
Revon menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya dengan perasaan senang. Bibirnya membentuk senyuman yang membuatnya semakin terlihat tampan.
Setelah sampai di depan kamarnya, lelaki itu membuka pintu dengan pelan.
Cklek.
Revon memasuki kamarnya, pandangannya mencari-cari sosok wanita yang dia cintai itu. Namun lelaki itu tidak menemukannya.
Hingga suara gemericik air dari arah kamar mandi terdengar di telinga Revon. Dengan perlahan dia membuka pintu kamar mandi dan melihat ke arah bathub.
Di dalam bathub itu, Rose berendam dalam air yang dipenuhi busa dan aroma lavender memenuhi seluruh kamar mandi.
Rose terlihat memejamkan mata dengan dua iris mentimun di atas kelopak mata yang terpejam itu. Pemandangan yang terlihat lucu bagi Revon.
Revon melepas sepatu kets hitam yang dia pakai, lalu membiarkan kakinya berjalan tanpa alas kaki.
"Sejak kapan kamu berada di dalam sana?" Tanya Revon secara tiba-tiba. Lelaki itu bersandar di wastafel yang menghadap ke arah bathub tempat Rose berendam. Kedua tangannya terselip di kedua saku celananya.
Sontak hal itu membuat Rose terkejut bukan main. Wanita itu menegakkan posisi duduknya hingga dua iris mentimun jatuh ke dalam air berendamnya.
Dan lagi, garis air yang ada di dalam bathub hanya sebatas ketiak saja. Sedikit lagi bergerak, maka tubuh bagian atas Rose akan terpampang dengan jelas.
"Oh My God! Kamu mengejutkanku. Sejak kapan kamu berada di sini?" Tanya Rose kembali.
"Aku lebih dulu memberikan pertanyaan kepadamu. Jadi kamu jawab pertanyaanku, lalu aku akan menjawab pertanyaanmu." Ujar Revon.
"Baiklah. Aku baru saja berendam sekitar 1 menit yang lalu." Jawab Rose.
"Jangan terlalu lama berendam. Aku tidak ingin kamu sakit." Ujar Revon lalu mendekat ke arah Rose.
Revon melirik tubuh Rose saat wanita itu membenarkan posisi duduknya menjadi nyaman seperti sebelumnya. Menyandarkan punggungnya ke bathub.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku." Rose bersuara dengan lirih. Tenggorokannya terasa kering karena haus.
"Aku baru saja datang. Apa kamu haus?" Ujar Revon dengan pandangan menyelidik.
Rose menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Revon. Lalu dengan segera dia mengambilkan segelas air yang tersedia di atas meja kamar. Melihat sebotol wine di meja yang sama membuat Revon membawa juga wine itu ke kamar mandi.
"Thanks." Ujar Rose menerima segelas air dari Revon.
Revon hanya tersenyum manis menanggapinya. Setelah itu Revon meminum wine yang turut dia bawa tadi.
"Apa kamu sudah mendapatkan persediaan darahnya?" Tanya Rose.
"Ya. Itu hal mudah bagiku." Jawab Revon.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"
"Hmm… Aku hanya ingin di sini. Aku ingin menagih yang tadi. Kamu ingat, kan?" Ujar Revon dengan santainya.
Seketika pipi Rose merona mengingat arah pembicaraan Revon yang tadi sebelum dia pergi ke rumah sakit.
"Tapi kita baru saja melakukannya sore ini." Ujar Rose dengan lirih.
"Jadi kamu menolak?" Tanya Revon dengan mengangkat satu alisnya.
Rose terlihat diam dan hanya memandangi wajah Revon.
"Tidak apa, Bae. Kita akan melakukannya lain kali." Jawab Revon dengan senyuman tulusnya.
Setelah itu Revon menawarkan bantuan untuk membantu wanita itu membersihkan rambutnya. Rose menerima tawaran itu dan membiarkan Revon memijat kepalanya dengan lembut.
Revon memakaikan bathrobnya lalu mengeringkan rambut Rose dengan handuk perlahan. Itu membuat wajah mereka berada sangat dekat satu sama lain.
Tanpa aba-aba, Rose sedikit berjinjit dan mencium bibir Revon. Lelaki itu dengan senang hati membalas ciuman Rose.
Setelah cukup lama, Rose mengakhiri ciumannya karena kehabisan nafas. Tanpa sadar, tangan Revon sudah memeluk pinggang wanita itu dengan cukup erat.
"Apa maumu sebenarnya, Bae?" Tanya Revon dengan alis berkerut. Dia merasa Rose sedang memancingnya.
"Aku hanya ingin menciummu." Jawab Rose dengan tatapan pura-pura polosnya.
"Kamu sengaja ingin memancingku, kan?" Tanya Revon dengan menampilkan smirknya.
"Tentu saja tidak." Jawab Rose cepat.
Lalu wanita itu mendorong tubuh Revon untuk memberikan jarak antar mereka. Revon mendengus keras, "Haah."
"Aku lapar. Aku rindu makanan di Paris." Ujar Rose sambil berlalu keluar dari kamar mandi. Revon mengikutinya dari belakang.
"Benarkah kamu rindu makanan di Paris?"
"Ya, makanan di Restaurant tempat kita berkencan itu sangat enak. Aku ingin kesana lagi."
"Kita akan pergi kesana lagi, Bae. Aku akan mengatur semuanya. Tentu setelah Robert dan Erica menerima perawatan dari dokter yang dibawa Alex."
"Btw, apa Alex belum ada kabar?" Tanya Rose.
"Dia belum menghubungiku ataupun Aston. Aku akan coba menanyakan kepada teman-temannya nanti." Ujar Revon.
"Okay. Sekarang... Ayo kita pesan makanan." Ujar Rose dengan tatapan memohon.
"Aku sudah memesannya, Bae." Jawab Revon sambil memperlihatkan ponselnya yang menampilkan semua makanan yang dia pesan. Dan semuanya terlihat enak.
"Thanks, Honey." Ujar Rose lalu memeluk lelaki itu.
"Sama-sama, Bae." Jawab Revon sambil mengecup dahi Rose.
•••
Paris
Seorang perempuan berambut blonde datang dari arah lift dengan terburu-buru. Kakinya berjalan menuju lobby untuk melihat sendiri lelaki yang resepsionis itu bilang sedang mencarinya.
Di sana, duduk di sofa dia melihat lelaki dengan tampang yang masih menjengkelkan dan gaya yang urakan. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Kekasihnya yang menghilang dan tiba-tiba memutuskannya dulu, sekarang datang dengan sendirinya kesini.
"Alex?" Ujar wanita itu tepat di depan Alex. Ekspresinya terlihat tidak percaya dengan kenyataan di depannya.
"Del." Ujar Alex dengan smirknya.
•••
...Lili Reinhart...
...As...
...Teresa Delein...