My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 47 - Hello bae



Chapter sebelumnya


Pedang itu menyayat leher Stevan dan seketika darah pekat mengucur dengan derasnya. Tubuh lelaki itu ambruk dan tergeletak di lantai kamar. Api di sekeliling kamar semakin menyambar dan menjalar ke tubuh yang tergeletak itu.


Ajaibnya api itu tidak mendekat ke tubuh Revon. Seolah ada semacam tameng yang melindunginya.


Pedang yang ada digenggamannya mulai menghilang seiring dengannya yang berjalan keluar dari kamar.


Cklek. Pintu tertutup dibelakangnya.


Seluruh bagian rumah masih sama, tidak ada sambaran api yang menjalar keluar kamar. Hanya kamar itu yang terbakar dan menjadi lautan api.


Serentak dengan langkah kakinya menuju kamar miliknya, semua lampu mulai menyala kembali dan kembali normal seperti tidak terjadi apa-apa.


Cklek.


Saat membuka pintu, pandangannya tertuju ke arah ranjang dengan Rose yang terlelap di atasnya.


Langkah kakinya mendekat ke arah ranjang. Dengan mudah dia naik ke atas benda persegi panjang empuk itu dan memeluk tubuh wanitanya diiringi nafas lega.


"My Rose." Gumam Revon dengan lirih.


•••


Sinar mentari telah beranjak dari tempat persembunyiannya membawa pancaran kehangatan yang tidak akan ada habisnya. Pancaran itu mengintip dari sela-sela tirai jendela yang tidak tertutup rapat.


Seolah ingin memberitahukan eksistensinya lebih lagi, hembusan angin pun membantunya dan membuka paksa tirai jendela hingga pancaran sinar mentari masuk dengan leluasa.


Di tengah kamar terlihat seorang wanita yang terlelap di atas ranjang king size. Dia terganggu dengan sinar mentari yang masuk seenaknya.


Dia mencoba menutup wajahnya dengan telapak tangannya, namun dia masih belum bisa menggerakkan anggota tubuhnya dengan bebas. Hanya jari-jari dan telapak tangan yang bisa dia gerakkan.


Lalu tiba-tiba terdengar suara seseorang menutup tirai dengan sigap. Membuat wanita itu membuka sedikit matanya untuk melihat siapa seseorang yang menutup tirai itu.


Belum sempat melihat wajahnya, seseorang yang diketahui adalah lelaki itu sudah berpindah posisi di depan ranjang. Lebih tepatnya menghadap ke arah ranjang.


Dia berdiri dengan kedua tangan di saku celana sambil menatap wanita itu dari bawah hingga naik ke atas.


"Bagaimana perasaanmu? Apa kamu bisa menggerakkan tubuhmu? Atau kamu pusing?" Tanya lelaki itu secara beruntun tanpa jeda.


"Ehem.. Revon. Aku tidak mau menjawab banyak pertanyaan di saat pertama kali aku sadar. Dan yah, aku tidak bisa menggerakkan anggota tubuhku. Rasanya sangat susah." Jawab wanita itu dengan frustasi.


Bahkan suara dia juga masih serak karena lama tidak dipakai untuk bicara.


"Metode apa? Dari mana kamu tahu metode itu?" Tanya wanita itu, siapa lagi kalau bukan Rose. Roseline yang baru saja bangun dari tidur panjangnya.


Revon hanya tersenyum dengan lebar sehingga taringnya sedikit mengintip dari balik bibir merahnya.


Perlahan senyuman itu menghilang dan digantikan dengan smirknya. Lelaki itu berjalan mendekat ke ranjang hingga sekarang kedua kakinya menempel di tepi ranjang.


Satu kakinya bergerak naik ke atas ranjang empuk itu, celana kain yang sedang dia pakai bergesekan dengan kaki Rose yang sedang bersejajar.


Tapi tetap saja Rose masih tidak merasakan apa-apa. Karena dia sudah lama tidak menggerakkan otot dan syaraf tubuhnya.


Kalian tahu apa yang Revon lakukan selanjutnya?


Dia kemudian menundukkan tubuhnya hingga kepalanya sejajar dengan kaki Rose. Dengan pandangan yang terfokus ke wajah wanita itu, Revon mulai menjilat punggung kaki Rose dengan sangat pelan.


Semakin ke atas dia semakin berbuat sesukanya, menjilat hingga mengigit kecil kaki seputih susu itu.


Apakah Rose mulai merasakan rangsangan itu?


Rose masih terdiam dan tidak menolak perlakuan lelaki itu. Kedua mata Rose menatap setiap aksi Revon yang sensual itu.


Saat tangan Revon sampai di pangkal pahanya, Rose sedikit menampilkan raut wajah penuh antisipasi. Benar saja, jari-jari lentik lelaki itu memberikan sentuhan ke area sensitifnya.


Tapi lagi lagi Rose masih belum merasakan apa-apa. Namun dia masih ingin terus melanjutkan metode yang Revon maksud ini.


"Aku akan memulai kembali di kaki ini." Ujar Revon sambil membelai lembut kaki Rose yang belum dia cicipi.


Dia beringsut ke bawah dan mengulang kembali aksinya seperti di kaki yang satunya. Menjilat, mencium hingga mengigit kecil paha mulus itu.


"Apa kamu menikmati pertunjukan ini? " Ujar Revon disela-sela mencium kaki Rose.


Rose melihat Revon dengan serius dan mulut yang sedikit terbuka. Lelaki itu kembali melanjutkan aksinya. Saat sampai di paha mulus wanita itu, Revon mendongakkan kepalanya.


"Oh, bae. Kamu tahu seberapa besar rasa rinduku?"


Lalu tiba-tiba Revon mengigit paha Rose sedikit kuat hingga membuat Rose memekik kaget karena dia sedikit merasakan sesuatu seperti sengatan listrik.


"Aku marah... aku marah karena kamu sudah membuatku menunggu selama ini.. Tapi aku juga merasa senang hingga rasanya aku rela bersujud di kakimu." Ujar Revon setelah menjilat bagian yang dia gigit tadi.


Untuk mempermudah aksinya, Revon menarik kasar gaun tidur berwarna putih yang sedang Rose pakai. Sontak Rose membelalakkan mata melihat satu-satunya penutup tubuhnya sudah terkoyak tidak berbentuk.


"Hmm.. Aku harus mengabsen satu persatu milikku. Jangan malu untuk mendesah, bae. You are mine. Only mine." Ujar Revon dengan smirknya yang sangat menggoda.