My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 73 - Back to Paris



Chapter sebelumnya 


"Hmm …." Rose menikmati ciuman panas yang Revon berikan.


Kini mereka berdua sudah berada di kamar yang ada di pesawat jet. Setelah mengobrol cukup lama, Revon akhirnya mengajak Rose untuk masuk ke kamar.


Dengan cepat Revon mengunci pintu dan membaringkan Rose di atas ranjang. Jari-jarinya membelai lembut leher jenjang wanita itu.


Ciuman Revon semakin lama semakin turun, dari dagu hingga ke rahang lalu berakhir di leher. Revon menggigit leher Rose, erangan nikmat keluar dari mulut Revon. Darah segar mengalir ke kerongkongannya.


Rose merasakan gejolak panas di tubuhnya. Dia mulai mendesah saat merasakan Revon yang semakin merapatkan tubuhnya. Dia bisa merasakan sesuatu yang menonjol di bawah sana.


Setelah cukup mengambil darah wanita itu, Revon menjilat luka gigitannya untuk menghilangkan bekas. 


Revon kembali menciumi tubuh Rose sambil membuka satu persatu pakaian wanita itu. Setiap saat, Revon menatap intens mata Rose seakan ingin menambah gejolak gairahnya agar lebih membara.


Dan benar saja, Rose tiba-tiba bangkit dari posisi tidurnya dan mulai melepas kemeja Revon dengan perlahan. Rose mencoba mengeksplor tubuh Revon dengan seksama.


"Haahh … Hmm ... Rose, sekarang giliranku," ujar Revon dengan nafas yang tidak beraturan.


Lelaki itu mendorong tubuh Rose agar berbaring di ranjang. Bibir mereka kembali menyatu memberikan ciuman panas satu sama lain.


Tanpa berlama-lama, Revon melucuti celananya dan memasukkan juniornya dengan sekali hentakan. 


"Aaahh …. " desah Rose ketika merasakan hentakan kasar dari Revon.


Revon bergerak dengan ritme cepat, membuat Rose mencengkram erat bahunya hingga kuku-kuku wanita itu menancap di kulitnya.


"Revon … Eenggh … Aahh …." 


"Haah … Rose …. "


Rose menutup mata menikmati sensasi yang menjalar dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Desahan-desahan keluar dari mulutnya dengan bebas.


Wanita itu merasa sudah dekat dengan puncak kenikmatan. Tubuh Rose perlahan menegang, membuat Revon semakin bersemangat.


"Eemhh … Revon," desah Rose saat mencapai puncak kenikmatan.


"Aahh … Rose," desah Revon kemudian menyusul Rose.


Revon memeluk Rose dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Berulang kali Revon mengecup kening wanita itu hingga membuatnya tertidur.


•••


Revon menepuk-nepuk pipi Rose dengan lembut untuk membangunkannya. Lelaki itu baru saja selesai membersihkan diri dan butir-butir air masih menetes dari rambutnya. Butiran air itu turun menjatuhi wajah Rose membuat wanita itu membuka mata dengan malas.


"Bangun, Bae. Sebentar lagi pesawat akan landing," bisik Revon.


"Kamu sudah mandi?" ujar Rose melihat butiran air yang menetes dari rambut Revon. Wanita itu bangkit dari posisi tidurnya lalu duduk dengan menarik selimut menutupi tubuh polosnya.


"Aku ingin kamu istirahat lebih lama, jadi aku memilih untuk mandi lebih dulu sebelum membangunkanmu," jawab Revon.


Bibir Rose terlihat cemberut dengan raut wajah kesal. Hal itu membuat Revon merasa gemas, dengan santainya lelaki itu menarik selimut yang menutupi tubuh Rose hingga terjatuh ke lantai.


Tiba-tiba Revon menggendong Rose dan membawanya ke kamar mandi. Wanita itu mengeluarkan suara, "Revon! Turunkan aku! Aku akan mandi. Sendiri," ujar Rose setengah teriak.


"Kamu tidak ingin aku mandikan?" Goda Revon dengan smirknya.


"Aku bukan anak kecil," jawab Rose.


Revon tersenyum lalu menurunkan tubuh Rose dari gendongannya, "Justru karena kamu bukan anak kecil," Revon menjawab dengan menatap Rose intens.


"Revooonn!" Kesal Rose dengan memelototi Revon.


"Oke, fine ... Aku akan keluar," ujar Revon dengan menahan tawa lalu menghilang di balik pintu kamar mandi.


•••


Setelah beberapa menit, Rose selesai dengan ritual mandinya. Dia tidak mendapati Revon di kamar. Namun sebuah gaun cantik telah siap untuknya. Sebuah note tertempel di gaun itu.


Wanita itu memutar mata, sebuah senyuman mengembang di bibirnya. Dia mengambil gaun itu lalu memakainya. Dia bisa merasakan setiap lekuk tubuhnya dibalut dengan pas oleh gaun itu.



Setelah memakai riasan wajah yang natural, Rose berkaca sambil mengambil gambar dirinya dengan kamera ponselnya. Dia sangat suka dengan gaunnya. Terlebih lagi ini adalah pemberian Revon untuk yang kesekian kalinya. Dengan wajah yang tersenyum, wanita itu keluar dari kamar untuk mencari Revon.


Tepat setelah keluar dari kamar, Rose melihat Revon yang sedang berbicara dengan Robert. Di depan Robert terdapat sebuah macbook yang sedang beroperasi.


"Katakan padanya, besok dia tidak perlu datang lagi ke kantor. Oke?" ujar Revon kepada Robert. 


Mendengar langkah kaki seseorang membuat Revon menoleh ke sumber suara. Pandangannya terpaku kepada seseorang itu yang tidak lain adalah kekasihnya, Rose. Senyuman perlahan menghiasi wajah Revon ketika menyadari gaun yang dia belikan telah melekat sangat pas di tubuh Rose. 


"Aku tahu, gaun itu terlihat cantik jika kamu yang memakainya," ujar Revon tepat saat Rose berada di depannya.


"Gaun ini memang sudah cantik dari awal," balas Rose dengan menatap mata Revon yang terlihat berkilau. Senyuman lelaki itu sangat membuatnya terpesona.


"Tidak. Gaun ini akan terlihat biasa jika bukan kamu yang memakainya. Baiklah sekarang kamu harus duduk dan memakai sabuk pengaman," ujar Revon lalu mengajak Rose duduk di salah satu kursi bersamanya.


Tidak berapa lama, terdengar suara pilot yang menginformasikan bahwa pesawat jet sudah berhasil mendarat dengan aman di bandara. Revon membuka sabuk pengaman Rose lalu beralih ke miliknya. Lelaki itu berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Rose. 


Dengan senang Rose mengambil uluran tangan Revon lalu berjalan berdampingan ke pintu keluar. Tepat sebelum pintu keluar terbuka, Revon berbisik di telinga Rose.


"Selamat datang kembali di Paris. Bersiaplah, karena Paris akan menyambutmu," bisiknya.


Pintu pun terbuka dan kilatan-kilatan cahaya dari puluhan kamera segera memenuhi penglihatan wanita itu. Revon memakaikan sebuah kacamata hitam untuknya, lalu dengan langkah mantap Revon menuruni tangga jet. Satu tangannya melingkar di pinggang Rose dengan protektif.


"Mr. Dent, Ms. Mint. Selamat datang kembali di Paris," salah satu manager di perusahaannya menghampiri Revon dan Rose.


"Thanks. Tapi maaf, kita sedang ada acara lain. Bye," ujar Revon lalu menggiring Rose untuk masuk ke dalam mobil Audy hitamnya.


Robert sudah siap di balik kemudi, dia segera menancap gas setelah Revon masuk ke kursi penumpang disamping Rose.


Unconditionally - Katy Perry


Oh, no, did I get too close?


Oh, did I almost see what's really on the inside?


All your insecurities


All the dirty laundry


Never made me blink one time


Unconditional, unconditionally


I will love you unconditionally


There is no fear now


Let go and just be free


I will love you unconditionally


Come just as you are to me


Don't need apologies


Know that you are worthy


I'll take your bad days with your good


Walk through the storm, I would


I do it all because I love you


I love you