My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 65 - Asking



"Bae, buka pintunya. Kamu belum makan malam, kan?" ujar Revon sambil mengetuk pintu kamar Rose.


Sejak kejadian beberapa menit yang lalu, Rose masuk ke kamarnya sendiri dan mengunci pintunya. Sudah berulang kali Revon mengetuk pintu Rose, namun tidak ada sautan sama sekali dari wanita itu.


Hingga kini, Rose belum keluar juga untuk makan malam. Hal itu membuat Revon khawatir dan akhirnya membeli chocolate mousse kesukaan Rose agar dia mau memaafkannya.


"Bae. Aku membawa makanan kesukaanmu, chocolate mousse," ujar Revon yang sudah berpakaian lengkap, kaos berwarna navy dan celana jeans hitam. Tangannya membawa sepiring chocolate mousse.


Tok. Tok. Tok


"Bae? Jangan membuatku khawatir. Biarkan aku masuk," ujar Revon lagi.


Namun masih saja tidak ada jawaban dari wanita yang sedang mengunci dirinya di dalam kamar itu. Hal itu semakin menguji kesabaran Revon.


"Rose. Kamu buka pintunya atau aku akan membukanya dengan paksa," 


Lalu detik selanjutnya, Revon mendorong paksa knop pintu dengan satu tangannya. Pintu pun terbuka, sontak lelaki itu mengedarkan pandangannya mencari Rose.


"Rose? Rose?" ujar Revon setengah teriak.


Karena tidak menemukan wanita itu di kamar, Revon beralih ke kamar mandi yang berada di sudut kamar.


Cklek.


Revon bernafas lega ketika melihat Rose sedang berendam di bathtub dengan aroma lavender yang sangat kental.


Revon berjalan mendekat dan mengamati wanita itu. Rose terlihat memejamkan mata dengan sepasang earphone di kedua telinganya. Lelaki itu mencari aplikasi pemutar musik di sekitarnya


Melihat ponsel Rose yang tergeletak di meja kecil samping bathtup, Revon mengambilnya dan mematikan pemutar musik yang ada di dalam ponsel.


"Kenapa tiba-tiba ma …. " Rose menghentikan perkataannya karena melihat Revon yang sedang terduduk di pinggir bathtub.


"Kenapa kamu bisa masuk?" tanya Rose dengan bingung.


"Apa kamu masih marah denganku?" tanya Revon kembali.


"Aku lebih dulu memberikan pertanyaan," ujar Rose dengan menatap kesal Revon.


"Bae … aku mengaku salah. Aku minta maaf," 


"Kenapa kamu minta maaf? Kamu tidak membuat kesalahan apapun, kan?!" sarkas Rose sambil melipat kedua tangannya.


"Aku sangat suka melihat kamu cemburu seperti ini," ujar Revon dengan smirknya.


Rose semakin kesal dan menatap tajam Revon.


"Okay okay, aku tidak akan mengulangi perbuatanku tadi. Aku hanya akan memperlihatkan tubuhku kepadamu ... aku hanya akan telanjang di depanmu," ujar Revon dengan raut wajah serius.


"Terserah. Sudah sana jangan ganggu acara mandiku," jawab Rose masih dengan raut wajah kesal.


"Bae … ini sudah jam berapa kamu masih berendam disini, huh? Yang ada kamu sakit nanti," ujar Revon, "Lihat! Aku membawa chocolate mousse untukmu." 


"Sudahlah. Keluar! Sana kamu makan saja dengan wanita itu," ujar Rose lalu mengalihkan pandangannya ke jendela.


Revon menghembuskan nafas kasar dan meletakkan chocolate mousse di meja. Lalu hal yang tidak terduga membuat Rose mengalihkan pandangannya ke arah Revon kembali.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Rose dengan alis berkerut. Di depannya Revon sedang membuka kaos yang dia pakai.


"Apa yang aku lakukan?" jawab Revon dengan satu alis terangkat.


"Revon! Aku sedang tidak ingin bercanda," ujar Rose.


Setelah melepas kaosnya, kali ini lelaki itu melepas celana jeansnya meninggalkan pakaian dalamnya.


"Rev …. " Rose seketika terdiam ketika melihat Revon benar-benar menanggalkan seluruh pakaiannya.


Lalu lelaki itu ikut masuk ke dalam bathtub dan menyerangnya dengan ciuman-ciuman panas di bibirnya.


Karena ruang gerak yang terbatas di dalam bathtub, Revon pun mengangkat tubuh Rose dan membawanya ke kabin shower.


"Aku suka melihatmu cemburu seperti ini. Itu berarti kamu sangat mencintaiku, kan?" bisik Revon di telinga Rose.


Revon tertawa kecil dan kembali mencium bibir wanita itu dengan lembut. Ciumannya semakin lama semakin panas membuat kedua kaki Rose terasa lemas seketika.


Dengan sigap Revon memeluk pinggang Rose dan mengangkat tubuh wanita itu. Menyudutkannya di bawah guyuran shower.


Ciuman Revon beralih ke leher dan semakin kebawa menuju ke dada Rose. 


"Hmm … aahh …." gumam Rose merasakan kenikmatan yang memenuhi inderanya.


Lalu jari-jemari Revon menggoda titik sensitif Rose. Desahan-desahan keluar dari mulut wanita itu.


"Bae … I love you, I love you so much," bisik Revon sambil memasukkan juniornya ke titik sensitif Rose. Lelaki itu bergerak dengan ritme yang cepat.


"Revon … eenngghh …. " desah Rose sambil mencengkram bahu Revon erat.


•••


Setelah pergulatan yang panas, kini Revon sudah membawa Rose ke atas ranjang dan memakaikan wanita itu sweater merah yang cukup tebal. 


Bukan hanya itu, Revon juga memaksa wanita itu memakai jaket berbulu wol yang tebal. Lelaki itu melakukan semua ini bukan tanpa alasan.


Pasalnya, saat di kamar mandi tadi dia melihat tubuh Rose gemetaran yang kemudian dia simpulkan sebagai gejala kedinginan.


"Revon, aku sudah cukup merasa hangat sekarang," protes Rose ketika melihat Revon menyalakan perapian di kamar yang sudah lama tidak pernah dinyalakan. 


"Ssstt … kamu cukup diam disana, okay? Ah, aku akan membuatkan coklat panas untukmu," ujar Revon sambil menghampiri Rose.


Namun belum sempat beranjak dari kamar, Rose menarik tangan Revon.


"Tidak usah, kamu tadi bawa chocolate mousse, kan?" ujar Rose.


Revon tersenyum dan mengambil chocolate mousse yang sudah dia pindahkan ke meja samping ranjang. 


Setelah mengambil segelas air putih dan menaruhnya di meja. Revon pun ikut duduk di ranjang dan mengambil chocolate mousse.


Lelaki itu menyuapkan chocolate mousse ke mulut Rose. Wanita itu menerimanya dengan senang hati dan tersenyum menatap Revon.


Tiba-tiba Revon mengeluarkan pertanyaan yang mengejutkan bagi Rose.


"Bae, pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Revon dengan raut wajah serius.


Mendengar itu, sontak Rose tersedak. Dengan sigap Revon mengambil air putih dan mengusap-usap punggungnya.


•••


Di kamar Teresa ….


"Alex! Keluar dari kamarku!" teriak Teresa sambil menarik lengan Alex yang sedang berbaring di ranjangnya.


"Biarkan aku berbaring sebentar, Del," ujar Alex.


"Kamu bisa berbaring di kamarmu sepuasnya," pinta Teresa.


"Aku tidak punya kamar disini, aku harus pulang dulu ke rumahku jika ingin berbaring," jawab Alex.


"Kalau begitu, pulang sana!" ujar Teresa sambil menarik lengan Alex lagi.


"Biarkan aku berbaring … sebentar saja," bujuk Alex.


Teresa memutar mata dan menjawab, "Alex, ini kamarku. Jadi aku tidak sudi membiarkanmu menempati kamarku," ujarnya.


"Ini rumah Revon. Jadi ini kamar dia," ujar Alex dengan wajah yang sangat menjengkelkan.


"Tutup mulutmu dan keluar sekarang!" teriak Teresa.


"Jangan teriak-teriak. Kamu ingin mereka semua datang kesini?" bisik Alex dengan melirik ke arah pintu.


Dengan kesal, Teresa keluar dari kamar dan menutup pintu dengan kasar.