My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 62 - Distaste



Setelah menunggu selama 40 menit, akhirnya makanan yang dipesan Revon datang. Seorang pegawai pesan antar membawa tumpukan kotak-kotak yang berisi makanan itu ke ruang tamu.


"Ambil saja kembaliannya." Ujar Revon kepada pegawai itu. Dengan wajah senang, pegawai itu pun pergi dari rumah Revon.


"Kamu pesan sebanyak ini." Ujar Rose yang merupakan pernyataan.


"Aku teringat dengan Aston. Jadi aku menambah jumlah pesanan makanannya." Jawab Revon dengan mengangkat kedua bahunya.


"Ah, kalau begitu aku akan memanggil Aston." Rose pun beranjak dari ruang tamu dan berjalan menuju kamar Erica.


Beberapa menit kemudian, Rose kembali bersama Aston. Namun tidak hanya mereka berdua, rupanya teman-teman Alex sedang berada di dalam rumah juga.


"Kebetulan aku sangat lapar." Ujar Dean sambil mengusap perutnya.


"Wah, dari aromanya saja sudah enak." Ryan bersuara dengan riang.


Revon yang melihat keberadaan teman-teman Alex itu, merasa kesal. Dia tidak ingin teman-teman Alex ikut makan bersama. Revon tidak sudi mengeluarkan uang untuk mereka.


Rose dan Aston sudah lebih dulu mencari tempat duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan teman-teman Alex masih sibuk mengoceh kesana kemari.


"Sejak kapan mereka berada di sini?" Tanya Revon kepada Aston tanpa ragu.


"20 menit yang lalu, mungkin." Jawab Aston sekenanya.


Revon mendengus kesal, membuat Rose yang berada di sampingnya menoleh.


"Kenapa?" Tanya Rose dengan penasaran.


"Aku hanya sedikit tidak suka melihat Anjing." Ujar Revon dengan nada sarkasnya.


Ryan, Dean, Taylor dan Lee pun menoleh bersamaan menatap Revon.


"Bilang saja tidak suka kami ikut makan." Ujar Dean.


"Tapi kita bukan anjing." Bisik Ryan kepada Dean.


"Itu sebutan khusus dia kepada kita. Lebih baik kita pergi saja cari makan di luar." Lee pun mengajak teman-temannya untuk pergi.


"Revon, biarkan mereka ikut makan bersama. Lagipula makanan ini terlalu banyak untukku dan Aston." Bujuk Rose.


"Benar yang dikatakan Rose. Selain itu, aku yakin mereka pasti sudah lama tidak makan enak." Ujar Aston dengan smirknya.


"Hey! Kamu meremehkan kami, huh?" Ujar Lee yang terlihat kesal kepada Aston


"Sudah. Kita makan di luar saja." Taylor menimpali lalu beranjak dari tempat duduknya.


Lee segera menyusul Taylor. Lalu Ryan masih terlihat enggan untuk berdiri, tapi Dean menyeretnya dengan kasar. Sebelum benar-benar pergi, Dean menoleh ke arah Revon dan Aston dengan mengacungkan jari tengahnya.


"Kenapa kalian seperti itu kepada mereka?" Tanya Rose dengan frustasi. Dia tidak menyangka Revon dan Aston kompak merundung teman-teman Alex.


"Aku tidak suka dengan mereka ataupun werewolves lain. Bisa dibilang itu sudah sifat alamiahku." Jawab Revon dengan santainya tanpa rasa bersalah.


"Bagaimana denganmu Aston?" Rose bertanya kepada lelaki muda yang duduk di sebrangnya.


"Aku hanya bercanda tadi. Tapi mereka terlihat sangat tidak menganggap itu candaan." Ujar Aston.


"Haaah.. Kalian benar-benar..." Keluh Rose sambil menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah bae, lebih baik kamu mulai memakan makanannya sebelum dingin." Revon bersuara dengan lembut.


Rose pun perlahan mengambil makanan yang berada di sisi meja terdekatnya. Lalu disusul Aston yang mengambil makanan yang berada di tengah-tengah meja.


Rose menawarkan makanan kepada Revon, namun lelaki itu menolak dengan alasan sedang tidak ingin "makan".


Makan yang dimaksud Revon adalah makan makanan manusia.


Rose pun melanjutkan makan sambil sedikit mengobrol dengan Aston tentang banyak hal.


Sudah 2 jam sejak Rose dan Aston menyelesaikan makan malam mereka di ruang tamu. Namun sejak tadi, Rose lebih banyak diam dan cenderung tidak mengacuhkannya.


Saat ini mereka sedang duduk di kursi yang berada di balkon kamar Revon. Rose terlihat fokus membaca buku novel di tangannya.


"Bae, sampai kapan kamu terus diam? Dengar! Aku tidak akan meminta maaf kepada mereka walapun kamu tidak mengacuhkanku seperti ini." Ujar Revon.


Rose yang mendengar itu pun sontak menutup buku novelnya dengan kasar, lalu menatap ke arah Revon.


"Kamu lihat 'kan makanan tadi masih banyak yang belum tersentuh. Mereka bisa memakan itu sehingga tidak ada makanan yang terbuang sia-sia jika saja kamu tidak bersikap seperti itu." Ujar Rose dengan kesal.


"Jika kamu menyayangkan hal itu. Okay, lain kali aku tidak akan memesan makanan terlalu banyak lagi." Jawab Revon.


"Kenapa kamu tidak suka dengan mereka?"


"Aku sudah memberitahumu. Ini sudah sifat alamiahku."


"Aku masih belum mengerti. Mereka tidak melakukan kesalahan denganmu. Kalau kamu tidak suka dengan Alex aku memakluminya. Tapi ini..." Ucapan Rose terhenti ketika melihat Revon tiba-tiba sudah berada di depannya.


Lelaki itu berdiri dengan sedikit menunduk, kedua tangannya berada di tangan kursi yang terletak di sisi samping kanan dan kiri tubuh Rose.


"Kenapa kamu sangat ingin membela mereka? Apa kamu punya perasaan kepada salah satu dari mereka?" Tanya Revon dengan tatapan tajamnya.


"Apa maksudmu? Aku bukan wanita yang mudah jatuh cinta kepada seorang lelaki. Dan kamu adalah lelaki pertama yang mampu merebut hatiku. Berbeda denganmu yang sepertinya terlihat sangat berpengalaman dengan wanita." Ujar Rose dengan nada sarkasnya.


"Shit! Oke, cukup! Aku tidak ingin melanjutkan perdebatan ini." Revon bangkit berdiri dan menyusupkan jari-jarinya di rambut dengan frustasi. Perasaannya bercampur aduk. Kesal, marah yang bercampur dengan rasa cemburu.


"Kenapa?! Kamu tidak bisa menjawabnya? Perkataanku memang benar, kan?" Ujar Rose dengan emosi. Dirinya sudah terlanjur tersulut oleh perkataan Revon yang meragukan kesetiannya.


"Rose." Ujar Revon memperingatkan. Sepatah kata lagi keluar dari mulut Rose, maka Revon benar-benar tidak bisa menahan diri.


"Fu*k you!" Umpat Rose dengan lantang.


Dalam sekejap, Revon sudah berada di depan Rose. Tangannya mencengkram kasar dagu wanita itu yang membuat wajah mereka berhadapan.


Kedua bola mata Revon menggelap sempurna, membuat Rose menelan ludah menatap Revon.


"Ya, kamu benar. Aku memang sangat berpengalaman dengan wanita, sampai setiap wanita itu tidak bisa melupakan sentuhanku. Namun aku tidak pernah menemui mereka untuk yang kedua kalinya. Kamu tahu kenapa? Karena aku tidak suka tidur dengan wanita yang sama berulang kali.... Bagaimana? Apa aku sudah cukup brengsek di matamu?" Jelas Revon dengan penuh penekanan.


Rose hanya diam menatap Revon dengan tajam.


"Kenapa kamu hanya diam? Apa kamu sudah kehabisan kata-kata?" Sarkas Revon.


"Kamu memang brengsek! Brengsek!" Teriak Rose dengan serak. Matanya terasa panas, air mata mulai menetes di pipinya.


Sedetik kemudian isak tangis Rose memenuhi balkon kamar itu. Revon melepaskan cengkramannya di dagu wanita itu dan duduk berlutut di hadapan Rose.


"Kamu ingin jawabanku, kan? Dan aku sudah menurutimu." Revon bersuara dengan lirih.


"Kenyataanya aku pernah sebrengsek itu. Dan kamu sudah membuat vampir brengsek ini bertekuk lutut di hadapanmu. Hanya kamu." Ujar Revon dengan suara serak. Dia merasa menyesal sudah membuat Rose menangis.


"Hatiku terasa perih mendengar jawabanmu tadi... Itu membuatku takut.. Suatu saat kamu juga akan meninggalkanku.." Rose berkata di sela-sela tangisannya.


"Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu Rose. Ssshh.. Berhenti menangis." Revon berusaha menenangkan Rose. Kini rasa marahnya menguap entah kemana, berganti dengan rasa bersalah.


Revon mengusap air mata di pipi Rose lalu memeluk wanita itu. Selama beberapa menit mereka tetap dalam posisi seperti itu.


Saat Revon melirik wajah Rose, ternyata wanita itu tanpa sadar terlelap dengan nyenyak. Dengan lihai, Revon mengangkat tubuh Rose dan menggendongnya ke dalam kamar.


Membaringkan wanita itu di atas ranjang dan menyelimutinya. Tidak ingin angin malam menganggu tidur Rose, lelaki itu pun menutup pintu balkon rapat-rapat setelah mengambil buku novel yang tertinggal di meja.


Tiba-tiba ponsel di saku Revon bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Alex membuatnya segera mengangkat telepon.


"Aku tidak bisa membawanya ke Brittany." Ujar Alex to the point yang membuat Revon mengeratkan rahang.


(Brittany adalah nama kota tempat tinggal Revon sekarang.)