My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 35 - Erica



Setelah sampai di kediaman Revon, Alex turun terlebih dahulu karena melihat 2 vampir yang menghadang jalan masuknya.


Dengan langkah tenang, Alex menghampirinya dan berkata,


"Kami ingin bertemu Revon jadi jangan halangi pintu masuknya." Ujar Alex dengan wajah datar.


"Tapi, kami tidak diberitahu tentang kedatanganmu. Dan lagi.. aroma kalian sangat tidak enak, seperti anj*ng yang habis jatuh ke selokan." Ujar salah satu vampir dengan tersenyum meremehkan.


"Ya. Kami tidak suka kalian datang kesini." Ujar vampir lainnya.


"Coba ulangi perkataan kalian!?" Ujar Alex dengan alis berkerut karena marah.


"Aroma kalian..." Belum selesai vampir itu bicara, Alex tiba-tiba menerjangnya dan melemparnya ke pohon yang ada di halaman.


Brak! Krek!


Sontak vampir yang satu lagi pun membalas menyerang Alex, tapi karena Alex adalah pemimpin klan serigala yang sudah terlatih sejak kecil membuatnya mudah mengalahkan vampir biasa hanya dengan pukulannya.


Vampir yang baru saja menyerangnya kini ikut terkapar di halaman dengan pecahan-pecahan pot bunga di sekelilingnya.


Karena kegaduhan itu, Robert pun keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Rupanya Alex dan temannya datang dengan seorang wanita yang terlihat familiar.


Sedetik kemudian dia terkejut melihat wanita itu yang sekarang sudah turun dari mobil. Mulai dari atas sampai bawah Robert benar-benar yakin kalau dia adalah..


"Erica!?" Ujar Robert dengan mata yang terbelalak.


Erica hanya menatapnya dan tersenyum canggung.


"Kenapa kamu tidak bisa dihubungi? Aku dan Revon mencarimu..." Ujar Robert yang tiba-tiba dipotong oleh Alex.


"Nice. Sekarang aku sudah membawa seseorang yang kamu cari. Jadi ayo masuk!" Ujar Alex dengan santainya. Dia berjalan masuk lebih dulu selayaknya pemilik rumah.


Saat berjalan di lorong ke arah kamar Rose, tiba-tiba muncul Revon dari sudut lorong dengan aura yang dingin dan mata yang berwarna hitam.


Tanpa peduli, Alex tetap melanjutkan berjalan ke kamar Rose yang sudah dekat. Lalu perlahan membuka pintu dan masuk.


Cklek.


Terlihat wanita itu masih pada tempatnya, di atas ranjang dan tidak bergerak sama sekali. Kecuali gerakan pelan di dada yang menandakan dia masih bernafas.


Alex merasa kesedihan kembali muncul dan membuatnya ingin cepat menyembuhkan Rose. Dia ingin melihat wanita itu memarahinya lagi, atau memakinya. Itu masih lebih baik daripada keadaannya yang seperti ini.


Tangannya ingin menyentuh wajah wanita itu yang terlihat pucat. Namun tepat sebelum dia menyentuhnya, tiba-tiba terdengar suara seseorang memperingatkan dia dari arah belakangnya.


"Jangan menyentuhnya! Aku mengizinkanmu masuk bukan berarti kamu bisa bebas melakukan apapun." Ujar Revon dengan nada dinginnya.


Dia bersandar di dinding yang berada di samping pintu dengan lengan yang terlipat di depan dada.


Alex hanya menatap Revon dengan satu alis terangkat dan menampilkan smirknya.


Cklek.


Pintu kembali terbuka, dan terlihat 2 orang masuk ke dalam kamar. Mereka adalah Robert dan Erica.


"Lihat! aku sudah membawa orang yang sedang kalian cari." Ujar Alex sambil melihat Revon. Sedangkan Revon hanya diam dan beralih menatap Erica.


"Maaf kalau aku tiba-tiba menghilang. Biar aku jelaskan. Saat kamu sedang berada di New York. Aku sudah memberikan sihir pelindung ke Rose. Tapi setelah itu aku mendapat ancaman. Awalnya hanya ancaman surat yang memperingatkan aku untuk tidak ikut campur. Besoknya ada ancaman lagi, kali ini isinya ancaman rumahku akan dibakar. Awalnya aku tidak percaya, namun aku mencoba datang mengunjungi rumahku. Dan ternyata itu benar-banar terjadi! Untungnya aku datang tepat waktu dan berhasil membawa adikku keluar. Setelah aku kembali ke rumahmu, Rose sudah menghilang. Sementara itu... ancaman masih berlanjut. Jadi... aku memutuskan tidak mencari Rose dan pergi dari kota ini." Jelas Erica dengan merasa bersalah.


"Aku tidak ingin membahas itu. Sekarang, aku hanya ingin kamu menyembuhkan Rose. Karena aku tidak tahu sihir apa yang sudah dilakukan Stevan." Ujar Revon dengan menghembuskan nafas kasar.


"Stevan?" Tanya Erica.


"Seorang Penyihir yang aku kejar saat di New York." Jawab Revon.


"Jadi... apa yang terjadi sebenarnya saat kamu di New York?"


"Aku akan menceritakannya nanti. Sekarang kamu periksa Rose dulu." Ujar Revon dengan tegas.


"Okay okay. Aku akan memeriksanya." Ujar Erica lalu berjalan mendekati ranjang.


Dia duduk di tepi ranjang dan melihat wajah Rose yang pucat. Tangannya bergerak menyentuh wajah wanita itu, dan terkejut dengan kulitnya yang terasa sangat dingin seperti es.


Saat dia mencoba menggunakan sihirnya yang dialirkan ke tubuh Rose. Sama sekali tidak ada respon dari wanita itu. Seperti jiwanya tidak berada di dalam tubuh.


"Bisakah kalian keluar? Aku ingin memeriksa tubuh Rose." Ujar Erica.


"Periksa saja. Kenapa harus..." Ujar Alex yang dipotong oleh Erica.


"Aku harus melepas semua bajunya." Ujar Erica.


"Baiklah." Ujar Alex.


Namun saat melirik ke arah Revon yang tidak ikut beranjak, Alex pun berkata,


"Kamu harus keluar juga." Ujarnya sambil menatap Revon.


"Aku kekasihnya. Aku akan tetap berada di sini." Ujar Revon dengan wajah datar.


"Kalau begitu aku akan disini juga."


"Jangan memancingku Alex! Keluar!"


"Kalau aku tidak mau?"


Sekejap tangan Revon sudah mencengkeram kuat leher Alex dan mendorongnya ke dinding. Warna matanya masih belum berubah sejak tadi, masih hitam kelam.


"Dengar! Aku sedang berusaha menahan diriku untuk tidak menggila... Tapi jika kamu memancingku seperti ini.. Aku tidak akan tinggal diam." Ujar Revon dengan rahang yang mengeras.


Alex berusaha melepaskan cengkaraman tangan Revon, hingga kuku Alex menembus kulit lelaki itu. Namun Revon tetap dalam posisinya dan tidak bergerak sama sekali bahkan cengkramannya semakin kuat.


Alex mulai kehabisan nafas. Dengan enggan Revon melepaskan cengkeramannya.


"Uhuk.. uhuk.. Fu*k you, Dent!" Umpat Alex dengan terbatuk-batuk.


Revon mendorong Alex keluar dan menutup pintu tepat di depan wajan Alex.


Brak!