My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 55 - Let's Go



Chapter Sebelumnya


Lalu secara tidak sengaja adik dari Erica yang baru kembali dari kegiatan study wisata sekolahnya mendengar percakapan Revon dan Alex seketika meminta penjelasan.


Aston Zanquen, lelaki berambut hitam itu awalnya mengira kakaknya sudah kembali selama dia pergi. Namun ternyata kenyataannya tidak sejalan dengan apa yang dia pikirkan.


"Katakan, apa terjadi sesuatu kepada Erica? Mengapa dia belum kembali?" Tanya Aston dengan cemas.


"Aston. Kakakmu baik-baik saja. Hanya ada sedikit kendala saat dia akan kembali. Jadi, tenanglah. Okay?" Jawab Revon berusaha untuk tidak membuat Aston panik.


"Sepertinya ini bukan sedikit kendala. Buktinya dia belum juga kembali, kan?" Ujar Aston.


"Aku akan ikut mencarinya." Ujar Aston dengan penuh tekad.


"Tidak Aston. Kamu harus tetap disini. Aku tidak ingin menambah masalah jika terjadi sesuatu kepadamu nanti." Ujar Revon dengan tegas.


"Aku bisa sihir." Ujar Aston yang membuat Revon menjadi tertarik.


"Jangan mencoba membohongiku. Buktikan kalau memang ucapanmu benar."


Aston tersenyum dan mulai melakukan sihirnya.


Apa benar Aston bisa sihir seperti Erica?


•••


Sinar mentari semakin tenggelam menandakan petang akan datang. Rose yang baru selesai mandi lalu bergegas turun ke lantai 1. Disana sudah berkumpul Alex dan teman-temannya. Lalu Revon dan juga adik laki-laki Erica yang bernama Aston.


Walau Revon tadi sudah menjelaskan mengenai Aston. Namun aku masih sedikit ragu kalau dia harus ikut. Rose mencoba untuk menyingkirkan pikiran negatifnya dan berharap kalau dia akan membantu Revon juga Alex.


"Jadi aku masih tidak boleh ikut?" Rose membuka suara dan semua perhatian tertuju kepadanya.


"Bae, kita sudah sepakat, kan?" Jawab Revon dengan satu alis terangkat.


Rose menyisirkan jari-jarinya di rambut hitamnya sambil menatap Revon dengan frustasi.


Melihat itu Revon pun mengajak Rose pergi dari keramaian ruang tamu dan mengajaknya menuju dapur yang dalam keadaan sepi.


Dari kejauhan Alex menatap pasangan itu menjauh dengan raut wajah yang masam. Namun seketika dia menyembunyikan raut wajahnya yang masam dan kembali menjadi Alex yang seperti biasa.


•••


Kini hanya ada mereka berdua, Revon menarik kursi makan untuk Rose duduki. Lalu dia menarik kursi lain yang berada di sampingnya.


"Bae, kamu tahu kan kalau perjalanan ini bukan perjalanan biasa?" Revon mengawali membuka suara dengan lembut.


"Aku, Alex dan Aston sedang menempuh perjalanan ke desa yang berisi penyihir. Erica dan Robert terjebak disana. Itu berarti ini masalah serius, Bae." Tambah lelaki itu.


"Kamu adalah hal paling berharga bagiku, bae. Selama kamu tidak sadarkan diri beberapa minggu lalu, hidupku terasa hancur tanpamu. Setiap hari aku menatapmu terbaring di ranjang. Berharap kamu segera bangun dan kembali kepadaku." Revon menggenggam kedua tangan Rose dan menciumi setiap buku-buku tangannya.


"Aku tidak bisa membiarkanmu dalam bahaya untuk yang kesekian kalinya. Aku akan menyesal seumur hidup jika harus kehilanganmu, My Rose. Aku sangat mencintaimu lebih dari diriku sendiri. Kumohon, turuti permintaanku dan tunggu disini hingga aku kembali."


Mendengar ungkapan itu hati Rose menghangat. Tanpa terasa air mata jatuh membasahi kedua pipinya.


"Cepat kembali dan jangan sampai mati. Kamu tidak boleh hanya memikirkan keselamatanku. Pikirkan keselamatanmu juga. Aku tidak suka menunggu Revon. Hiks... hiks..." Rose akhirnya mengungkapkan kegelisahannya.


"Aku sudah pernah mati sekali Rose. Dan lihat, aku kembali untukmu. Walau ini akan terdengar mengerikan bagi orang-orang diluar sana. Tapi aku akan berjanji untuk kembali kepadamu. Satu-satunya tujuanku pulang."


Lelaki itu memeluk wanitanya dan menghirup aroma lavender yang akan dia rindukan.


"Baiklah. Sekarang tenangkan hatimu. Aku akan segera berangkat. Kamu baik-baik dengan teman-teman Alex itu. Jangan terlalu akrab dengan mereka, okay?" Ujar Revon dengan menatap lekat kedua mata sembab Rose.


"Ya, dia memiliki aura yg sejenis dengan Erica. Namun entah mengapa Aston terasa berbeda. Tenang saja, kamu tidak perlu mencemaskan itu." Jawab Revon dengan tersenyum.


Setelah itu mereka berjalan beriringan menuju ruang tamu. Alex terlihat siap dengan ranselnya. Aston pun sudah menunggu dengan wajah excited-nya.


Mengambil ransel yang ada di sofa, Revon menatap teman-teman Alex satu persatu. Lee, Ryan, Tailor, dan Dean balas menatap Revon.


"Kalian jaga baik-baik Rose. Jangan sampai dia terluka sedikitpun." Perintah Revon.


"Hmm." Jawab Dean dengan malas.


Tidak suka dengan jawaban itu, Revon menatap Alex dengan maksud memintanya berbicara dengan teman-temannya.


"Guys, kita harus bicara sebentar. Kalian duluan ke mobil." Alex menatap bergantian teman-temannya lalu ke Revon dan terakhir Aston.


Revon mengangguk dan merangkul Aston untuk ikut dengannya.


Sementara Alex menggunakan kesempatan emas ini untuk mendekat ke arah Rose. Dengan sengaja lelaki itu merangkul bahu wanita itu.


"Dengarkan aku baik-baik. Kalian harus menjaga wanita ini dengan ekstra hati-hati. Dia adalah.. wanita spesial." Alex berbicara kali ini dengan nada serius. Bukan dengan nada becandanya.


Lee, Ryan, Tailor dan Dean saling menatap satu sama lain bergantian. Mereka ingat jika Bosnya pernah membicarakan tentang wanita spesial.


Suatu hari kalian akan tahu wanita yang spesial bagiku. Ucapan Alex yang mereka ingat.


"Oh Shit!" Umpat Dean dengan lirih.


Rose yang merasa risih karena mereka berempat memandanginya, menatap Alex untuk menghentikan tatapan mereka.


"Ehem.. Apa mata kalian ingin aku congkel, huh? Berhenti menatapnya. Jadi sudah jelas perintahku, kan?" Alex mengerutkan alis dan memberikan tatapan tajamnya.


"Baiklah, Bos. Kami akan melakukan yang terbaik untuk menjaga wanita spesialmu." Lee menjawab dengan penuh kesungguhan.


Ketiga lainnya menganggukkan kepala menyetujui.


"Wanita spesial? Alex, apa kamu sudah gila?" Bisik Rose setengah menyikut perut Alex.


"Ssshhh.. Ikuti saja alurnya. Mereka akan setia sampai mati menjagamu jika aku mengatakan seperti ini." Alex menjawab dengan menahan rasa senangnya.


Lalu Alex memeluk Rose tiba-tiba. Wanita itu hanya diam karena terlalu terkejut.


"Alex." Teriak Revon dari luar. Dengan cepat Alex melepas pelukannya dan berlari keluar rumah.


"Coming!" Balas Alex di tengah larinya.


Tepat pukul 5 sore mereka berangkat menggunakan mobil Jeep yang berada di garasi.


•••



Hallo🖐


Author kembali menyapa kalian para readers. Terimakasih sudah setia membaca karya halu ini. Hati-hati buat pembaca karena karya ini tidak memakai peringatan untuk part xxx. 😌🤭


Kalian yang ingin membaca novel bergenre horror komedi bisa membaca novel karya Author @Na_SaRi yang berjudul "Berlian & Kepala Casper". Pfft Gua main disitu soalnya🤭.


Oke? Udah gitu aja. wkwkwk


Sampai jumpa.😎