
Chapter sebelumnya
Wanita itu sedikit kikuk saat datang memberikan tehnya. Revon segera menerima teh itu dan menatapnya tajam. Wanita itu takut dan berjalan cepat untuk menjauh dari mereka.
"Kamu membuatnya takut." ucap Rose sambil mulai mengunyah sandwichnya.
Revon tersenyum lalu menatap Rose intens. "Kamu membuatku ingin menciummu."
Pipi Rose merona mendengar itu. "Jas itu cocok denganmu."
"Hanya cocok? Bukannya kamu tadi memandangku hingga kamu lupa caranya mengunyah?" goda Revon.
Rose tersedak, seketika Revon memberikan teh hangat yang ada di sampingnya. Rose perlahan meminum tehnya hingga terasa membaik.
"Aku sudah tidak berselera makan sekarang." ungkap Rose.
"Kenapa? Apa kamu ingin memakanku sekarang?" canda Revon.
Rose menatap Revon tajam, namun Revon malah tersenyum lalu mengecup bibir Rose. "Jangan marah, Bae. Aku akan segera berganti pakaian. Kamu tunggu disini. Okay?"
Rose menangguk dan melihat Revon berjalan menuju fitting room.
•••
Setelah dari butik Melvin, Revon teringat beberapa hal untuk persiapan pernikahan yang masih harus dicek. Tapi melihat hari yang sudah menjelang sore, Revon berpikir untuk mengantar Rose pulang agar bisa beristirahat dan fresh untuk hari besar besok.
"Bae, aku masih harus memeriksa beberapa hal untuk persiapan pernikahan besok. Aku tidak ingin kamu kelelahan jadi aku akan mengantarmu pulang." tutur Revon dengan sesekali menatap Rose yang berada di kursi penumpang.
"Tapi … aku ingin melihat-lihat juga. Aku ingin ikut." tolak Rose.
"Bae, percayakan semuanya padaku. Hari sudah menjelang sore. Aku tidak ingin kamu kelelahan. Okay?" bujuk Revon.
"Baiklah. Btw, dimana tempat acara pernikahannya?" tanya Rose.
"Kamu akan tahu besok." balas Revon dengan senyuman.
"Revon, beritahu aku sekarang."
"Tidak."
"Revon!"
"Kita sudah sampai rumah." ucap Revon lalu keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Rose.
Dari arah rumah datanglah Robert yang mengambil barang-barang yang berada di dalam bagasi mobil. Robert lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Rose menatap Revon cukup lama untuk menunggu jawaban. Namun Revon hanya tersenyum dan tidak berniat untuk menjawab Rose.
"Kamu menyebalkan." kesal Rose lalu beranjak keluar dari mobil.
Sebelum Rose melangkah menjauh, Revon menarik tangan Rose hingga membuat wanita itu berbalik menghadapnya. Tangan Revon melingkar di pinggang Rose, lelaki itu mengecup pipi Rose.
"Tidak ada yang perlu kamu cemaskan, Bae. Nikmati sisa hari ini dengan tenang dan istirahatlah yang cukup. Tidak ada yang tahu kamu besok bisa beristirahat atau tidak, kan?" bisik Revon di telinga Rose.
Rose bisa merasakan pipinya yang memanas dan senyuman tipis di bibirnya. Revon menatap Rose dengan intens lalu mengecup bibirnya.
"Okay, aku harus pergi sekarang. See you, Bae." ucap Revon lalu melepaskan pelukannya.
Revon masuk ke dalam mobil, namun sebelum pergi lelaki itu berkata. "Bae, tenang saja. Aku sudah mengundang Wen untuk datang besok."
Rose seketika tersadar jika dirinya belum memberi kabar kepada manajer sekaligus sahabatnya itu. Wanita itu mengambil ponselnya dan melakukan panggilan ke Wen.
Tuutt
Tuutt
Tuutt
Rose menunggu dengan penuh antisipasi. Wen tidak kunjung mengangkat panggilannya. Rose mencoba kembali menelpon Wen. Kali ini Wen mengangkat panggilan dengan cepat.
"Wen … apa kamu besok ada jadwal kerja?" tanya Rose sambil berjalan menuju lantai 2.
"Ada tapi hanya setengah hari. Ah, aku lupa kalau kamu sudah sampai di Paris. Kamu muncul di halaman depan berita hari ini." tanya Wen.
"Berita? Tunggu, biar aku cek." ucap Rose yang sudah sampai di kamar yang dia tempati sebelumnya.
Rose membuka salah satu situs berita terkini dan dia melihat fotonya berdua dengan Revon yang baru sampai di bandara. Tertulis headline,
"Pasangan Revonelle Dent dan Roseline Mint baru saja terlihat di bandara kemarin. Mereka terlihat semakin dekat. Apakah hubungan mereka akan mencapai ke jenjang yang lebih serius?"
Rose menghembuskan nafas kasar lalu kembali berbicara dengan Wen. "Oh God! Mereka benar-benar berusaha keras menulis berita ini."
"Hahaha … Kamu tahu sendiri bagaimana para pencari berita itu. Jadi apa kamu sedang luang? Bagaimana kalau–" usul Wen.
"Wen. Sebenarnya aku ingin memberitahukan sesuatu." potong Rose.
"Apa? Ada apa?" tanya Wen.
"Aku … "
"Kamu??"
"Aku akan … "
"Akan apa?!" ucap Wen tidak sabar.
"Aku akan menikah besok." ungkap Rose cepat.
Selama beberapa detik Wen tidak bersuara, Rose yang bingung pun mencoba memanggilnya.
"Wen? Kamu mendengarku? Wen?!"
"Kamu besok menikah? Dengan siapa?"
"Iya Wen. Aku besok menikah, dengan siapa lagi kalau bukan Revon. Revon bilang sudah memberitahumu." jelas Rose agak kesal.
"Hahaha iya dia memang sudah memberitahuku dan mengundangku. Tapi aku masih tetap ingin mendengar kabar ini dari mulutmu sendiri. Dasar Rose."
"Okay. Jadi kamu tahu dimana tempat acara pernikahannya, kan?"
"Tentu. Tapi jangan harap aku akan memberitahumu. Hahaha."
"Wen! Ayolah, beritahu aku." pinta Rose.
"Tidak akan. Baiklah sudah dulu, Rose. Aku harus mengerjakan sesuatu."
"Wen? Beritahu aku dulu … ayolah."
"Kamu lebih baik istirahat sekarang. Bye Rose." ucap Wen lalu mematikan ponsel.
Rose menggeram kesal lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Wanita itu menatap langit-langit kamar dengan menghembuskan nafas kasar.
"Bagaimana aku bisa istirahat jika pikiranku masih penuh dengan pertanyaan?!" geram Rose.
Akhirnya Rose membersihkan makeupnya lalu berganti pakaian. Rose memutuskan untuk menjelajahi rumah baru yang dia tempati.
Rumah ini lebih besar dan terlihat elegan dari rumah Revon yang dulu. Selain itu warna dindingnya pun tidak terkesan gelap melainkan terlihat soft dengan warna-warna nude.
Rose mulai berkeliling di lantai 2 rumah. Terdapat 6 kamar dan 1 ruangan yang masih kosong di sana. Lalu saat turun ke lantai 1 terlihat ruang tamu yang berhadapan dengan tangga. Lalu berjalan ke sebelah kiri terdapat dapur yang luas serta ruang makannya.
Di belakang terdapat pintu yang menuju ke kolam renang dengan kursi-kursi panjang di sekitarnya. Kembali ke dapur, lurus lalu belok ke kanan terlihat pintu geser yang berupa kaca. Dari tempat Rose berdiri, terlihat hijaunya pepohonan dan bunga mawar yang tumbuh subur di taman.
Rose tersenyum dan berjalan ke arah taman itu. Di tengah taman terdapat gazebo yang di dalamnya tertata meja dan kursi-kursi. Wanita itu berdiam diri di gazebo sambil menikmati matahari terbenam.
Tanpa sadar, rasa kantuk mulai menghampiri Rose. Perlahan wanita itu memejamkan mata dan tertidur diatas kursi yang diduduki. Matahari pun benar-benar sudah kembali ke peraduannya dan tibalah rembulan yang menggantikan.
Sebuah ponsel di dalam kamar berulang kali berbunyi menandakan adanya sebuah panggilan masuk. Namun tidak ada seorangpun yang datang untuk menerima panggilan itu. Hingga dering ponsel tiba-tiba berhenti dengan sendirinya karena telah habis dayanya.