
Setelah benar-benar menelan makanannya, Rose pun bersuara, "Kenapa kamu tiba-tiba bertanya soal pernikahan yang aku inginkan?" Tanyanya.
Revon tersenyum dan membelai pipi Rose lembut. Lelaki itu menatap lekat Rose.
"Aku hanya ingin bersiap-siap … untuk menikahimu," ujar Revon dengan mengecup tangan Rose yang saat ini tengah dia genggam.
Rose hanya terdiam menatap lelaki di depannya. Mendadak lidahnya keluh, namun tatapan matanya terlihat bahagia mendengar pengakuan dari Revon.
"Kamu tidak sedang bercanda, kan?" tanya Rose setelah beberapa menit terdiam.
Revon masih tersenyum dan mendekatkan wajahnya dengan Rose. Mereka saling menatap selama beberapa menit, deru nafas mereka saling menyatu.
"Apa aku terlihat sedang bercanda, bae?" bisik Revon dengan tatapan intensnya.
"Hmm …. " Rose tampak memasang wajah pura-pura berpikir.
Revon tampak gemas dan memberikan kecupan di seluruh wajah wanita itu. Tangannya memeluk erat tubuh Rose.
"Revon! Hahahaha … cukup … kamu membuatku geli … Oh My God!" ujar Rose yang berusaha mendorong wajah Revon menjauh.
"Jadi, pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Revon setelah puas mengecup seluruh wajah Rose.
Lelaki itu menatap intens wanita yang sedang berada di pelukannya. Senyuman manis masih menghiasi wajah tampannya.
"Aku hanya ingin pernikahan yang dihadiri oleh orang terdekat saja. Tapi pernikahan ini tetap diliput oleh wartawan, aku ingin semua orang tahu kalau kamu sudah menjadi milikku. Dan aku menjadi milikmu," jelas Rose sambil mengusap bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di sekitar dagu Revon.
"Kalau soal wartawan yang meliput di acara pernikahan, aku sangat setuju. Aku juga ingin memperlihatkan ke semua lelaki bahwa wanita cantik ini akan menjadi istriku. Terutama kepada Alex," ujar Revon dengan smirknya.
"Ah, ya … aku jadi teringat dengan dokter itu. Dia menginap di kamar yang mana?" tanya Rose.
"Dia menginap di kamar yang berada tepat di depan kamar Aston. Sepertinya dia cukup dekat dengan Alex," Revon tertawa mengingat pertengkaran kecil saat Alex mengantar Teresa ke kamar bersama Aston.
"Kamu terlihat sangat senang,"
"Tentu saja. Dengan begini perhatian Alex akan teralihkan kepada Teresa. Jadi, aku tidak perlu merasa kesal setiap kali dia melihatmu,"
Rose tertawa mendengar ucapan Revon yang menurutnya lucu.
"Kenapa kamu tertawa, hmm?" ujar Revon lalu mendorong Rose berbaring di ranjang dan menggelitik pinggangnya.
"Stop … Revon … hahaha …. " ujar Rose di sela-sela tawanya.
Jari-jemari Revon masih enggan berhenti untuk menggelitik pinggang Rose. Wanita itu semakin tertawa terpingkal-pingkal, "Revon! Cukup … haha kamu membuat perutku sakit," teriak Rose.
Revon akhirnya menghentikan aksi menggelitiknya dan memandangi wajah Rose yang sedikit merona.
"Ah, aku hampir melupakan sesuatu yang penting," ujar Revon dengan alis yang berkerut.
Rose menatap penasaran kepada Revon, "Ritual Pernikahan Vampir" ujar Revon.
"Ritual?" tanya Rose.
"Sejujurnya aku juga tidak terlalu ingat bagaimana ritual ini, aku akan membaca buku itu lagi," ujar Revon yang tampak berpikir.
"Maksudmu buku 'The Destiny of Vampire'?" Rose teringat akan buku kuno yang dulu pernah Revon baca.
"Yah. Aku akan mengambilnya sebentar," ujar Revon lalu bangkit dari ranjang.
Tidak begitu lama, Revon kembali ke kamar dengan sebuah buku tebal di tangan kirinya. Sedangkan di tangan kanannya sedang memegang ponsel, seseorang tengah menghubunginya.
"Kenapa?" tanya Revon.
" …. "
"Pembatalan kontrak? Apa alasan mereka membatalkannya?!" Revon mulai setengah menghardik sang penelpon.
" …. "
"Aku masih pemilik agency ini. Apa hanya karena aku sedang tidak stand by disana mereka menyimpulkan seperti itu?! Dengar! Kalau mereka hanya ingin menandatangani kontrak saat aku ada disana, lebih baik batalkan saja kontraknya" Revon benar-benar kesal dan mengakhiri panggilan secara sepihak.
Revon mendekat ke ranjang dan duduk di samping Rose.
"Tidak ada," jawab Revon singkat.
Rose semakin penasaran dan menatap lekat mata lelaki di sampingnya.
"Itu bukan hal penting yang harus aku ceritakan," ujar Revon.
"Benarkah?"
"Ya,"
"Siapa yang tidak mau menandatangani kontrak?"
"Hanya orang bodoh," jawab Revon cepat.
"Bisakah kamu menjelaskannya lebih spesifik? Jangan hanya mengatainya bodoh," pinta Rose.
"Dia adalah pemilik brand fashion dari Italia. Dia ingin melakukan kontrak dengan agency, tapi mengajukan syarat aku harus berada di kantor saat menghadiri penandatanganan kontraknya," jelas Revon.
"Kenapa kamu tidak menyetujuinya?" tanya Rose.
"Aku tidak ingin jauh darimu. Aku akan kesana jika kamu ikut denganku," jawab Revon.
"Hoaamm … tiba-tiba aku sangat mengantuk," Rose berbaring di ranjang dan menarik selimut menutupi setengah tubuhnya.
"Aku tahu kamu tidak ingin pergi. Kamu ingin melihat sendiri perkembangan Robert dan Erica, kan? Maka dari itu aku tidak menyetujui keinginan orang itu," ujar Revon lalu ikut berbaring setelah menyimpan bukunya di dalam laci meja yang ada di kamar Rose.
"Panas sekali jika perapian menyala," gumam Revon lalu melepas kaosnya.
"Kamu sendiri yang menyalakannya," gumam Rose setelah memposisikan tubuhnya berbaring menyamping.
Revon bangkit dari ranjang, mematikan perapian dan membuat ruangan menjadi agak gelap. Hanya lampu tidur yang menerangi dengan sinarnya yang lembut.
Revon naik ke atas ranjang dan berbaring menyamping saling berhadapan dengan Rose.
"Tidurlah," pinta Revon.
"Aku masih penasaran dengan ritual pernikahan vampir," jawab Rose dengan menatap mata Revon lekat-lekat.
"Kita bisa membacanya besok. Kalau kamu tidak bisa tidur …. " ujar Revon dengan suara serak dan smirknya.
Segera Rose memejamkan mata dan menarik selimut hingga lehernya. Lelaki itu tertawa kecil sambil mengusap rambut Rose dengan lembut.
"Good night," bisik Revon.
Perlahan tubuh Rose menjadi rileks hingga benar-benar terlelap. Revon mengamati wajah Rose yang terlihat damai. Tangannya yang tadi mengusap rambut Rose, beralih ke pipi dan berakhir di bibir wanita itu.
Tok. Tok. Tok.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar. Awalnya Revon tidak berniat membukanya, namun suara ketukan itu masih terdengar.
Revon pun dengan terpaksa beranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamar. Hampir saja dia lupa memakai kembali kaos yang dia lepas beberapa waktu lalu.
Cklek.
Saat membuka pintu, Revon mengangkat sebelah alisnya kala melihat Teresa yang berada di depan pintu, "Ada apa?" tanyanya.
"Aku mau meminta tolong, usir lelaki brengsek itu dari kamarku," pinta Teresa.
"Lelaki brengsek? Siapa?" tanya Revon.
"Alex," jawab Teresa singkat. Raut wajahnya sangat terlihat menahan kesal dan juga lelah.
"Apa kamu tidak bisa mengusirnya sendiri?" Revon kembali bertanya.
"Aku sudah mencobanya. Tapi dia tetap saja tidak mau pergi, Revon please usir dia," jawab Teresa.
Revon menghembuskan nafas kasar dan menoleh ke dalam kamar melihat Rose yang masih tertidur.
Dengan ekspresi datarnya, Revon menutup pintu kamar di belakangnya dan pergi mendahului Teresa berjalan menuju ke kamar tamu.