My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 14 - Mine



Di sebuah kamar terlihat seorang wanita sedang tidak sadarkan diri di atas ranjang. Keadaan kamar yang gelap gulita hanya terdapat cahaya bulan yang sedikit menerangi.


Hujan mengguyur dengan sangat derasnya, diiringi dengan suara petir yang menyambar.


Kini wanita itu terlihat gelisah dan wajahnya pucat. Nafasnya tidak beraturan dan mulutnya bergumam.


"No.. jangan.. jangan sentuh aku.. stop.. please.. stop" Gumam wanita itu. Air matanya mengalir deras di pipinya.


Dari pintu kamar tiba-tiba seorang lelaki muncul dengan tergesa-gesa. Dia segera mendekat ke ranjang. Mencoba membangunkan wanita itu.


Tangannya dengan lembut menepuk-nepuk pipi wanita itu sambil memanggilnya.


"Rose Wake up.. Rose.. Hey Bangun bae.. Rose?!" Ujar lelaki itu dengan nada sedikit naik di akhir. Ya, wanita yang coba dia bangunkan adalah Rose.


Sontak Rose tersadar dan membuka kedua matanya. Dia berhadapan dengan wajah tampan dengan iris mata merah gelap. Sama persis seperti yang dia lihat kemarin.


Lelaki itu menatapnya dengan lembut dan terselip rasa cemas. Air mata Rose masih setia mengalir dengan deras.


"Apa.. Apa aku bermimpi?" Ujar Rose dengan terisak. Tangannya terlihat ingin menyentuh wajah lelaki di depannya.


Lelaki itu hanya tersenyum dengan manisnya. Dia menggenggam tangan Rose dan mendekatkannya ke wajah. Rose mengusap seluruh wajah lelaki itu, dari mata, hidung hingga ke bibirnya yang kemerahan.


"Bagaimana? Apa ini terlihat seperti mimpi, hmm?" Ujar lelaki itu dengan mengangkat satu alisnya.


Rose hanya diam dan terus melihat lelaki itu dengan menangis.


"Jangan menangis, bae. Ssstt.. Kamu tidak bermimpi. " Ujar lelaki itu lalu menarik Rose ke pelukannya.


Rose masih tidak percaya bahwa ini nyata. Lelaki yang selama ini selalu hadir di mimpinya dan muncul beberapa kali di hadapannya, sekarang ada disini. Revonelle Dent.


Revon berulang kali menenangkan dan mengucapkan kata-kata,


"Aku disini, Bae. Kamu tidak bermimpi." Ujar Revon dengan lembut berusaha meyakinkan bahwa ini adalah kenyataan.


Rose tetap menangis dan menangis hingga tidak ada air mata yang tersisa.


"Kamu membuat bajuku basah, bae." Ujar Revon dengan tertawa kecil.


"Maaf.. Maafkan aku... Maaf.." Ujar wanita itu dengan suara serak.


"Stop. It's okay. Aku bisa membeli baju baru. Kamu tidak perlu meminta maaf berulang kali." Ujar Revon dengan tersenyum. Dia tahu kalau Rose meminta maaf untuk hal lain.


Tapi saat ini dia tidak ingin membahas itu.


Rose hanya menatap mata Revon. Dia yakin kalau lelaki itu tahu maksud darinya meminta maaf.


"Aku.. meminta maaf atas.." Ujar Rose yang terpotong oleh Revon.


"Sstt.. Wajahmu terlihat pucat dan berat badanmu terlihat banyak berkurang. Apa kamu tidak makan teratur, bae?" Ujar lelaki itu mengalihkan pembicaraan.


Rose hanya menggeleng kecil.


"Aku akan meminta pelayan menyiapkan makanan." Ujar Revon sambil beranjak dari ranjang.


Melihat Revon yang ingin pergi, seketika Rose memeluk lelaki itu. Dia tidak ingin Revon pergi lagi.


"Bae, aku hanya pergi sebentar." Ujar Revon dengan nada geli.


Wanita itu hanya diam dan menelusupkan kepalanya di dada Revon. Menghirup aroma tubuh lelaki itu yang sudah lama dia rindukan.


Revon membalas dengan mengeratkan pelukannya di pinggang Rose.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.


"Masuk." Jawab Revon.


"Anda memanggil saya, Boss" Ujar asistennya, Robert.


"Kamu minta pelayan menyiapkan makanan segera." Perintah Revon dengan suara datar.


"Ada hal lain yang kamu inginkan, bae?" Tanya Revon dengan berbisik di telinga Rose.


"Chocolate mousse." Jawab Rose lirih.


"Dan 1 chocolate mousse." Ujar Revon kepada Robert.


"Okay Boss. Saya permisi." Ujar Robert yang dibalas anggukan oleh Revon.


Selama beberapa menit hanya keheningan yang terdengar di kamar. Mereka berdua saling menikmati kedekatan masing-masing.


Hingga Rose memecah keheningan dengan bertanya,


"Kenapa kamu baru menemuiku sekarang?" Tanya Rose dengan lirih.


"Tapi kamu beberapa kali muncul di depanku. Di kantor dan di pesta kemarin." Ujar Rose.


"Tunggu. Aku tidak pernah muncul di depanmu sebelumnya. Aku berani bersumpah." Ujar Revon dengan alis berkerut.


Rose merasa bingung dan mendongak untuk menatap Revon.


"Apa maksudmu? Aku jelas melihat kamu." Tanya Rose.


Lelaki itu tampak diam sambil melihat ke jendela, hujan masih turun dengan deras. Dia tampak berpikir keras dan rahangnya mengeras.


Setelah beberapa detik dia menjawab sambil menatap kembali Rose.


"Aku tidak bernah menemuimu sebelum ini, bae. Itu bukan aku." Jawab Revon dengan serius.


"Lalu.. siapa kalau itu bukan kamu?" Ujar Rose tidak mengerti.


"Kamu tidak perlu memikirkannya. Biar aku yang mencari tahu. Sekarang aku ingin kamu makan dengan teratur dan istirahat." Ujar Revon dengan tersenyum.


Robert kembali dengan membawa nampan berisi makanan lalu di ambil oleh Revon.


"Thank you, Robert" Ujar Rose dengan ramah.


"My pleasure, Ms. Mint." Jawab Robert dengan sopan lalu pamit undur diri.


"Kamu ingin makan dengan berpelukan seperti ini, hmm?" Ujar Revon dengan tatapan geli karena Rose masih setia memeluk tubuhnya.


Rose hanya tersenyum dan menatap Revon dengan geli.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Tanya Revon dengan menaikkan kedua alisnya.


"Aku ingin kamu menyuapiku." Jawab Rose dengan santainya.


Mendengar itu membuat Revon terkejut dengan bibir sedikit terbuka.


"Sejak kapan kamu begitu manja Ms. Mint?" Ujar Revon dengan tersenyum. Matanya terlihat berkilau.


"Sejak.... sekarang? Kenapa? Apa kamu tidak mau menyuapiku?" Ujar Rose dengan cemberut.


"Aku akan menyuapimu. Tapi semua itu tidak gratis." Ujar Revon dengan smirknya.


"Hmm.. okay. Jadi.. apa yang kamu mau sebagai imbalannya?" Tanya Rose dan perlahan melepas pelukannya.


Dia menggerakkan jarinya ke bibir lelaki itu. Lalu turun ke lehernya kemudian semakin turun ke dada bidangnya dan berakhir di perut sixpacknya dengan gerakan sensual.


Nafas Revon mulai tidak beraturan. Iris matanya semakin menggelap. Dia menelan ludah dengan susah payah.


"Lebih baik kita berhenti sekarang sebelum aku memakanmu. Oh god!" Ujar Revon berusaha mengontrol tubuhnya untuk tidak menerkam wanita itu sekarang.


Rose hanya tersenyum dan menjauhkan tangannya. Dia sedikit mundur untuk memberi jarak agar Revon bisa menaruh nampannya.


Setelah itu, Revon mulai menyuapi wanita itu sesuai permintaannya.


Di sela-sela fokus menikmati makanan, Rose tersadar bahwa kamar yang dia tempati terlihat berbeda dengan kamar di rumah Revon.



"Kenapa kamar ini tidak seperti kamar yang ada di rumahmu?" Tanya Rose bingung.


"Hmm. Memang kita sedang tidak di rumah itu." Jawab Revon dengan tenang.


Saat akan menyuapkan makanan, Rose menghentikannya.


"Lalu.. dimana kita sekarang?" Ujar Rose dengan tatapan penuh tanya.


"Di suatu tempat. Tenang saja, ini salah satu propertiku. Sekarang berhenti bertanya dan buka mulutmu." Ujar Revon dengan tegas.


Rose memandangnya dengan tatapan bertanya dan tidak membuka mulut.


"Kalau kamu bertanya kenapa aku tidak kembali ke rumah itu saja. Jawabanku karena aku tidak mau sesuatu yang bekas dari orang lain. Mungkin akan aku lelang saja nantinya." Ujar Revon dengan santainya.


Rose membelalakkan mata dan membuka sedikit mulutnya. Melihat hal itu, Revon pun menyuapkan makanan lagi ke wanita itu.


"Lalu .. jika aku adalah sesuatu yang bekas itu.. apa kamu akan membuangku?" Tanya Rose dengan hati-hati setelah mengunyah makanannya.


Revon memandangnya dengan alis berkerut seperti orang berpikir. Dan jawaban lelaki itu berhasil membuat detak jantung Rose meningkat.


"Mungkin." Jawab Revon dengan menahan senyuman.


Tapi Rose tahu jika dia hanya bercanda. Wanita itu memukul lengan Revon dengan wajah cemberut.


"Kamu tahu aku hanya bercanda, bae. Kamu itu spesial dan aku tidak akan melepaskanmu. You are mine. Only mine." Jawab Revon menatap Rose dengan intens.