
Firstin Entertainment and Modeling, Inc.
Rose POV
Tidak terasa sudah waktunya pulang. Aku segera merapikan dokumen dan bersiap pulang.
Aku berjalan ke elevator, tapi entah mengapa aku merasa seperti ada yang memperhatikanku. Aku menoleh ke belakang tapi tidak ada siapapun.
Dan lagi ini kan lantai khusus ruangan CEO dan ruang meeting inti. Biasanya ruang meeting ini hanya di pakai untuk meeting besar saja. Hanya aku dan Stevan yang sering ada di lantai ini beberapa hari terakhir.
"Mungkin hanya perasaanku saja." Ujarku sambil masuk ke elevator.
Tepat sebelum pintu elevator tertutup, aku melihat seseorang berdiri di depan ruangan CEO dengan posisi punggung menghadapku.
Tunggu! Dia seperti Revon. Postur tubuh dan rambut yang sama. Walau pun rambutnya sedikit lebih panjang.
Tiba-tiba dia berbalik dan disana, aku melihat dengan jelas bahwa itu memang dia.
"Revon." Ujarku. Jantungku berdetak cepat.
Dia memakai kemeja hitam dan coat panjang berwarna hitam juga. Tatapannya tajam dan perlahan bibirnya menampilkan smirknya.
Pandanganku tidak bisa teralihkan darinya. Sayangnya pintu elevator sekarang tertutup. Aku mencoba menekan tombol buka.
"Oh C'mon... Please.. buka." Ujarku dengan memohon.
Beberapa detik kemudian pintu elevator terbuka di lantai yang sama. Namun dia sudah tidak ada di tempat semula. Dengan jantung yang masih berdetak cepat dan nafas yang tidak beraturan, aku berlari mencarinya.
Memutari seluruh lantai ini, hingga masuk ke dalam ruangan CEO. Tapi tidak ada tanda-tanda dia. Tubuhku lemas dan air mataku mulai menetes.
"Please.. I'm tired of this.. " Ujarku dan terduduk di lantai memeluk lutut lalu membenamkan kepalaku disana.
Ini benar-benar melelahkan. Bayangan dia selalu muncul.
"Kenapa aku seperti melihat kamu? Lalu dalam sekejap kamu menghilang? Revon.. Apa kamu ingin menyiksaku? Apa kamu ingin balas dendam padaku? Bunuh. Bunuh saja aku.. Aku rela.. " Gumamku di sela-sela isak tangis.
Aku mendengar suara hujan yang turun dengan deras. Semakin membuat suasana hatiku suram.
Aku melirik ke jendela, ternyata hari sudah malam dengan hujan yang sangat deras. Sehingga aku tidak bisa pulang, karena taksi akan sulit didapatkan. Aku tidak enak jika meminta Wen menjemputku lalu mengantarku pulang.
"Sepertinya aku akan tidur disini." Ujarku pada diri sendiri.
Tiba-tiba perutku terasa mual. Segera aku pergi ke kamar mandi di dalam ruangan CEO ini.
Setelah rasa mualku berkurang, aku berjalan keluar dari kamar mandi. Kepalaku terasa sangat pusing, pandanganku mulai kabur. Detik selanjutnya kegelapan menyelimutiku.
•••
Sinar matahari mulai menyeruak melalui jendela kamar. Seorang wanita cantik terbangun dari tidurnya.
"Ughh! Kepalaku.." Ujar Rose dengan menggeram.
Membuka mata, dia mengedarkan pandangannya. Warna cat dinding, perabot, dan interiornya seperti kamar hotelnya.
"Bagaimana aku bisa ada disini? Bukankah aku semalam ada di ruangan CEO?" Ujar Rose bingung.
Dia melirik tubuhnya yang masih sama memakai baju yang dia pakai kemarin. Dan tasnya juga ada di sebelahnya.
Saat melihat ke meja di samping ranjangnya, dia sangat terkejut. Di atas meja terdapat seporsi sandwich dan segelas air putih.
"Siapa yang menaruh makanan ini?" Gumam Rose.
Apa jangan-jangan Revon? Dia mengantarku pulang? Pikir Rose.
Dia benar-benar bingung namun dia tetap memakan sandwich itu karena memang belum makan sejak kemarin.
•••
Firstin Entertainment and Modeling, Inc.
Rose sedang fokus memeriksa dokumen di meja depan ruangan CEO. Seketika dia terkejut mendengar suara Stevan.
"Nanti malam ada acara penyambutanku di hotel xxx. Kamu harus ikut denganku." Ujarnya.
"Hmm. Ya." Jawab Rose dengan singkat.
"Kamu bisa pulang lebih cepat. Aku juga akan pergi setelah ini. Ah ya, kamu kirim alamat hotelmu agar aku bisa menjemputmu nanti malam." Ujar Stevan lalu pergi menuju elevator.
"Dia sama sekali tidak terlihat bekerja." Ujar Rose kesal.
Karena sekarang dia sedang sendirian, dia ingat kejadian semalam. Dia berdiri dan mengecek seluruh ruangan di lantai ini.
Terakhir dia masuk ke ruangan CEO. Dia ingat semalam setelah keluar dari kamar mandi, kepalanya sangat pusing lalu pingsan.
"Lantas bagaimana aku bisa ada di kamarku? Apa semalam aku hanya bermimpi masih di kantor?" Ujar Rose yang bingung.