
...⚠️Perhatian, bacanya pas malem aja.⚠️...
...Oke?...
Rose tampak kewalahan dalam mengimbangi langkah Revon. Sudah berulang kali Rose menarik tangan Revon yang menggenggamnya agar berhenti. Namun lelaki itu tetap tidak memperlambat jalannya sama sekali.
"Revon." Panggil Rose.
Tidak ada tanggapan dari Revon. Hingga tanpa terasa mereka sudah sampai di kamar milik Revon yang berada di lantai 2 samping kamar Rose.
Revon membuka pintu dan menarik Rose masuk ke dalam kamar.
"Kenapa kamu..." Belum sempat Rose melanjutkan bicara, Revon menggendong wanita itu ke atas ranjang.
Lalu Revon memeluk Rose dan membenamkan kepalanya di leher wanita itu.
"Aku sangat lelah dan.... haus." Ujar Revon dengan lirih.
Rose tersenyum melihat tingkah Revon yang seperti ini. Tangan Rose terulur untuk mengusap rambut hitam Revon yang lembut. Itu membuat Revon menjadi lebih rileks.
"Aroma darahmu sangat menggoda." Ujar Revon semakin menelusupkan wajahnya ke leher wanita itu.
"Honey. Kamu bisa mengambil darahku jika mau." Jawab Rose yang sedang memainkan rambut Revon.
Tiba-tiba Revon menjauhkan wajahnya dari leher Rose dan menatap wanita itu dengan alis berkerut.
"Kamu bilang apa?" Tanya Revon.
"Kamu bisa mengambil darahku."
"Bukan. Sebelumnya kamu bilang apa?"
Rose menahan senyuman yang berusaha lolos dari bibirnya. Revon tertawa kecil dan meminta wanita itu mengulang perkataannya.
"Coba ulangi lagi. Bae, aku ingin mendengarnya lagi." Ujar Revon yang berusaha membujuk Rose.
"Baiklah. Hahaha.. jangan menatapku terus." Ujar Rose yang tiba-tiba merasa malu.
"Kenapa? Aku bebas menatapmu selama apapun." Jawab Revon dengan senyuman manisnya.
"Honey. My Sweet Honey. Sudah, kan?" Ujar Rose dengan cepat.
Revon tersenyum bahagia mendengar panggilan itu. Dia mencium bibir Rose dengan lembut.
"Bagaimana kalau setelah semua ini selesai, kita kembali ke Paris?" Tanya Revon setelah menghentikan ciumannya.
"Boleh. Jadi aku akan kembali bekerja menjadi model?" Rose merasa sangat excited dengan tawaran Revon.
"Tidak. Aku tidak ingin kamu sibuk dengan pekerjaanmu. Aku ingin semua waktumu hanya untukku, Bae." Ujar Revon dengan lembut.
"Tapi aku suka pekerjaanku dan aku belum ingin berhenti. Lagi pula kita akan sering bertemu karena satu kantor." Protes Rose tidak setuju.
Revon kembali menelusupkan wajahnya di leher Rose dan menciumi leher wanita itu. Dia tidak ingin Rose kembali bekerja. Dia ingin bersama Rose setiap jam bahkan setiap detik.
Revon berbisik dengan suara seraknya, "Bae, aku tidak suka tubuhmu dilihat oleh lelaki lain. Semua yang ada pada dirimu, adalah milikku. Jadi, berhetilah menjadi model."
Lelaki itu berusaha membujuk Rose. Revon memberikan open kiss pada leher jenjang wanita itu. Rasa hausnya ternyata semakin kuat.
"Revon, aku..." Ujar Rose yang tiba-tiba terhenti karena merasakan gigitan di lehernya.
"Aahh.... " Desahan keluar dari bibir Rose. Tangannya mencengkram bahu Revon dengan erat. Seluruh tubuhnya terasa memanas.
Revon meminum darah Rose dengan rakus. Jari-jarinya meraba seluruh tubuh Rose. Hal itu semakin membuat wanita itu merasakan sensasi yang luar biasa.
"Revon.. Haah... Hmm.." Ujar Rose dengan nafas yang tidak beraturan.
"Bagaimana? Apa kamu setuju?" Bisik Revon sambil menggigit kecil telinga Rose.
"Setuju apa?" Tanya Rose dengan bingung. Pikiran yang sudah tidak bisa berjalan normal. Revon benar-benar membuatnya terlena.
"Hmm.. Mengenai berhenti bekerja." Jawab Revon lalu mencium bibir Rose dengan intens.
Selama beberapa menit mereka berciuman tanpa ada yang berniat untuk berhenti. Tangan Revon menelusup ke dalam pakaian Rose. Menyentuh setiap inci kulit halus wanita itu.
Rose semakin tidak bisa diam. Tubuhnya menggeliat kesana-kemari.
"Apa kamu sudah makan siang?" Tanya Revon dengan suara serak. Lelaki itu bangkit dari ranjang dan membuka pakaiannya. Bermula dari kemeja yang melekat di tubuh atletisnya.
"Belum." Jawab Rose singkat. Nafasnya memburu dan menatap tubuh Revon.
"Aku akan mengambil makanan sebentar." Ujar Revon lalu berjalan cepat keluar dari kamar.
Rose hanya diam menatap punggung Revon yang terlihat menggiurkan hingga lelaki itu menghilang di balik pintu.
Beberapa menit kemudian, Revon kembali dengan membawa sesuatu.
"Macaroon?" Ujar Rose.
"Aku hanya mengambil apa yang pertama kali aku lihat di kulkas. Kamu tidak suka macaroon?" Ujar Revon lalu mengambil satu macaroon dan memakannya.
"Hmm.. Aku ingin mencobanya terlebih dahulu." Jawab Rose dengan ragu-ragu. Wanita itu mengubah posisinya menjadi duduk.
Revon mendekati Rose dan memberikan sepiring macaroon itu. Dia mengambil satu macaroon dan memakannya.
Revon mengamati raut wajah Rose. Wanita itu terlihat baik-baik saja.
"Lumayan." Ujar Rose singkat. Mendengar itu Revon pun tertawa lepas.
"Makanlah beberapa... Lalu, aku bisa memakanmu setelah itu." Bisik Revon dengan sensual.
Rose tersenyum, kedua pipinya memanas. Dengan menurut, Rose memakan beberapa macaroon itu.
Revon menatap Rose dengan intens saat wanita itu sedang makan. Membuat Rose merasa tidak sabar dan menyudahi acara makannya.
Segera Revon mengambil piring itu dan mengambilkan segelas air untuk Rose. Remahan macaroon menempel di bibir Rose membuat Revon mengusap bibir wanita itu.
Menaruh gelas di meja, Revon kembali menghampiri Rose ke atas ranjang. Perlahan Revon mendekatkan wajahnya dan mencium Rose dengan intens.
Wanita itu membalas ciuman Revon lebih intens, karena posisi mereka yang duduk tanpa sadar Rose semakin mendekat dan mendekat hingga sekarang dia duduk dipangkuan Revon.
Tangan Revon menarik ujung pakaian Rose, berniat untuk melepasnya. Wanita itu menghentikan ciuman dan membiarkan Revon melepas pakaiannya.
"Beautiful, as always." Ujar Revon menatap Rose.
Bibir yang agak membengkak, rambut lurusnya yang berantakan dan tatapan matanya yang intens. Pemandangan Rose seperti itu membuat tubuh Revon semakin panas akan gairah.
Seketika Revon mengubah posisi, membaringkan Rose di ranjang dengan nyaman. Lelaki itu memberikan kecupan-kecupan di wajah Rose. Lalu beralih ke leher jenjangnya, semakin lama kecupan Revon semakin turun hingga ke perut datar wanita itu.
"Hmm.. Aahh.." Desah Rose.
Tangan Revon dengan lihai membuka celana jeans Rose. Lalu tanpa membuang waktu, Revon pun menanggalkan celananya juga.
"Aahh.. " Desah Rose merasakan kenikmatan penyatuan tubuh.
"Haah.. Rose.." Gumam Revon di sela-sela aksinya. Dia bergerak dengan ritme yang cepat. Nafasnya memburu.
Beberapa menit kemudian, mereka bersamaan mencapai puncak kenikmatan. Keringat membasahi tubuh mereka berdua.
Revon mengecup bibir Rose. Selama beberapa menit, mereka saling memandang satu sama lain. Senyuman menghiasi wajah Revon. Dia kembali mengecup singkat bibir Rose lalu ikut berbaring di samping wanita itu. Memeluk Rose dan perlahan tertidur dengan pulasnya.