My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 75 - Engagement



Chapter sebelumnya


"Menara Eiffel?" tanya Rose tidak percaya.


"Aku belum pernah mengajakmu jalan-jalan ke sini. Iya, kan?"


"Iya. Tapi aku pernah kesini bersama Wen."


"Itu beda. Saat ini kamu bersamaku berjalan-jalan di Menara Eiffel."


"Hmm iya iya beda. Kali ini aku datang bersama Revonelle Dent yang paling tampan."


"Apa kamu ingin es krim Mrs. Dent?"


"Pffft … Yeeah. Ayo kita membeli es krim Mr. Dent."


Mereka berdua tertawa bersama sambil berjalan menuju ke penjual es krim. Revon berusaha untuk menjaga jarak Rose tetap dekat dengannya. Dan selalu mengawasi sekitarnya. Dia benar-benar menjaga miliknya kali ini.


•••


Setelah membeli es krim, Revon mengajak Rose berkeliling sambil menikmati es krim masing-masing. Malam ini, suasana di area Menara Eiffel tidak terlalu ramai. Namun terdapat beberapa pasangan lain yang juga sedang menikmati jalan-jalan malam romantis di sana.


Karena udara yang semakin lama semakin terasa dingin, Revon memakaikan jas miliknya ke tubuh Rose agar wanita itu merasa lebih hangat. 


Saat perhatian Rose tertuju kepada keindahan Menara Eiffel yang terlihat berwarna karena gemerlap lampu disekelilingnya, tiba-tiba Revon menepuk pundaknya hingga membuat Rose menoleh.


"Roses for Rose." Revon membawa sebuket besar bunga mawar merah di tangannya.


Rose tertawa mendengar ucapan Revon, "Kamu benar-benar sedang merencanakan sesuatu."


"Dan kamu ada dalam bagian rencanaku," tambah Revon.


"Hmm, rencana apa ini?" 


"Kamu akan tahu." Rose menerima buket bunga itu. Tiba-tiba Revon berlutut di hadapan Rose sambil menunjukkan cincin yang sangat indah. Cincin dengan batu Ruby berwarna merah.


Beberapa orang terlihat mendekat ke arah mereka karena merasa tertarik dengan pasangan yang terlihat cantik dan tampan itu. Mereka baru menyadari jika itu adalah Revon. CEO dari Firstin Enterntainment. 


Mereka yang sadar akan hal langka ini pun mengambil beberapa potret dari keduanya.


"Rose, kamu adalah wanita pertama dalam hidupku yang membuatku bertekuk lutut seperti ini. Tapi aku tidak merasa malu atau keberatan melakukan hal ini ..." ungkap Revon.


"Roseline Mint, sejak pertama aku melihatmu di malam itu. Kamu benar-benar menarik perhatianku. Aku terjatuh dalam pesonamu yang semakin lama semakin membuat jantungku berdetak kencang, seperti sedang hidup kembali … "


"Untuk itu, aku ingin terus menerus jatuh dalam pesonamu. Setiap hari, setiap menit, bahkan setiap detik. Roseline Mint, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?"


Rose terlihat terkejut, hatinya tersentuh mendengar ucapan Revon yang sedang melamarnya. Dia memang sudah terpikirkan suatu hal bahwa Revon sedang merencanakan sesuatu. Wanita itu tetap saja merasa terkejut dan hatinya menghangat setelah benar-benar mengalaminya.


"Tidak." ucap Rose.


"Tidak?" Revon merasa gugup seketika.


"Tidak … ada alasan untuk menolak. Dan itu berarti, aku bersedia menjadi pendamping hidupmu. Aku bersedia."


Revon berdiri sambil tersenyum bahagia. Lelaki itu mengambil sebuah cincin lalu memakaikannya ke jari manis Rose. Lelaki itu memeluk tubuh Rose dan mencium keningnya lembut.


Beberapa orang yang menonton bersorak gembira dan banyak yang mengabadikan momen itu di ponsel mereka. 


Karena malam yang semakin larut, Revon pun mengajak Rose kembali ke mobil untuk pulang.


•••


"Ini rumah siapa?" tanya Rose kepada Revon.


Di depannya sebuah rumah besar yang bernuansa vintage berdiri megah dikelilingi taman rindang yang ditumbuhi bunga mawar merah di sisi kanan dan kiri.


Revon tersenyum melihat raut wajah terpukau dari Rose kepada rumah di depannya. Meskipun masih berada di dalam mobil yang baru saja memasuki gerbang. Rose kembali menoleh kepada Revon karena dia merasa tidak mendapat jawaban darinya.


"Ini rumah siapa?" ulang Rose masih dengan pertanyaan yang sama.


"Rumahmu," jawab Revon singkat.


"Apa? R–rumahku?" tanya Rose.


"Ini terlalu berlebih–"


"Ssstt … tidak ada yang berlebihan. Jadi aku ingin kamu menerimanya. Titik."


Rose memutar mata mendengar ucapan Revon yang tidak bisa dibantah. Hal ini membuat Rose sedikit khawatir akan kehidupan setelah menikah nanti. Namun seketika dia tersadar bahwa dia pasti akan baik-baik saja. Buktinya dia masih menjalin kasih dengan Revon hingga saat ini.


Terlalu larut dalam pikirannya sendiri, Rose tidak sadar jika Revon sudah berada di hadapannya. Bersandar pada bingkai pintu mobil, Revon menatap Rose tanpa berkedip.


"Sepertinya kamu terlalu asik dengan isi kepalamu sendiri," sindir Revon yang membuat Rose tersadar.


"Aah … ehm … kenapa kamu menatapku seperti itu?" ucap Rose.


"Hmm … apa yang sedang ada dipikiranmu?" 


"Revon. Aku bertanya lebih dulu."


"Aku menatapmu karena penasaran dengan apa yang sedang kamu pikirkan hingga tidak menghiraukanku," balas Revon.


"Aku tidak memikirkan apa-apa," ungkap Rose lalu bersiap turun dari mobil. Tapi karena kakinya tidak melangkah dengan tepat, membuatnya hampir saja terjatuh jika Revon tidak menangkap tubuhnya tepat waktu. Kini mereka sedang dalam posisi berpelukan.


"Carefull! Bae," bisik Revon.


"Maaf." Rose bersuara lirih lalu mencoba menegakkan tubuhnya kembali.


Tapi Revon tiba-tiba menggendongnya ala bridal style, "Aku bisa jalan, Revon."


"Kamu hampir terjatuh beberapa detik yang lalu," jelas Revon sambil berjalan ke arah ke dalam rumah.


"Revon … bagaimana kalau Robert melihat?" bisik Rose.


"Dia tidak melihat. Coba saja tanyakan padanya. Sekalian kamu tanyakan kejadian di dalam pesawat tadi," jawab Revon.


"Kejadian di dalam pesawat?" tanya Rose.


"Bae, jangan bilang kamu sudah lupa," ucap Revon.


Rose terlihat mengerutkan alis berpikir, Revon yang merasa kesal pun menghentikan langkahnya dan menurunkan Rose dari gendongannya. 


Mau tidak mau Rose pun harus berdiri. Hal selanjutnya, Revon tiba-tiba mencium bibirnya dan menghimpitnya ke dinding yang berada di belakangnya. Ciuman yang sangat intens dan panas.


Rose merasa kakinya lemas karena serangan tiba-tiba dari Revon. Tangan Revon merangkul pinggang Rose dengan posesif. Setelah puas mencium Rose, Revon bersuara.


"Bagaimana? Apa kamu sudah ingat? Atau aku perlu melakukannya lagi?" kesal Revon.


"Aku sudah ingat. Ciuman yang kamu lakukan di depan Robert." Rose menatap tajam Revon.


"Kamu tidak perlu khawatir dengan Robert. Okay? Kamu harus istirahat sekarang. Besok kita memiliki jadwal yang cukup padat." 


Rose bingung dengan apa yang dimaksud Revon. Dia pun bertanya, "Jadwal apa?"


"Fitting baju, memilih kue, dan lain-lainnya. Ah ya, aku sudah mengurus dekorasinya," terang Revon.


"Tunggu, apa ini tidak terlalu cepat? Memang kapan hari pernikahannya?"


Revon mengeluarkan smirknya lalu menjawab, "Lusa." 


"Apa???" 


•••


Hallooo,


Jangan lupa tinggalkan like atau komentar yaaa. Maaf author up nya makin telaaattttt 😭😭. Kalian tetap jaga kesehatan, tetap patuhi protokol dan makan-makanan yang sehat yaa. Lagi musim penyakit ditambah corona yang belum menghilang juga. 🤧


Love you all,


Salam


Affxxvi