My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 40 - The Darkness



Chapter sebelumnya....


"Aku akan pergi sendiri." Ujar Erica.


"Tidak. Kamu tidak boleh pergi sendiri." Ujar Robert dengan mengerutkan alis tidak setuju.


"Aku bisa pergi sendiri.. lagipula.." Ujar Erica yang tiba-tiba dipotong Robert.


"Aku akan menemanimu. Kamu mau berangkat sekarang? Aku akan ambil beberapa barang sebentar."


"Hey! Tidak perlu aku akan pergi sendiri..."


"Sstt.. Aku tidak terima penolakan. Tunggu disini !"


Lalu Robert berlari dengan cepat dan menghilang masuk ke dalam rumah.


•••


Akhirnya Robert pun menemani Erica pergi ke desa tempat kerabatnya tinggal. Lelaki itu sudah memberitahukan kepada Revon tentang kepergiannya untuk menemani wanita itu.


Revon memperbolehkan asistennya untuk pergi sambil mengawasi Erica. Dia meminta Robert untuk secepatnya menemukan buku itu, karena dia takut jika semakin lama Rose tidak akan bisa bangun lagi untuk selamanya.


"Yes, Boss. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk segera menemukan buku itu. Saya akan mengabari anda tentang perkembangan pencarian kami nantinya. Kalau begitu, saya permisi dulu." Ujar Robert.


"Thank you, Robert." Ujar Revon dengan sedikit tersenyum.


Robert mengangguk dan pergi menghilang di balik pintu.


•••


Malam ini hujan deras mengguyur Kota Brittany. Petir yang menyambar saling bersautan satu sama lain membuat suasana semakin suram dan menyeramkan.


Di dalam kamar, seorang lelaki duduk di sofa dengan sebuah buku tebal di tangannya. Kedua matanya tertuju kepada setiap kata-kata yang tertulis di buku.


Setiap beberapa detik dia memandang Rose yang masih terbaring di atas ranjang. Lelaki itu tidak berhenti berharap agar kekasihnya segera sadar dan kembali kepadanya.


Dia melanjutkan membaca bukunya dan tiba-tiba dia terfokus ke satu halaman. Headline dari halaman itu bertuliskan "Jiwa yang terjebak di dalam dunia kegelapan".



Dunia kegelapan, adalah lautan kegelapan yang sunyi dan sepi. Air yang terasa dingin menyakitkan hingga terasa sampai ke tulang, dan secara perlahan memudarkan sensitivitas pada kelima indra pada tubuh.


Sehari berada di sana terasa lebih lama daripada di dunia nyata. Semakin lama berada di sana, semakin menyatu dan menjadi bagian dari lautan kegelapan. Menenggelamkan siapapun kedalam kegelapan yang tidak berujung.


Bahkan Pangeran Kegelapan pun harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk bisa mengatur dunia kegelapan.


Kegelapan yang menakutkan, kegelapan yang menghanyutkan, kegelapan yang memakanmu secara perlahan.


Revon terdiam. Pikirannya mencoba mencerna semua kalimat yang ada di buku itu. Dia teringat akan mimpinya kemarin.


"Lautan? Kegelapan...." Gumam Revon dengan alis berkerut dalam.


"Dunia kegelapan adalah.. lautan yang gelap?" Gumamnya lagi.


Seketika mata lelaki itu terbelalak menyadari akan sesuatu.


"Apa aku pernah berada di sana? Apa aku benar-benar terhubung dengan Rose?" Ujar Revon.


Berulang kali pertanyaan itu berputar di pikirannya.


Apa aku sungguh berinteraksi dengan Rose saat di dalam mimpi?


Memang itu terasa sangat nyata, hingga tamparan Rose waktu itu terasa di pipinya.


Namun bagaimana bisa aku masuk ke dunia kegelapan?


Apa saat aku tidur lagi, aku bisa bertemu dengan Rose?


Mengapa dia selalu menolakku saat aku mencoba menolongnya?


Lelaki itu menghembuskan nafas kasar. Jari-jarinya menyisir rambut hitamnya dan menariknya sedikit. Dia ingin segera menolong wanita itu.


"Fu*k. Aku lelah dengan semua ini. Rose, apa yang harus aku lakukan?" Ujar Revon dengan menatap wanita itu.


•••


Lee dan Dean baru saja memesan makanan cepat saji untuk dimakan bersama-sama. Ricky dan Taylor sudah mengambil makanan mereka masing-masing. Mereka semua menyantap makanan di ruang tamu. Tiba-tiba Alex keluar dari kamar dan menuju keluar rumah.


"Alex! Kamu mau pergi kemana?" Tanya Lee yang sedang memakan burger.


"Menjeguk Rose." Ujar Alex sambil berjalan santai ke arah pintu.


"Bukannya vampir itu tidak memperbolehkan kamu kesana?" Tanya Dean setelah mengunyah gigitan burgernya.


"Hmm.. Dia tidak mengatakan seperti itu. Hanya kalian berdua yang tidak boleh kesana. Kalian sudah membuat onar." Ujar Alex lalu membuka pintu. Namun sebelum keluar dia berteriak.


"Simpan bagianku. Nanti aku akan kembali." Teriak Alex lalu menutup pintu di belakangnya.


Ricky menatap Dean dan Lee secara bergantian. Dia penasaran dengan maksud "membuat onar" seperti yang dikatakan Alex.


"Apa yang sudah kalian lakukan?" Tanya Ricky dengan menaikkan satu alisnya.


Dean tidak menjawab dan hanya menaikkan kedua bahunya acuh tak acuh. Sedangkan Lee sama sekali tidak ingin menjawab dan tidak menghiraukan pertanyaan Ricky.


"Pasti ulah bodoh seperti biasa, Rick. Kamu tahu.. berebut bermain game di ponsel?" Ujar Taylor yang membuat Lee dan Dean tersedak secara bersamaan.


"Uhuk.. uhuk.."


"Ah, sepertinya aku menebaknya dengan benar?!" Ujar Taylor dengan tertawa lebar memperlihatkan gigi-giginya yang putih.


"Seriously? Kalian melakukan hal bodoh itu? Oh God" Ujar Ricky dengan menggelengkan kepala.


"Hey! Aku hanya ingin meminjam ponsel dia. Tapi dia tidak mau meminjamkan." Ujar Dean tidak terima.


"Dean. Kamu punya ponsel sendiri. Kamu tinggal menginstal gamenya di ponselmu. Jeez, kenapa aku harus meminjamkan ponselku kepadamu?!" Ujar Lee dengan memutar mata.


"Aku hanya ingin meminjamnya sebentar. Aku ingin tahu cara bermainnya. Tapi kamu malah tidak meminjamkannya... Dasar pelit."


"Hah! Kamu ingin merasakan tinjuku, Dean? Tanganku sangat gatal ingin meninju wajah bodohmu itu."


"Apa?! Siapa yang kamu bilang wajah bodoh? Wajahku ini sangat sempurna. Semua wanita pasti akan bertekuk lutut ingin menjadi kekasihku."


"Pfftt.. Yah. Terlalu sempurna hingga Erica merasa jijik hanya dengan meladeni kamu bicara."


"Kamu tidak mengerti wanita. Dia pasti saat ini sedang memikirkanku dan tidak bisa melupakan wajahku yang tampan ini. Dia hanya jual mahal diawal, tapi lihat saja.. nanti dia pasti akan mendatangiku dan menyatakan perasaannya kepadaku."


"Oh, benarkah? Bukankah kamu juga sering ditolak oleh wanita lain. Kamu menangis 5 hari karena ditolak oleh Cherryl. Kamu tidak lupa, kan?"


Mendengar itu Ricky dan Taylor pun teringat kejadian itu dan tertawa dengan kencang. Yah, memang waktu itu Dean menangis selama 5 hari berturut-turut karena ditolak pernyataan cintanya untuk yang ke-10 kalinya.


"Ya ya ya. Tertawalah sepuas kalian. Aku tahu kalian juga tidak memiliki kekasih dan sepertinya tidak ada wanita yang menyukai kalian juga." Ujar Dean dengan memutar mata.


"Kalau pun aku punya kekasih, aku tidak akan memperkenalkannya kepadamu." Ujar Taylor.


"Yes, i agree. Dia teman yang sangat memalukan. Aku tidak ingin kekasihku nanti kabur dan meninggalkanku." Ujar Ricky dengan smirknya.


"No way! Kekasihmu pasti meninggalkanmu karena menyadari wajahku yang sempurna dan lebih tampan dari kamu. Tapi sebagai teman, aku tidak akan menerima dia. Aku tidak ingin barang bekas darimu." Ujar Dean dengan raut wajah jijik.


Ricky yang melihat itu pun melempar kaleng soda kosong ke arah kepala Dean.


Tak.


"Awwh." Ujar Dean sambil mengusap kepalanya.


"Sepertinya otakmu sudah bergeser. Aku tidak ingin mendengarkan ocehanmu itu." Ujar Ricky lalu beranjak ke arah kamarnya.


Satu persatu mereka pun meninggalkan Dean yang masih berada di ruang tamu.


"Mereka pasti minder denganku." Gumam Dean dengan santainya.