
"Kita sudah sampai" Ujar Alex.
"Thank you." Ujar Rose dengan tersenyum tulus. Ya, dia merasa sedikit tidak enak jika bersikap dingin. Karena bagaimanapun Alex sudah menolongnya.
"With pleasure." Jawab Alex dengan tersenyum senang karena Rose sudah bersikap lebih ramah.
"Ah, kamu tunggu disini. Sebentar, okay?" Ujar Rose lalu bergegas keluar dari mobil Alex.
"Hey! Ada apa?" Ujar Alex setengah teriak karena wanita itu sudah berlari masuk ke dalam hotel.
Setelah beberapa menit, wanita itu kembali dan membawa sesuatu di tangannya. Dia mendekat ke jendela mobil Alex dan memberikan sapu tangan.
"Sapu tangan milikmu. Kamu meminjamkannya padaku beberapa waktu lalu." Ujar Rose dengan menaikkan kedua alis.
"Ah, itu. Kamu simpan saja sapu tangannya." Ujar Alex mengembalikan sapu tangannya ke Rose.
"Tidak mau. Ini punyamu jadi aku kembalikan. Sudah ambil saja. Aku masuk dulu, bye." Ujar Rose sambil berjalan kembali ke arah hotel.
Alex tersenyum lebar. Hatinya merasa senang. Dengan wajah tersenyum dia menancap gas pergi dari hotel.
•••
Kamar Rose
Rose POV
"Sekarang bagaimana aku bisa ke kantor? Aku tidak bisa bertemu dengan Stevan." Ujar Rose panik.
Kamu benar-benar bodoh Rose! Rencanaku gagal dan malah aku yang bingung sekarang. Ditambah lagi Stevan berulang kali telpon tanpa ada satu pun yang aku angkat.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.
Tok. Tok. Tok.
Tanpa mengecek siapa yang mengetuk, aku membuka pintu kamar. Dan ternyata yang mengetuk pintu kamarku adalah..... Stevan.
Spontan aku mencoba menutup kembali pintunya, tapi gagal karena Stevan menyisipkan sepatunya di antara pintu.
"Open the door, Rose." Ujarnya dengan raut wajah serius.
"No! Aku sedang tidak ingin bertemu denganmu." Jawabku sambil tetap menahan pintu.
"Jangan uji kesabaranku. Rose." Ujar Stevan dengan suara yang rendah membuat bulu kudukku merinding.
"Lebih baik kamu pergi...." Ujarku namun belum selesai aku bicara, dia memaksa masuk dan mendorong pintu dengan mudah.
Perlahan aku mundur dan menjauh dari dia. Hingga tanpa sadar aku terpojok dan di belakangku adalah ranjang.
Dia tetap berjalan mendekat hingga wajah kami hanya berjarak 1 inci.
"Apa yang kamu mau? Mundur!" Ujarku dengan tenang.
Dia hanya diam dan menatapku. Sedetik kemudian dia menciumku dengan penuh hasrat. Aku hanya diam, otakku belum mencerna kejadian ini.
Tangannya mendorongku ke ranjang dan menindih tubuhku. Saat itu aku tersadar dan berusaha menjauh darinya namun dengan cepat dia menahan tubuhku dan menyatukan kedua tanganku di atas kepala.
"Apa yang kamu lakukan?! Apa kamu sudah gila! Lepaskan aku! " Teriakku.
"Apa maksudmu? Kamu yang duluan menciumku. Dan lagi ... kemarin aku sedang mabuk.." Ujarku mencoba menjelaskan.
****! Genggaman tangannya sangat erat hingga terasa menyakitkan. Bagaimana aku bisa lepas darinya? Pikirku dengan panik.
"Aku. tidak. peduli. Kamu sudah membuatku tidak waras semalaman. Dan pagi ini kamu menghilang entah kemana. Tapi untung saja aku tahu tempat kamu tinggal." Ujar Stevan dengan tertawa mengerikan.
Dia mulai menciumi leherku dan membuka sweaterku.
Aku harus menghentikannya. Tapi bagaimana? Ruangan kamar di hotel ini semua kedap suara.
"Stevan! Stop!" Teriakku panik karena dia mulai membuka celana jeansku.
"Sstt.. Kamu cukup diam saja. Aku yakin kamu juga akan menikmatinya.." Ujar Stevan dengan smirknya.
Bagaimana ini?
Aku menggerak-gerakkan kakiku agar terlepas darinya, tapi dia malah semakin menindihku dan menghimpit kakiku dengan kakinya.
"Percuma. Aku tidak akan melepaskanmu." Bisik Stevan di telingaku.
Dia mulai menciumi tubuhku.
Tidak kumohon jangan.
Revon, aku membutuhkanmu. Tolong aku.
Tanpa sadar air mataku mengalir dengan deras. Siapapun tolong aku! Please!
"Hmm..Kulitmu sangat lembut.." Bisiknya lagi.
"**** you!" Teriakku di sela-sela tangisan.
"Aku sudah baik kepadamu. Tapi lihat, kamu malah mengumpat padaku. Aku tidak akan menahan lagi..." Ujar Stevan dengan rahang yang mengeras.
Dia mendekat ingin menciumku, tapi aku berusaha menjauhkan wajahku darinya. Dengan kasar tangannya meraih wajahku agar tidak bergerak.
Dia menciumku, namun aku menutup mulutku dan tidak membalas ciumannya. Stevan menggeram dan menampar pipiku dengan keras.
"Kamu ingin menurut denganku atau aku akan melakukannya dengan kasar hingga kamu tidak akan bisa bangun keesokan paginya." Ujar Stevan dengan mencengkram wajahku.
Aku hanya diam dan menangis. Aku sudah pasrah, kepalaku pusing dan tubuhku lemas.
Aku hanya menutup mata tidak ingin melihat semua ini. Apa kalau aku mencoba untuk tidak merasakannya, semua akan berlalu dengan cepat?
Tiba-tiba terdengar suara gaduh. Detik selanjutnya aku tidak merasakan tubuh Stevan yang tadinya berada di atasku.
Terdengar suara orang berkelahi dan beberapa kali benda yang pecah. Aku tidak mau melihat.
Selanjutnya aku merasakan seseorang naik ke ranjang. Namun aku tetap menutup mata karena terlalu takut.
Aku terkejut mendengar suara yang berada di depanku.
"Are you okay, bae?" Tanyanya dengan lembut. Ada nada cemas didalamnya.
Seketika aku membuka mataku dan bertemu dengan mata merah gelap yang familiar. Tapi otakku sudah lelah dan aku pun pasrah ketika kegelapan menyambutku.