My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 53 - Sense of Smell



Chapter sebelumnya


Revon segera meraih leher Alex dan menahannya agar tidak berjalan mendekati Rose.


"Sepertinya aku harus mematahakan kakimu." Ujar Revon dengan menatap Alex tajam.


"Aku akan mengoyak kepalamu lebih dulu." Ujar Alex dengan santainya.


"Jangan bermain-main denganku." Ujar Revon dengan mencengkeram leher Alex.


"Stop! Tidak bisakah kita duduk dan berbicara? Kalian membuatku pusing." Ujar Rose dan melihat semua kekacauan yang mereka akibatkan.


Revon melepaskan Alex dengan kasar dan berjalan menghampiri Rose.


"Kenapa kamu keluar dari kamar? Kamu tidak mendengarkan perkataanku tadi?" Tanya Revon dengan suara selembut mungkin.


Ya, dia masih mencoba untuk tidak kesal. Dan lagi-lagi dia tidak menatap mata Rose.


"Kenapa kamu tidak menatap mataku?" Tanya Rose dengan mengerutkan alis.


"Aku hanya tidak ingin membuatmu takut. Aku masih merasa emosi dan kesal." Ujar Revon.


"Rose, apa kamu punya kotak P3K?" Tanya Alex yang sudah di samping Rose.


Secara bersamaan Revon dan Rose menjawab.


"Ya." Ujar Rose.


"Tidak." Ujar Revon.


Ada seorang vampir yang tertangkap mata Revon sedang lewat, tanpa ragu Revon memanggilnya.


"Kamu berikan dia kotak P3K. Lalu usir dia." Ujar Revon singkat lalu menarik tangan Rose meninggalkan ruangan yang sudah kacau itu.


•••


Dengan langkah lebar Revon terus berjalan sambil setengah menarik tangan Rose. Lelaki itu bisa merasakan amarah bercampur kesal yang membuat adrenalin dalam tubuhnya bergejolak.


"Revon.. Tidak bisakah kamu berjalan dengan kecepatan normal? Aku hampir terjatuh..." Protes Rose sambil mencoba melepaskan tangannya dari Revon.


Tiba-tiba Revon menghentikan langkah dan berbalik menghadap Rose. Tanpa mengeluarkan satu kata pun dia menggendong wanita itu ala bridal style.


"Kenapa tidak bilang dulu kalau ingin menggendongku?" Bisik Rose yang tanpa sengaja tepat di telinga Revon.


"Apa kamu juga perlu pemberitahuan ketika aku ingin melakukan s**s denganmu?" Ujar Revon yang tetap fokus menghadap ke depan.


"Ssttt! Apa kamu ingin orang lain mendengar ucapanmu?" Bisik Rose sambil mencengram bahu Revon yang lebar.


Revon mengeluarkan smirknya. Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan kamar bernuansa monochrome itu. Kamar Revon.


Cklek.


Suara pintu kamar tertutup. Tepat di belakang pintu, Revon menghimpit tubuh Rose diantara benda persegi panjang itu.


Tanpa membuang waktu Revon segera melahap bibir pink kemerahan Rose dengan sangat pelan. Kedua matanya terpejam sehingga memperlihatkan bulu matanya yang panjang. Seakan sedang berusaha memadamkan amarah dan kesalnya yang masih menetap.


Rose terkejut dengan serangan tiba-tiba yang membuatnya mematung. Namun tidak butuh waktu lama, Rose membalas ciuman Revon.


Tok. Tok. Tok.


Terdengar suara seseorang mengetuk pintu dengan tidak sabar. Berulang-ulang dia mengetuk pintu tanpa jeda.


Tok. Tok. Tok.


"Rose. Aku tahu kamu di dalam. Aku ingin berbicara denganmu. Kumohon." Ujar Alex dengan teriak.


"Rose.. Apa kamu baik-baik saja di dalam? Jeez, setidaknya jawab aku Rose. Apa aku dobrak saja pintunya?" Ujar Alex dengan teriak lagi.


Mendengar kalimat terakhir yang dikatakan Alex, Rose pun tersadar dari pusaran kenikmatan yang menghanyutkannya.


"Rev... "


Belum sempat dia mengucapkan nama lelaki dihadapannya itu seketika Rose terhenti karena merasakan tangan Revon yang menyelinap ke dalam gaun yang dipakainya.


"Ada Alex diluar." Bisik Rose.


"Lalu?" Ujar Revon yang masih melanjutkan aksinya.


"Jawabanku sudah jelas bukan?" Ujar Revon lalu menggigit leher Rose agar meninggalkan jejak kepemilikannya.


"Sebentar saja. Mungkin dia bisa membantu mencari Robert dan Erica?"


"Aku sudah mencobanya." Jawab Revon


"Cukup dengan acara menunggu ini. Okay, aku akan mendobrak pintu sialan ini sekarang" Ujar Alex dan bersiap mengambil ancang-ancang.


1....


2....


3....


Bruughhh...


"Di lantai telah tersungkur seekor anjing yang malang. Apa kamu begitu inginnya menjadi peliharaanku hingga bertingkah seperti ini?" Ujar Revon dengan melipat tangannya di depan dada.


"F*ck you, Dent." Ujar Alex dengan penuh amarah.


"Apa ini yang dinamakan anjing galak?" Ujar Revon dengan tertawa.


Alex semakin marah, wajahnya memerah. Dia melirik dimana terlihat Rose yang sedang menyaksikan dengan menahan senyum.


Bugh.


Tonjokan keras mendarat di pipi kanan Revon. Darah mengalir dari sudut bibirnya yang terluka.


"Ha.. hahahahaha.. Kamu benar-benar cari mati Alex Keihler." Ujar Revon yang perlahan mengalihkan wajahnya dan menatap tepat ke arah Alex.


"No, no, no. Tidak lagi. Alex, jika ada yang ingin kamu bicarakan lebih baik itu adalah hal yang penting... Revon, jangan berkelahi lagi. Please." Ujar Rose dengan melerai mereka berdua.


"Aku ingin berbicara hanya denganmu, Rose." Ujar Alex.


"Bicara sekarang atau tidak sama sekali." Ujar Revon dengan tatapan tajam.


"Alex, kamu bisa bicara sekarang." Ujar Rose.


"Baiklah. Jadi aku ingin mengatakan kalau aku sudah berhasil menemukan lokasi Robert dan Erica." Ujar Alex dengan smirknya.


"Oh My God, dimana mereka? Apakah mereka baik-baik saja?" Tanya Rose dengan antusias.


"Aku tidak bisa memastikannya, tapi aku menemukan mobil yang terlantar disana dengan beberapa barang yang beraroma sama dengan Robert dan Erica." Ujar Alex dengan wajah serius.


"Apa itu dekat dengan desa tempat tinggal penyihir?" Tanya Revon kepada Alex.


"Desa tempat tinggal penyihir? Bukankah tempat itu sudah menghilang sejak 175 tahun yang lalu?" Ujar Alex yang bingung.


"Erica mengetahui tempat itu. Aku memintanya menemukan sesuatu yang bisa menyembuhkan Rose." Ujar Revon yang bergantian menatap Alex lalu Rose.


"Apa tempat itu sangat berbahaya? Bagaimana kalau mereka sudah..." Ujar Rose dengan suara yang bergetar.


"Tidak ada hal buruk yang terjadi kepada mereka. Mereka pasti baik-baik saja, Rose. Jangan berpikir yang aneh-aneh." Ujar Revon sambil memeluk Rose.


Alex yang masih berada disana merasa sangat terganggu dengan pemandangan di depan matanya. Lelaki itu memutar bola matanya dan memberikan jari tengahnya ke arah Revon.


"Keluar dari rumahku." Ujar Revon tanpa bersuara.


Alex tetaplah Alex. Sangat tidak bisa diperingatkan.


"Jadi kapan kita akan pergi menghampiri mereka?" Tanya Alex.


Revon menatap tajam Alex yang membuat Rose melepas pelukannnya dan kembali menghadap ke arah Alex.


"Secepatnya. Dan aku akan ikut" Ujar Rose.


"Kamu tidak akan ikut." Ujar Revon dengan tegas.


"Kali ini aku setuju denganmu vampir. Rose kamu tidak bisa ikut." Ujar Alex.


"Kenapa aku tidak bisa ikut?"


"Cukup. Aku tidak akan membahas ini lagi dan lagi, Rose. Alex, keluar dari rumahku." Ujar Revon.


"Baiklah. Tapi, aku pergi bukan karena takut denganmu. Ingat itu. Sampai jumpa, Rose." Ujar Alex lalu berbalik menuju pintu keluar.