My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 17 - Sing a song



Sejak semalam, Revon tidak bisa tidur sama sekali. Dia teringat wajah ketakutan Rose yang melihatnya saat itu.


Hatinya perih melihat wanita yang dia cintai melihatnya dengan pandangan seperti itu.


Mulai sekarang dia akan berusaha untuk tidak membuat Rose takut. Sebisa mungkin dia mengontrol setiap perbuatan yang dia lakukan.


Dia juga memperingatkan lagi ke para vampir yang bekerja dengannya untuk tidak menyetuh Rose sedikitpun. Jika melanggar, maka dia akan membunuhnya tanpa ragu.


Karena tidak bisa istirahat sama sekali, Revon memutuskan untuk pergi ke basement tempat dia mengurung Stevan.


Cklek!


Suara pintu ruangan terbuka dan Revon masuk ke dalam. Stevan masih di posisi yang sama duduk terikat dengan tali, hanya kursinya saja yang berbeda.


"Rajin sekali kamu menjengukku. Apa kamu tidak sibuk dengan kekasihmu itu?" Ujar Stevan mengawali pembicaraan.


"Aku sudah tahu kamu hanya mencoba memprovokasiku waktu itu." Jawab Revon dengan tenang.


"Dia pasti menyangkalnya kan? Bodoh! Tentu saja dia tidak mau mengatakannya kepadamu. Kami bersenang-senang selama kamu tidak ada. " Ujar Stevan dengan tersenyum lebar.


Tidak dia bukan wanita seperti itu. Stevan pasti mencoba membuat hubunganku hancur. Pikir Revon


Ah, iya. Rose pernah mengatakan kalau beberapa kali bertemu seseorang yang mirip denganku. Apa itu ilusi yang dibuat Stevan? Pikir Revon lagi.


"Apa kamu memakai sihir ilusi kepada Rose?" Tanya Revon.


Stevan hanya diam dan tersenyum. Selama beberapa menit dia tidak menjawab. Berarti itu benar dia yang melakukannya.


Revon merasa kesal dan menendang tubuh Stevan hingga terjatuh ke lantai. Dia kembali mengangkat tubuh Stevan dan menatap matanya.


"Kamu ingin bermain-main dengan pikirannya?! Sekarang aku akan melakukan hal yang sama denganmu. Bahkan lebih buruk. Kamu akan merasakan kegelapan menghantuimu, hingga kamu merasa ketakutan dan memilih untuk mati." Ujar Revon. Lalu Stevan melihat mata Revon yang berubah menjadi hitam kelam dan seperti menyedotnya untuk masuk ke dalamnya.


Stevan sempat memberontak dan mendorong Revon dengan tangannya. Tapi lelaki itu sama sekali tidak terpengaruh.


Setelah beberapa menit, Stevan perlahan diam dengan tatapan kosong dan alis yang berkerut seperti orang ketakutan.


Revon melepasnya dan pergi dari ruangan itu meninggalkan Stevan yang mulai berteriak histeris.


Beberapa vampir yang berjaga memandang Revon dengan horror. Mereka melihat aura gelap mengelilingi tubuh lelaki itu ditambah dengan bola mata yang hitam menyeramkan.


•••


Di kamar mandi


Rose POV



Aku membuka bajuku dan berdiri di depan cermin. Kulitku masih terlihat pucat. Namun iris mataku terlihat lebih bersinar sekarang. Mungkin karena aku sudah tidak bermimpi lagi.


Luka gigitan di bibirku masih terlihat samar-samar. Tapi sama sekali tidak sakit.


"Apa memang seperti itu?" Gumam Rose.


Okay lupakan hal itu.


"Ponselku! Ah disana rupanya." Ujarku.


Aku tadi membawa ponsel untuk memutar lagu saat mandi agar membuat moodku membaik.


Aku mulai memutar lagu dari Liam Payne ft Rita Ora - For You.


Lalu aku masuk ke kabin shower dan mulai menyalakan krannya. Air mulai membasahi tubuhku. Aku pun mulai bernyanyi mengikuti lirik lagunya.


Menuangkan shampo beraroma lavender. Sangat harum dan menenangkan.


Dia benar-benar tahu kesukaanku? Pikirku dengan tersenyum lebar. Dengan mengusap-usap rambut aku mulai sedikit menari mengikuti irama lagu.


"I wasn't looking for love 'til I found you...Ooh na-na ayy yes..." Aku bernyanyi dengan riang.


Setelah itu aku membasuh shampo di rambutku di bawah pancuran shower. Dan memastikan tidak ada shampo yang tertinggal.


Namun tiba-tiba aku terkejut mendengar suara seseorang berdehem.


Aku memekik kaget dan menoleh ke sisi kananku. Aku melihat Revon berdiri bersandar di wastafel sambil melipat tangannya di depan dada.


"Oh my god! You are scaring me!" Teriakku kesal kepadanya.


*Rekomendasi lagu yang diputar di bagian ini (No Running From Me by Toulouse.)


🎶🎶🎶


Dia hanya diam dan menatapku dari atas hingga ke bawah. Perlahan iris matanya berwarna merah gelap.


Bibirnya sedikit terbuka dan dia menelan ludah.


Perlahan dia membuka kaosnya membuatku jatungku berdegup kencang.


"Apa-apa yang kamu lakukan?" Tanyaku dengan sedikit gugup.


Dia tersenyum manis dan menyisirkan jari di rambutnya dengan perlahan.


"Mandi?" Jawabnya dengan mengangkat kedua bahu.


"Kamu tidak boleh mandi disini." Ujarku menolak.


Aku bisa merasakan pipiku memanas melihat dia mulai membuka celananya.


"Alasannya?" Tanyanya dengan santai.


Eh, apa alasannya? Tanyaku pada diri sendiri.


Selama beberapa menit aku tidak menemukan apa alasannya. Dia tersenyum.


Oh god! Senyuman itu. Dia sangat tampan.


"Sepertinya otakmu tidak bisa menemukan alasannya. Benarkan Ms. Mint?" Tanyanya dengan tatapan geli.


Dia masuk ke kabin dan berdiri di bawah pancuran shower. Air menetes dari ujung kepala hingga turun ke seluruh tubuhnya.


Aku hanya menatapnya dan menelan ludah dengan susah payah.


"Kenapa kamu tidak bernyayi?" Tanyanya saat mengusapkan shampo ke rambutnya.


Shit. Apa dia mendengarku bernyanyi? Pasti suaraku sangat jelek. Alam bawah sadarku merutuki kebodohanku.


"Tidak apa." Jawabku dengan pipi yang memanas.


Lalu terdengar lagu dari Zayn Malik ft Tailor Swift yang berjudul I Don't Wanna Live Forever dari ponselku.


Aku mencoba untuk tetap diam dan tidak ikut menyanyi tapi itu lagu kesukaanku.


Hah!


Tiba-tiba aku mendengar Revon menyanyikan salah satu liriknya.


"I don't wanna live forever, 'cause I know I'll be living in vain... And I don't wanna fit wherever.... I just wanna keep calling your name until you come back home.."


Oh my god! Aku baru pertama kali mendengarnya menyanyi dan suaranya sangat merdu. Teriak alam bawah sadarku. Dia sangat senang kegirangan.


Aku menahan senyumku dan melanjutkan mandiku.


"Kenapa kamu terlihat seperti menahan senyum?" Tanyanya dengan tertarik.


"Tidak apa-apa" Jawabku sambil mengusapkan sabun.


Dia masih menatapku dan berjalan mendekat ke arahku.


Aku sedikit kaget dan mundur agar aku bisa melihat wajahnya.


Disana, lelaki tampan itu menatapku intens seakan ingin melahapku dengan tatapannya.


Lalu dia berbisik di telingaku yang membuatku tertegun dan jantungku kembali berdegup kencang.