My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 37 - Trouble



Brak!


Erica dan Robert yang sedang berada di meja makan seketika tertegun mendengar suara benturan keras itu.


Suara apa itu? Pikir Erica.


"Aku akan pergi mengeceknya, kamu tetaplah disini." Ujar Robert lalu beranjak dari kursi yang dia duduki.


"Aku ikut." Ujar Erica yang ikut berdiri.


Robert membiarkan wanita itu ikut dan berjalan di belakangnya. Saat sampai di ruang tamu, mereka terkejut melihat Lee yang mendorong Dean ke dinding hingga muncul retakan. Robert dan Erica masih tidak mengerti alasan kenapa mereka berdua berkelahi.


Lee terlihat mencari-cari sesuatu di tangan Dean.


"Kembalikan ponselku!" Teriak Lee.


"Aku ingin bermain game juga." Ujar Dean dengan tersenyum.


"Pakai ponselmu sendiri! Dean!" Ujar Lee sambil meraih genggaman ponsel di tangan Dean.


Namun Dean memindahkannya ke tangan satunya dan menjauhkan dari jangkauan Lee.


"Fucking as*hole!" Umpat Lee.


Robert yang sudah mengerti tentang situasi yang terjadi, dia terlihat sangat kesal.


"Apa kalian tidak tahu aturan?! Ini bukan rumah kalian!" Ujar Robert dengan menatap tajam mereka.


Sedangkan Alex terlihat tidak peduli dan hanya duduk sambil meminum sebotol cola di tangannya.


"Kembalikan! Dean!" Teriak Lee dengan keras.


"Kalian benar-benar.... " Ujar Robert yang seketika terhenti melihat Revon berjalan ke arah ruang tamu dengan raut wajah yang dingin.


Revon menjetikkan jari, Dean dan Lee langsung terduduk bersimpu di lantai dengan posisi kepala tertunduk. Tubuh mereka dipaksa dalam posisi itu karena kekuatan Revon.


"Apa kamu tidak bisa mengajari spesiesmu sopan santun?" Ujar Revon.


Alex menatap lelaki itu dan kembali meneguk colanya.


"Aku belum menemukan pelatih yang cocok. Mungkin kamu bisa mendaftar menjadi pelatih mereka?" Ujar Alex dengan tertawa kecil.


Revon tersenyum lebar namun dengan tatapan yang tajam.


"Kenapa harus merepotkan diri sendiri.. Aku tinggal membunuh mereka." Ujar Revon lalu menggunakan telekinesis untuk meremas tubuh Dean dan Lee bersamaan.


"AARGHHH!!" Teriak Dean yang kemudian disusul dengan teriakan Lee yang memilukan.


"AAARRGGHH!! STOP!"


Alex mulai tidak tenang dan rahangnya mengeras. Dia merasa tidak tega, tapi itu kesalahan mereka sendiri.


Kapan kebodohan mereka berakhir?! ****! Pikir Alex.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Alex tidak tahan dan turun tangan menghentikan Revon.


Dia meletakkan botol cola dengan kasar ke meja lalu berkata,


"Cukup! Lepaskan mereka!" Ujar Alex dengan menatap tajam ke arah Revon.


Robert hanya diam menyaksikan karena dia tidak ingin ikut campur kecuali Revon mengatakan sebaliknya.


Sedangkan Erica sejak tadi melihat dengan cemas dan ingin menghentikan keributan. Robert melihat itu dan melarang Erica untuk ikut campur.


"Kita harus menghentikan keributan ini." Bisik Erica.


Robert hanya menggelengkan kepala dan menahan lengannya agar tidak beranjak dari tempat mereka berdiri.


Terdengar teriakan memilukan dari Dean dan Lee karena Revon tidak melepaskan mereka malah semakin meremas tubuh mereka.


"Lepaskan mereka! Dasar tidak tahu terimakasih! Aku sudah membawa penyihir yang kamu cari.. " Ujar Alex dengan berdiri dan melangkah mendekati Revon.


Mendengar itu Revon sedikit meredam emosinya dan memang benar perkataan dia. Walau masih kesal, dia perlahan melepas Dean dan Lee. Lalu menghadap tepat di depan Alex.


Tinggi Revon yang melebihi Alex tidak membuat lelaki itu merasa takut dan terintimidasi. Selama beberapa detik mereka beradu tatapan.


"Aku tidak akan melepaskan kalian jika membuat onar lagi dirumahku. Ini peringatan terakhir." Ujar Revon kepada Alex. Lalu lelaki itu menoleh ke arah Robert.


"Awasi mereka dengan benar, Robert. Dan bersihkan kekacauan ini. Erica, ikut aku!" Ujar Revon dan berlalu pergi ke arah kamar Rose.


•••


Setelah melihat Alex dan teman-temannya pergi tepat setelah kepergian Revon, Erica pun mulai berjalan ke arah kamar Rose.


Namun Robert tiba-tiba menarik tangannya hingga membuat langkahnya terhenti.


"Apa kamu ingin aku buatkan teh lagi? Kamu tadi belum sempat meminun tehmu, kan? Pasti sekarang sudah dingin." Ujar Robert dengan sedikit kecewa.


"Apa tidak merepotkan?" Tanya Erica.


"Tidak. Aku sangat.... eh maksudku aku tidak keberatan."


Hampir saja keceplosan. Pikir Robert.


"Baiklah kalau begitu. Ingat, 2 sendok gulanya. Aku pergi dulu." Ujar Erica dengan tersenyum lalu berbalik dan pergi ke kamar Rose.


"Ya. Aku akan selalu mengingatnya, Erica." Gumam Robert dengan tersenyum dan memandang punggung wanita itu.


•••



Di kamar Rose, Revon sedang berdiri di depan jendela dengan tangan yang berada di kedua saku celananya.


Pikirannya tidak berhenti memikirkan Rose yang tidak kunjung sadar. Ditambah semakin hari dia merasa semakin jauh dengan Rose. Dia tidak bisa membiarkan itu terjadi. Dia tidak mau kehilangan wanita yang dia cintai sepenuh hati.


Cklek.


Erica masuk ke dalam kamar. Pandangannya seketika tertuju kepada Rose yang masih terbaring di atas ranjang.


"Aku semakin merasa Rose semakin menjauh.. Aku tidak bisa membiarkan ini terus menerus, Erica.." Ujar Revon dengan suara yang lirih.


Lelaki yang baru saja terlihat sangat menakutkan tadi saat berhadapan dengan Alex, sekarang dia terlihat rapuh dan terpancar kesedihan yang mendalam.


Ya, memang siapa yang tidak akan sedih ketika kekasihnya terbaring tidak sadar seperti orang mati? Dan itu sudah berlangsung cukup lama. Aku pasti akan merasakan hal serupa dengan yang dia rasakan. Pikir Erica dengan menghembuskan nafas.


Revon berbalik dan menatap Rose yang semakin terlihat pucat. Lelaki itu rindu akan tatapan matanya. Rindu akan senyuman hangatnya. Rindu akan tingkahnya saat kesal dan marah kepadanya.


"Kamu tadi belum menjelaskan padaku.. apa yang terjadi kepada Rose? Kenapa dia tidak kunjung bangun?" Tanya Revon.


"Dia tidak sadar karena ritual yang dilakukan Stevan itu. Bisakah kamu ceritakan lagi posisi Rose saat kamu menemukannya?"


"Saat itu.. aku menemukannya di dalam kamar mandi yanng terkunci. Keadaan kamar mandi gelap, dan hanya ada lilin yang menerangi di sekeliling bathub. Bathub itu berisi air dan di sanalah Rose .... tenggelam dan tidak bernafas. Aku panik ... seketika aku mengangkatnya keluar dari air dan membaringkannya ke lantai. Aku memberikan pertolongan pertama kepadanya .... Aku sangat lega ketika dia kembali bernafas."


"Ini terlihat seperti ritual untuk penyihir agar bisa menghilang ke dunia kegelapan. Agar bisa melakukan ritual ini, penyihir membutuhkan jiwa seseorang. Aku belum tahu bagaimana cara mengembalikan jiwa itu, aku perlu mengetahui pola itu agar tahu cara apa yang harus aku lakukan."


"Apa ada sesuatu yang bisa menjadi petunjuk?" Tanya Revon.


"Leluhurku pernah membicarakan tentang buku ritual.. tapi aku tidak tahu buku itu dimana dan seperti apa." Jawab Rose.


"Aku akan membantu mencari.. tunggu! kamu bilang dunia kegelapan? Aku pernah bermimpi melihat Rose di sebuah lautan yang gelap. Dia hanya diam, saat aku mencoba mendekatinya.. Dia malah mendorongku menjauh."


"Hmm.. mungkin alam bawah sadar kalian masih terhubung. Tapi mengapa Rose malah mendorongmu saat itu?"


Mengapa Rose mendorongku menjauh? Pikir Revon.