
Chapter sebelumnya
Kini semuanya telah masuk ke dalam mobil dan mereka pun keluar dari desa sialan itu. Kali ini, Aston yang mengemudi. Dini hari mereka sudah berada di luar area desa itu. Aston segera mengunci kembali gerbangnya.
My Lord. Saya sudah membersihkan seluruh jejak kita disana. Tidak ada yang tahu bahwa kita pernah kesana. Suara dikepala Revon kembali lagi.
Revon hanya mengangguk dan menikmati perjalanan menuju rumah.
•••
Setelah perjalanan yang terasa sangat lama. Akhirnya tepat siang hari pukul 12 mobil Jeep Revon sudah sampai di rumah. Aston turun dari mobil dan berlari ke dalam rumah untuk memanggil teman-teman Alex.
Sementara Revon yang masih di mobil memandagi Alex yang kepalanya berlumuran darah. Namun sudah dipastikan jika luka dikepalanya sudah sembuh karena kekuatan serigalanya.
"Kalau tidak, dia pasti sudah mati." Gumam Revon lalu melihat Aston dan teman-teman Alex keluar dari rumah.
Revon pun keluar dari mobil dan mengatakan pada teman-teman Alex untuk membawa Robert dan Erica ke dalam rumah. Tapi salah seorang mereka, Dean melihat Alex dengan kepala berlumuran darah.
"Alex? Apa yang kamu lakukan padanya?!" Ujar Dean dengan penuh curiga kepada Revon.
"Kalau itu ulahku, pasti akan lebih parah dari sekedar luka di kepala. Alex, mau sampai kapan kamu pura-pura tidak sadar huh?" Ujar Revon dengan santai.
"Kamu terlihat peduli denganku beberapa waktu lalu." Jawab Alex dengan smirknya.
"Ah, jika aku tahu kamu sudah sadar saat itu. Aku tidak sudi membopongmu ke mobil."
"Thanks. Walau aku tidak mau mengatakan itu. Baiklah, aku harus membersihkan ini agar ketampananku kembali." Ujar Alex lalu turun dari mobil dan berjalan ke dalam rumah dengan normal.
"Whatever." Jawab Revon sambil memutar mata.
Aston terlihat mengarahkan Taylor dan Dean untuk membopong Robert. Lalu Lee sendiri yang menggendong Erica.
"Aston. kamu tahu kamar Robert dan Erica, kan?" Tanya Revon.
"Ya tentu, kamar kami berseberangan." Jawab Aston lalu segera masuk ke dalam rumah.
Sekarang tinggal Ryan yang berada di halaman rumah bersama dengan Revon.
"Ryan, apa kamu tahu dimana Rose?" Ujar Revon.
"Tadi dia bilang ingin membaca buku di kamar." Jawab Ryan.
Lalu Revon pun segera masuk ke dalam rumah untuk bertemu dengan Rose.
•••
Disebuah kamar dengan dinding berwarna soft blue seorang wanita sedang duduk dikursi dengan buku di tangannya. Pandangannya tertuju kepada Buku Novel yang berjudul "Oh My Mister" karya dari Author Mr.Potato yang dipinjamnya dari Dean.
Flashback On
Sungguh Rose juga tidak menyangka Dean seorang penggila novel romantis murni. Jika bukan karena Rose tadi memergoki Dean yang membaca novel itu di ruang tamu sambil bersantai dengan Lee, Taylor dan Ryan. Mungkin dia tidak akan pernah tahu.
Saat Rose merebut novel itu dari tangan Dean, lelaki itu hanya menampilkan smirknya. Lalu Dean membuka ranselnya dan mengambil novel lain yang masih dengan genre romantis.
"Bawa saja. Aku sudah selesai membacanya." Ujar Dean dengan santai lalu membuka lembar pertama dari novel di tangannya.
"Baiklah. Aku akan membacanya di kamar." Ujar Rose.
Flashback Off
Cklek.
Rose mendengar suara pintu terbuka, penasaran dia pun segera melihat siapa yang masuk ke kamarnya.
"Revon. Kamu sudah kembali." Ujar Rose dengan senang lalu berlari kepelukan Revon.
"Aku hanya pergi sebentar dan kamu terlihat sangat merindukanku." Ujar Revon.
"Kamu pergi selama 21 jam. Itu bukan waktu sebentar." Jawab Rose dengan memutar mata.
Revon tertawa mendengar ucapan Rose. Dia sampai menghitung waktu kepergiannya. Revon mengecup bibir Rose.
"Aku juga tidak tahu separah apa keadaan mereka. Lebih baik kamu melihatnya secara langsung." Ujar Revon lalu mengajak Rose ke kamar Robert dan kamar Erica.
Saat Revon dan Rose berjalan menuju kamar Robert, Aston menghampiri Revon.
"Mereka berdua diracuni dan juga terlihat pucat seperti kekurangan darah." Ujar Aston.
"Aku akan mencari stok darah. Apa kamu bisa membuat penawar racunnya?" Revon menatap Aston yang terlihat tidak tenang.
"Aku belum mempelajari racun sama sekali. Jadi aku tidak bisa membuat penawarnya. Bagaimana ini?" Jawab Aston.
"Apa kamu tidak ada teman sesama penyihir?"
"Tidak."
"Aku mengenal seseorang yang bisa membantu kalian." Ujar Alex. Tiba-tiba dia datang dengan penampilan yang sudah bersih dan rapi.
"Apa kamu serius? Siapa dia?" Tanya Aston.
"Dia adalah penyihir yang lebih memilih untuk hidup normal seperti manusia biasa. Sekarang dia bekerja sebagai dokter di rumah sakit yang terletak di Paris." Jelas Alex.
"Ya, dia tidak akan ingat dengan dokter cantik itu sebelum kita ingatkan." Ujar Ryan. Tanpa sadar dia sudah memberitahu semua orang.
"Bodoh. Kenapa kamu mengatakan itu." Bisik Lee di telinga Ryan.
"Ehem... ehem.. Aku akan menjemput dokter ini ke Paris hari ini. Jadi kalian bantu mereka disini." Ujar Alex sambil menatap teman-temannya dengan raut wajah kesal.
"Kami akan membantu mereka. Jangan khawatir, Bos." Jawab Ryan dengan menahan senyum.
"Selamat bertemu man-tan, Bos." Bisik Dean dengan lirih.
Sayangnya bukan hanya Alex yang mendengar bisikan itu. Revon juga.
"Kamu harus berhasil membawa Dokter itu kesini, Alex." Ujar Revon dengan penekanan pada kata 'dokter'.
"Aku bukan pesuruhmu." Ujar Alex singkat. Dia beranjak pergi dengan teman-temannya yang mengekori di belakangnya.
"Apa dia serius mengenai penyihir yang menjadi dokter itu?" Tanya Rose enggan untuk percaya dengan Alex. Pasalnya lelaki itu terlihat sangat tidak bisa dipercaya.
"Kita lihat saja nanti. Ah, Aston golongan darah kakakmu AB, kan?" Tanya Revon kepada Aston.
"Ya, betul. Apa kamu bisa mendapatkannya?" Ujar Aston.
"Seluruh tipe darah pun aku bisa mendapatkannya jika kamu mau." Jawab Revon.
Aston mengangguk setuju dan kembali ke kamar Erica. Rose dan Revon pun mengikuti Aston ke kamar Erica untuk melihat keadaannya.
Erica terlihat pucat, dibawah matanya terlihat sedikit lingkaran hitam. Bibirnya terlihat kering seperti orang yang tidak minum beberapa hari. Tubuhnya juga terlihat lebih kurus. Satu hal yang melegakan, Erica masih bernapas.
"Seharusnya kita menyelamatkan dia lebih awal. Mungkin dia masih baik-baik saja." Ujar Rose yang merasa bersalah.
"Dia akan baik-baik saja, Bae." Ujar Revon sambil merangkul bahu Rose.
Cklek.
Alex masuk ke kamar Erica.
"Ehm.. For your information, aku akan terbang ke Paris hari ini. Tidak ada yang ingin mengucapkan salam perpisahan?" Ujar Alex dengan menatap Rose, Revon dan Aston bergantian.
"Salam perpisahan? Seperti mau mati saja." Ujar Aston dengan menahan tawa.
Rose yang mendengarnya pun tertawa lirih. Sedangkan Revon hanya diam dan menatap Alex dengan pandangan 'yang benar saja'.
"Oke baiklah. Kalian benar-benar tega denganku. Selamat tinggal." Ujar Alex lalu keluar dari kamar dengan menutup pintu keras-keras.
"Kalau begitu aku tinggal ke kamar untuk istirahat. Kamu juga harus istirahat, kamu sudah memakai seluruh kekuatan hari ini." Ujar Revon kepada Aston.
"Baiklah. Thanks, Revon." Balas Aston dengan tersenyum.
Revon membalas dengan anggukan dan tersenyum. Rose pun pamit kepada Aston lalu Revon menggandeng tangan Rose untuk pergi dari kamar itu.