan?" Ujar Stevan dengan mudahnya.
"Kalau begitu jangan salahkan aku jika suatu hari aku menumpahkan kopi ke wajah wanita itu atau ke wajahmu mungkin." Jawab Rose dengan nada sinis.
"Haha. Lucu sekali." Ujar Stevan dengan tertawa yang dibuat-buat.
"Aku tanda tangani ini dan kamu ambil semua dokumen yang ada di atas sofa." Ujar Stevan sambil menunjuk ke sofa.
Rose pun menoleh dan disana bertumpuk-tumpuk dokumen menunggu untuk dikerjakan.
"You gotta be kidding me." Ujar Rose.
Sementara Stevan hanya mengangkat bahu tidak peduli.
"Aku tidak mau mengerjakan semuanya sendiri. Aku akan mengambilnya sebagian saja." Ujar Rose dengan tegas.
"Terserah. Yang pasti aku tidak akan mengerjakan itu. Kalau begitu aku pergi dulu." Ujar Stevan lalu beranjak dari kursinya.
"Mau ke mana kamu?" Tanya Rose. Sambil mencegatnya di depan pintu.
"Aku ingin bersenang-senang. Minggir" Ujar Stevan.
"Kamu tidak bisa pergi seenaknya. Ini masih jam kerja." Ujar Rose dengan nada tinggi.
"Aku CEO nya. Aku bisa melakukan apapun sesukaku. Sudahlah minggir" Ujar Stevan lalu mendorong Rose.
Wanita itu sempat limbung tapi dia berhasil berdiri tegak kembali. Dia melihat Stevan sudah menghilang di balik pintu.
"He's such an *******." Ujar Rose dengan sangat kesal.
•••
Hai guys👋
Tahun baruan nih.
Ada yang mau nitip QnA buat Revon atau Rose??
nanti di jawab di chapter selanjutnya, 😊😊
Selamat Tahun Baru 2021❤