
Rose terbangun karena merasa haus. Saat akan bangun, tiba-tiba ada yang menarik pinggangnya untuk tidak pergi.
Tunggu! Ini kan kamar yang ada di dalam pesawat. Kapan aku naik ke pesawat? Pikir Rose bingung.
Saat melirik ke pinggangnya, dia melihat tangan lelaki yang memeluknya dari belakang dengan erat.
Karena dia masih merasa haus di tenggorokannya. Rose pun mencoba melepas pelukan tangan dari lelaki itu. Namun tangannya sama sekali tidak melepasnya sedikitpun dan malah terdengar geraman protes dari lelaki itu.
"Hmm.. Nooo.. " Ujar lelaki itu dengan manja seperti anak kecil. Matanya masih tertutup dan dia semakin mendekatkan tubuhnya dengan Rose.
Rose tertawa kecil melihat tingkahnya.
Seorang Revon bisa bertingkah seperti ini? Oh my god, he's so cute. Pikir Rose dengan tersenyum.
"Honey.. Aku haus. Jadi aku mau pergi mengambil minum sebentar. Okay?" Bisik Rose.
"No.. Suruh saja pramugari untuk mengantarkan minum. Pakai telpon yang ada di meja." Jawab Revon dengan menggerutu.
Mendengar perkataan Revon, dia pun menoleh dan menemukan telpon di meja samping ranjang.
Tapi lagi-lagi dia tidak bisa bergerak karena Revon memeluknya dengan erat.
"Bisakah kamu melonggarkan pelukanmu? Jeez, aku tidak bisa bergerak." Ujar Rose.
Dengan enggan lelaki itu melonggarkan pelukannya dan memberi sedikit ruang untuk Rose bergerak. Setelah itu Rose segera menghubungi layanan pesawat dan memintanya untuk membawakan minuman dingin ke kamar.
Sambil menunggu, Rose mengecek ponselnya dan ternyata waktu sudah menunjukkan tengah malam.
Tok. Tok. Tok.
Suara seseorang mengetuk pintu. Rose mencoba lepas dari pelukan Revon agar bisa membuka pintu. Namun lelaki itu tidak kunjung melepasnya.
"Honey? Revon? Aku ingin membuka pintu untuk mengambil minuman."
Revon menghembuskan nafas kasar dan melepaskan pelukannya dari Rose. Setelah itu Rose berjalan membuka pintu.
Damn! Kenapa harus dia yang mengantarkan minumannya?! Dia membuatku kesal saja. Pikir Rose saat melihat pramugari yang sama dengan tadi pagi.
"Silahkan, minuman anda." Ujar pramugari itu sambil mencoba mengintip ke dalam kamar.
Apa yang dia lakukan? Jangan bilang dia ingin melihat Revon di dalam. Dasar jal*ng. Pikir Rose dengan kesal.
"Ehem.. Terimakasih minumannya. Hah! Revon benar-benar tidak melepaskanku bahkan saat tidur." Ujar Rose dengan menyesap minumannya.
Melirik ke pramugari yang ada di depannya, Rose melihat raut wajah kesal dari pramugari itu. Dia berlalu pergi meninggalkan Rose tanpa pamit.
Wanita itu tersenyum puas melihat raut kesalnya. Kembali masuk ke dalam kamar, dia terkejut melihat Revon yang duduk menatapnya dengan intens.
"Kamu sudah bangun.." Ujar wanita itu sambil berjalan mendekat ke arah Revon.
"Apa kamu masih haus?" Tanya Revon dengan suara seraknya.
"Tidak.. Kenapa? Kamu mau coba minumanku?" Jawab Rose sambil menyesap minumannya lagi.
"Sekarang aku yang haus... Tapi aku tidak mau minuman itu."
"Lalu kamu mau apa?" Tanya wanita itu dengan penasaran.
"Aku mau.. darahmu.."
Setelah mengatakan itu, Revon mengambil minuman yang ada di tangan Rose dan menaruhnya di meja yang ada di dekatnya.
Dia menyibak rambut wanita itu dan memberikan open kiss ke lehernya. Tangannya menyelinap masuk ke pakaian Rose, membelai dengan lembut tubuhnya.
Nafas wanita itu mulai tidak beraturan dan dia mengigit bibirnya menahan desahan yang ingin lolos dari mulutnya.
"You are so intoxicating." Gumam Revon.
"Hmm.. "
"Hentikan aku jika kamu merasa mulai pusing, okay?" Tanya lelaki itu dengan menatap Rose. Iris matanya mulai berubah menjadi merah gelap.
"Okay. Tapi kamu harus mendengarkanku kali ini.." Jawab Rose dengan serius.
"I'll try."
Lalu tanpa membuang waktu, Revon menancapkan taringnya ke leher wanita itu. Tangan Rose mencengkram bahu Revon dengan kuat, merasakan sakit di lehernya.
Namun itu tidak berlangsung lama, tubuhnya mulai merasakan panas dan gairahnya mulai meningkat.
"Aahh.. Revon.." Desahan lirih keluar dari bibirnya.
Selama beberapa menit lelaki itu meminum darah Rose dengan rakus. Merasakan nikmatnya setiap tetes darah yang dia hisap.
"Revon. Kepalaku mulai pusing." Ujar Rose sambil menarik rambut lelaki itu.
Revon menggeram dan perlahan menyudahi aksinya. Tiba-tiba Rose menarik wajahnya dan mencium bibirnya perlahan. Terdapat rasa pahit dan sedikit manis di bibir lelaki itu karena darah yang baru dia minum.
"Sedikit pahit" Ujar Rose setelah selesai berciuman. Revon tahu akan maksud dari Rose.
"Menurutku tidak." Balas Revon dengan tersenyum.
Wanita itu hanya menatapnya dan memilih untuk berbaring di ranjang karena tubuhnya merasa lelah setelah darahnya diambil.
Revon ikut berbaring dan menatap wajah Rose hingga wanita itu tertidur. Dia mengecup pelipis Rose dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya.