
"Hey Manusia Serigala Sialan! Tidak bisakah kamu hanya diam dan tidak membuat masalah?" ujar Revon tepat setelah membuka pintu kamar tamu yang harusnya ditempati Teresa saat ini.
"Apa kamu buta?! Kamu lihat, kan? Aku diam berbaring di ranjang ini," jawab Alex dengan berbaring menyamping menatap Revon yang sedang berdiri di pintu.
"Hah! Bilang saja kalau kamu merasa betah berada di rumahku!" Revon menampilkan smirknya.
Alex segera bangkit dari ranjang dan berjalan mendekat ke arah Revon. Lelaki bergaya urakan itu menatap Revon dengan menyipitkan matanya. Lalu melihat Teresa yang berada di belakang Revon dengan smirknya.
"Aku akan kembali besok," bisik Alex tepat di wajah Teresa.
Teresa tidak menjawab dan hanya menatap Alex dengan amat tajam.
Setelah melihat Alex berjalan menjauh, Revon pun keluar dan berjalan kembali menuju kamar Rose. Sebelum lelaki itu menjauh, Teresa mengucapkan terima kasihnya dan dibalas anggukan oleh Revon.
•••
Di kamar Erica
Mulai hari ini, Teresa mencoba sihirnya terlebih dulu kepada benda-benda di di sekitarnya sambil ditemani Aston yang sedang mengganti infus Erica.
Wanita itu sedang mengangkat kedua tangannya dan menatap sebuah hiasan kayu berbentuk burung hantu yang berada di atas laci meja kamar Erica. Sudah sepersekian menit dia menatap hiasan itu.
"Apa kamu sedang melampiaskan rasa kesalmu kepada hiasan itu?" Tanya Aston setelah merapikan selimut kakaknya.
"Aku sedang berusaha," jawab Teresa dengan fokus yang masih sama.
"Burung hantu itu masih berdiri tegak menunggumu," sarkas Aston.
"Haaahh! Aku benar-benar tidak merasakan sengatan sihir sedikitpun," keluh Teresa menggigit kukunya dengan cemas.
Aston berdiri dari single sofa yang sedang dia duduki lalu berjalan mendekat ke arah Teresa.
"Kamu bisa memanfaatkanku … sesukamu …. " ujar Aston sambil mengulurkan telapak tangannya di hadapan Teresa.
Teresa menatap uluran tangan Aston selama beberapa detik, lalu wanita itu berganti menatap sang pemilik tangan.
"Apa yang bisa kamu lakukan?" tanya Teresa.
•••
Sinar matahari yang perlahan menelusup ke sela-sela jendela membuat Rose terusik dari tidurnya yang lelap. Berganti posisi berbaring ke sisi kirinya, pandangan pertama yang dia lihat adalah pinggang Revon yang sedang duduk di sampingnya dengan celana jeans yang melekat dari pinggang hingga ke bawah.
Rose melihat buku semalam, sedang lelaki itu buka lebar dan terlihat fokusnya tertuju pada apapun yang ada di dalam buku itu.
"Kenapa kamu tidak mengajakku membaca bukunya bersama?" protes Rose dengan suara khas bangun tidurnya.
Revon melirik sekilas dengan senyuman mautnya, "Aku tidak mau membangunkan putri tidurku," ujarnya.
"Kamu mengejekku?" tanya Rose dengan wajah cemberut. Saat wanita itu akan beranjak dari ranjang, Revon seketika menarik tangan Rose hingga membuat tubuhnya berbalik menghadap lelaki itu.
"Bae, kamu terlelap sangat nyenyak semalam. Jadi kamu terlihat seperti putri tidur yang sedang berada di ranjangku," jelas Revon. Buku yang tadi sedang dia baca, kini sedang berada di meja yang berada di sampingnya.
Lelaki itu mengecup bibir Rose lalu memeluknya, membenamkan wajahnya di leher wanita itu selama beberapa menit. Rose bisa merasakan nafas Revon yang menggelitik lehernya.
"Bae?" panggil Revon dengan suara yang serak.
"Hmmm?" jawab Rose yang sedang bermain dengan rambut halus Revon yang sudah memanjang hingga dirasa bisa menutupi dahi lelaki itu.
"Aku … haus," ujar Revon dengan nafas yang mulai tidak beraturan.
Lalu lelaki itu memberikan open kiss pada leher Rose. Mengecupnya bertubi-tubi hingga membuat Rose semakin memiringkan kepalanya agar memberi Revon akses lebih luas ke lehernya.
"Emmmhh …. " Rose mencoba menahan untuk tidak mendesah saat taring Revon menembus kulitnya dengan agak kasar.
Revon meminum darah Rose dengan rakus. Perlahan Revon mendorong tubuh Rose untuk berbaring kembali di ranjang. Lelaki itu menghimpit tubuh Rose hingga tubuhnya benar-benar saling menempel.
Revon menyudahi aksi meminum darah Rose. Lelaki itu saat ini sedang menghilangkan luka bekas gigitannya.
Lalu Revon beralih mencium bibir Rose dengan kasar sambil menggodanya dengan sentuhan-sentuhan di tubuhnya.
Revon beralih mengecup leher Rose dan meninggalkan hickey di sekitar leher itu.
"Revon …. " Rose merasa pusing di kepalanya bertambah saat merasakan tangan Revon yang menyelinap di balik celana pendek yang dia pakai.
Menarik tubuhnya menjauh dari Rose, lelaki itu menatap intens Rose yang berbaring di bawahnya dengan wajah merona dan nafas yang tidak beraturan.
Revon menelan ludah dengan susah payah, "Bae …. " ujar Revon dengan bola mata yang memerah.
Lelaki itu membantu Rose membuka sweaternya. Kini tubuh bagian atasnya terpampang jelas di depan mata.
Revon kembali mencium bibir Rose dengan intens, lalu perlahan-lahan ciuman itu turun dan semakin turun, dari lehernya hingga ke dadanya.
"Hmm …. " Rose memejamkan mata merasakan sensasi luar biasa yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Setelah puas, Revon melanjutkan ciumannya semakin turun ke perut, lalu terhenti tepat diatas waistband celana pendek wanita itu.
Dengan nafas yang tidak beraturan, Rose mengerutkan alis dan melirik Revon yang juga sedang menatapnya.
Tangan Revon membuka celana pendek Rose dengan sangat pelan. Lelaki itu dengan sengaja memberikan light touch pada kulit Rose.
Setelah melepas celana itu, Revon melanjutkan ciumannya ke titik sensitif wanita itu. Membuat Rose menggeliat tidak karuan.
"Aahh … Revon … Ennghh …. " desah Rose sambil meremas sprei.
Mendengar itu, Revon semakin merasa terbakar oleh gairah. Lelaki itu menghentikan aktivitasnya dan menatap wajah Rose.
Lelaki itu melepas celananya lalu memposisikan dirinya sedemikian rupa di atas Rose. Revon mencium bibir Rose dengan kasar namun tidak cukup kasar hingga membuat wanita itu ingin berhenti.
"Haah …. " erang Revon setelah berhasil memasuki Rose.
"Hmm …. " desah Rose.
Revon mulai menggerakkan pinggulnya dengan pelan dan intens. Lelaki itu menatap Rose yang terlihat semakin cantik.
"Bae … ingat baik-baik … kamu hanya milikku. Hanya aku," bisik Revon dengan menatap mata Rose.
"I'm all yours," jawab Rose yang juga menatap mata Revon penuh dengan kepercayaan.
Kepercayaan untuk menyerahkan semua yang dia miliki. Cinta, kasih sayang, perhatian bahkan seluruh jiwa raganya wanita itu serahkan kepada Revon.
Dia benar-benar sudah jatuh cinta sedalam-dalamnya kepada lelaki di depannya. Dan sebentar lagi Rose bisa merasakan menjadi satu-satunya Mrs. Dent, istri dan ibu dari anak-anak mereka di masa depan.
Revon tersenyum manis dan mencium bibir Rose. Ciuman yang lembut, sangat intens dan penuh dengan rasa cinta yang membuat hati wanita itu menghangat.
Perlahan lelaki itu mempercepat ritmenya membuat Rose semakin merasa terbang di atas awan.
"Engghh … Aaahh …. " desahan Rose semakin nyaring terdengar.
"Haahh … Rose …. " Revon menelusupkan wajahnya di leher Rose.
Puncak kenikmatan terasa semakin dekat. Tanpa sadar, Revon menggores leher Rose dengan taringnya hingga membekas.
Rose mencengkram bahu Revon dengan kuat, kukunya memberikan cakaran di sekitar bahu hingga punggung lelaki itu. Namun tentu saja luka kecil itu segera menghilang dalam sekejap.
"Revon …. "
"Rose …. "
Teriakan keluar dari mulut mereka dengan nafas yang memburu dan kabut gairah yang memenuhi seluruh kamar. Beruntung seluruh kamar yang ada di rumah Revon kedap suara.