
Rose merasa penasaran dengan apa yang akan Revon lakukan. Hal itu membuat Rose ingin segera menyudahi aksi eksplorasi yang sedang dia lakukan. Akhirnya Rose memutuskan untuk beranjak dari pangkuan Revon lalu berjalan beberapa langkah sambil membuka gaun pengantin yang membalut tubuhnya.
Rose melepas sepatu heels yang dia pakai lalu berbalik untuk menatap Revon.
"Entah mengapa … aku lebih tertarik dengan apa yang akan kamu lakukan kepadaku. Mr. Dent," ucap Rose.
Tepat setelah mengatakan itu, Rose melepas gaun pengantin dari tubuhnya. Rose merasakan panas dari dalam dirinya semakin bertambah seiring dengan pandangan Revon yang menelusuri setiap lekuk tubuhnya bak predator yang siap menerkam.
Revon berjalan perlahan mendekati Rose yang berdiri tidak jauh darinya. Lelaki itu berhenti di hadapan Rose. "Berbaringlah di atas ranjang dengan nyaman."
"Kamu mau kemana?" tanya Rose.
"Ssst … lakukan saja yang aku katakan," pinta Revon.
Rose perlahan melakukan perintah Revon, wanita itu naik ke atas ranjang dan memposisikan tubuhnya berbaring dengan nyaman. Setelah melihat Rose yang berada di atas ranjang, Revon pun berjalan keluar dari kamar.
Selang beberapa menit, Revon kembali ke kamar dengan membawa sebuah mangkuk. Rose melihat Revon meletakkan mangkuk itu di meja yang berada di samping ranjang.
Revon mengambil sesuatu dari mangkuk itu yang ternyata adalah sebuah strawberry. Revon naik ke atas ranjang, lalu menarik Rose agar memposisikan dirinya sedikit lebih tinggi dengan bersandar di tumpukan bantal.
Revon memberikan buah strawberry itu kepada Rose. Rose yang agak bingung hanya menatap Revon dengan penuh tanya.
"Kamu tidak mau strawberry?" tanya Revon.
"Aku mau, jika itu tidak asam," balas Rose.
Lalu Revon mendekatkan strawberry yang di tangannya ke mulut Rose. Dengan perlahan Rose mendekat ingin memakan strawberry itu. Tapi tiba-tiba Revon menjauhkan tangannya dari mulut Rose.
"Gigit sebagian saja," ucap Revon dengan senyuman. Lelaki itu kembali menatap tubuh Rose yang sangat menggoda.
Rose menaikkan sebelah alisnya. Lalu Revon kembali mendekatkan strawberry ke mulut Rose. Rose menggigit strawberry itu tanpa menghentikan kontak mata dengan lelaki yang ada di hadapannya.
Setelah itu, Revon mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Rose. Rasa strawberry itu masih terasa di bibir Rose. Ciuman yang lembut dan penuh perasaan.
Revon juga memberikan ciuman ke rahang wanita itu, lalu turun ke leher dan semakin turun hingga ke kedua benda kenyal milik Rose.
Revon memakan strawberry yang berada di tangannya. Lalu melahap salah satu puncak benda kenyal yang terlihat cukup menantang itu.
"Aah … " desah Rose.
Rasa menggelitik di perutnya semakin berkumpul sedikit demi sedikit. Wanita itu belum pernah mendapatkan perlakuan itu dari Revon sebelumnya. Jelas kali ini, Revon akan memberikan perlakuan yang lebih intens dari biasanya.
"Hngg … Revon …. " Rose merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan.
"Apa kamu suka?" tanya Revon.
Rose menaikkan sebelah alisnya. "Ya, aku suka strawberry-nya."
"Hanya strawberry-nya, hmm?" balas Revon.
Lelaki itu melucuti celananya dan mengambil strawberry untuk dia makan. Revon mencium bibir Rose dengan intens, lalu menerobos masuk pintu kewanitaan Rose.
"Aahh!" erang Rose.
Revon menatap Rose dengan bibir yang sedikit terbuka. "****!"
Rose memeluk tubuh Revon agar semakin mendekat ke tubuhnya. Lelaki itu bergerak dengan ritme pelan lalu semakin lama semakin cepat.
Rose bisa merasakan otot-otot Revon yang berkontraksi pada setiap pergerakannya. Tangan Rose menelusuri bahu, lengan, leher lalu berakhir dengan mencengkram dan sedikit menarik rambut Revon.
"Haa, kamu ingin membuatku semakin gila?" bisik Revon.
Rose kembali menarik rambut Revon.
Detik kemudian, Revon berhenti dan menatap Rose dengan tajam. Bibir lelaki itu sedikit terbuka. "Berhenti melakukan itu atau …"
"Atau?"
"Atau kamu ingin aku hilang akal dan memperlakukanmu agak kasar."
Rose menelan ludah mendengar itu. Disisi lain, dia ingin mencoba hal baru. Lebih intens dan kasar. Tapi sisi lain dirinya merasa takut jika dia tidak mampu mengatasinya.
Rose menarik wajah Revon, wanita itu mencium bibir Revon. Revon pun mulai kembali bergerak, namun dengan ritme pelan dan dalam.
"Hngg …. " desah Rose. Wanita itu kini memeluk tubuh Revon dengan cukup erat.
"Hmm …. " desah Revon.
Revon mempercepat ritme setelah mendapatkan ciuman intens dari Rose. Nafas mereka memburu. Puncak kenikmatan akan segera datang.
"I love you, My Wife."
"I love you too, My Husband."
•••
Robert membawa Erica ke lorong hotel terlihat sepi. Terdapat pilar-pilar tinggi yang saling berdekatan. Robert memojokkan Erica di antara pilar-pilar itu.
"Apa yang kamu lakukan tadi?" tanya Robert.
"Mengobrol dengan teman-teman?" balas Erica dengan tenang.
"Jangan berpura-pura tidak tahu."
Erica mendekati Robert lalu membenarkan posisi jas milik lelaki itu. "Kamu perlu menanyakannya lebih detail."
"Aku memiliki cara yang lebih efektif agar kamu ingat."
"Oh, benarkah?" Erica berniat pergi dari hadapan Robert.
Robert menarik tangan Erica dan mengurung tubuhnya diantara pilar.
"Kamu tidak akan bisa melakukannya," bisik Erica.
Robert terdiam dengan pandangan fokus kepada Erica. Sementara Erica tersenyum lalu mendorong Robert untuk minggir dan membiarkannya pergi.
"Huh? Benar-benar …." ucap Robert.
•••
"Akhirnya aku bisa kembali ke Paris," ungkap Teresa.
Aston tertawa kecil mendengar ucapan Teresa yang terdengar sangat lega. Aston melihat ke langit, bintang-bintang terlihat sangat terang tanpa terhalang awan. Sepertinya memang hari ini hari yang spesial. Tanpa sadar, mereka berjalan mendekati area danau berada di dekat hotel.
"Lihat! Danau itu sangat berkilauan. Airnya sangat jernih," teriak Teresa.
"Apa kamu ingin mencoba sesuatu?" tawar Aston.
"Mencoba sesuatu? Apa?"
Aston berjalan ke tepi danau, lelaki itu berjongkok lalu menggerakkan jarinya seperti sedang menarik sesuatu. Bersamaan dengan itu, air danau menjadi beriak seperti tertarik mengikuti jari Aston.