
Chapter sebelumnya
Mendengar langkah kaki seseorang membuat Revon menoleh ke sumber suara. Pandangannya terpaku kepada seseorang itu yang tidak lain adalah kekasihnya, Rose. Senyuman perlahan menghiasi wajah Revon ketika menyadari gaun yang dia belikan telah melekat sangat pas di tubuh Rose.
"Aku tahu, gaun itu terlihat cantik jika kamu yang memakainya," ujar Revon tepat saat Rose berada di depannya.
"Gaun ini memang sudah cantik dari awal," balas Rose dengan menatap mata Revon yang terlihat berkilau. Senyuman lelaki itu sangat membuatnya terpesona.
"Tidak. Gaun ini akan terlihat biasa jika bukan kamu yang memakainya. Baiklah sekarang kamu harus duduk dan memakai sabuk pengaman," ujar Revon lalu mengajak Rose duduk di salah satu kursi bersamanya.
Tidak berapa lama, terdengar suara pilot yang menginformasikan bahwa pesawat jet sudah berhasil mendarat dengan aman di bandara. Revon membuka sabuk pengaman Rose lalu beralih ke miliknya. Lelaki itu berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Rose.
Dengan senang Rose mengambil uluran tangan Revon lalu berjalan berdampingan ke pintu keluar. Tepat sebelum pintu keluar terbuka, Revon berbisik di telinga Rose.
"Selamat datang kembali di Paris. Bersiaplah, karena Paris akan menyambutmu," bisiknya.
Pintu pun terbuka dan kilatan-kilatan cahaya dari puluhan kamera segera memenuhi penglihatan wanita itu. Revon memakaikan sebuah kacamata hitam untuknya, lalu dengan langkah mantap Revon menuruni tangga jet. Satu tangannya melingkar di pinggang Rose dengan protektif.
"Mr. Dent, Ms. Mint. Selamat datang kembali di Paris," salah satu manager di perusahaannya menghampiri Revon dan Rose.
"Thanks. Tapi maaf, kita sedang ada acara lain. Bye," ujar Revon lalu menggiring Rose untuk masuk ke dalam Audy hitamnya.
Robert sudah siap di balik kemudi, dia segera menancap gas setelah Revon masuk ke kursi penumpang disamping Rose.
•••
Sore hari di kota Paris terlihat sangat menakjubkan. Langit jingga tengah berbaur dengan birunya awan, mengajak bulan untuk keluar dari peraduannya.
Setelah masuk ke dalam mobil, Rose mengerutkan alis sambil menatap Revon untuk meminta penjelasan, "Acara? Acara apa? Kamu tidak memberitahuku sebelumnya." Ujarnya.
Revon hanya tersenyum dan memandangi wajah Rose. Lelaki itu tampak tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Rose. Sementara wanita itu masih menunggu jawabannya.
"Revon?" Rose mulai kesal, dia berusaha untuk menahan diri untuk tidak marah.
"Bae. Kamu sangat cantik. Jadi mau ke acara apapun, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan," balas Revon dengan tenang. Tangannya meraih anak rambut yang menutupi wajah Rose sambil memainkannya.
"Tapi … tetap saja. Kenapa kamu tidak memberitahuku?"
"Tenang, Bae. Percaya padaku, oke?" Revon mencoba menenangkan Rose.
"Hmmm … oke," balas Rose mencoba melepaskan semua kekhawatirannya dan menghilangkan rasa gugupnya.
Pasalnya, dia sudah lama tidak bersosialisasi dengan orang banyak. Selama dia tidak sadar hingga kembali pulih seperti sekarang, dia hanya bertemu dengan Revon, Alex, Aston, Teresa dan beberapa teman Alex. Robert dan Erica pun hanya bertemu kemarin saat mereka sadar dari pengaruh racun.
Revon mencoba membantu Rose agar lebih tenang dengan menggenggam tangannya. Mengecup tangan wanita itu berkali-kali.
Selama beberapa menit perjalanan, akhirnya mobil berhenti di suatu restoran yang dulu pernah mereka datangi. Revon keluar mobil lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Rose.
Sebelum memasuki restoran, Revon meminta Rose untuk memejamkan matanya. Awalnya Rose tidak mau, tapi Revon terus membujuknya. Akhirnya wanita itu mau memejamkan mata.
Revon memasangkan sebuah kain panjang menutupi matanya. Rose tiba-tiba tertawa karena teringat momen seperti ini pernah dia alami.
"Ada yang lucu?" tanya Revon.
"Tidak." Rose akhirnya berhenti tertawa.
"Bagaimana? Apa ikatannya terlalu kencang?"
"Nah. Ini sudah cukup."
Perlahan Revon menuntun Rose untuk berjalan masuk ke dalam restoran. Di dalam restoran sudah ditata sedemikian rupa hingga membuat satu meja menjadi pusat dari meja lainnya. Pada satu meja itu terdapat buket bunga mawar merah yang berukuran besar.
Lalu ada lilin-lilin menyala di tengah meja, dan tersedia peralatan makan yang berkilau di atas meja.
Revon sudah menyewa seluruh restoran dan meminta pemilik restoran membuat beberapa dekorasi. Empat pilar megah dari besi mengelilingi meja dengan hiasan bunga mawar merah dan putih.
Saat hampir sampai di meja, Revon menghentikan langkah Rose lalu membuka penutup matanya.
"Kamu yang membuat semua ini?"
"Bukan aku, Bae. Jika aku yang melakukannya pasti akan lebih bagus dari ini."
Rose tertawa dengan lepas mendengar ucapan dari Revon. Lelaki itu menggenggam tangan Rose mendekati meja. Revon menarik kursi untuk Rose duduk lalu mencuri kecupan di pipi Rose.
Setelah Revon duduk di kursinya, seorang pelayan wanita datang dengan sopan. Sebuah buku menu dia berikan kepada masing-masing mereka.
Keduanya selesai memilih menu lalu pelayan itu pergi untuk menyiapkan pesanan. Revon menuangkan wine dari botol yang sudah tersedia di atas meja.
"Jadi, ini yang kamu maksud 'acara' itu?" tanya Rose dengan menatap Revon.
"Apa yang kamu harapkan? Datang ke acara orang lain di hari pertama tiba di Paris? Aku pasti sudah gila jika seperti itu," Revon menjawab dengan candaannya.
"Ah, iya. Wartawan di bandara tadi tidak akan mengikuti kita kemana-mana, kan?"
"Tenang, Bae. Tidak perlu mencemaskan hal itu."
Pelayan yang sama kembali membawa makanan. Tanpa sadar, Rose menjadi lapar melihat makanan yang terlihat lezat.
Sambil menyantap makanan, mereka sesekali saling berbicara mengenai segala hal.
"Setelah ini kita akan pergi ke suatu tempat," ucap Revon.
"Kemana?"
"Habiskan makananmu dulu. Aku akan memberitahumu saat di mobil."
Rose memutar mata mengetahui jika itu hanya bujukan semata. Dia tidak akan memberitahunya. Setelah selesai dengan acara makannya, Revon kembali menggandeng tangan Rose hingga ke mobil.
"Robert, jalan."
"Baik, Bos."
Rose melirik Revon yang terlihat sedikit raut tidak tenang, "Kamu terlihat sedikit aneh."
"A-aneh? Aneh bagaimana?" balas Revon.
"Entahlah. Seperti cemas akan sesuatu?"
"Aku baik-baik saja, Bae. Terima kasih sudah perhatian."
"Hmmm." ucap Rose sambil menatap Revon dengan tatapan menyelidik.
"Oke. Sudah sampai," Revon segera turun dari mobil dan membuka pintu untuk Rose.
"Menara Eiffel?" tanya Rose tidak percaya.
"Aku belum pernah mengajakmu jalan-jalan ke sini. Iya, kan?"
"Iya. Tapi aku pernah kesini bersama Wen."
"Itu beda. Saat ini kamu bersamaku berjalan-jalan di Menara Eiffel."
"Hmm iya iya beda. Kali ini aku datang bersama Revonelle Dent yang paling tampan."
"Apa kamu ingin es krim Mrs. Dent?"
"Pffft … Yeeah. Ayo kita membeli es krim Mr. Dent."
Mereka berdua tertawa bersama sambil berjalan menuju ke penjual es krim. Revon berusaha untuk menjaga jarak Rose tetap dekat dengannya. Dan selalu mengawasi sekitarnya. Dia benar-benar menjaga miliknya kali ini.