My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 56 - Execute the plan 1



Chapter Sebelumnya


"Baiklah, Bos. Kami akan melakukan yang terbaik untuk menjaga wanita spesialmu." Lee menjawab dengan penuh kesungguhan.


Ketiga lainnya menganggukkan kepala menyetujui.


"Wanita spesial? Alex, apa kamu sudah gila?" Bisik Rose setengah menyikut perut Alex.


"Ssshhh.. Ikuti saja alurnya. Mereka akan setia sampai mati menjagamu jika aku mengatakan seperti ini." Alex menjawab dengan menahan rasa senangnya.


Lalu Alex memeluk Rose tiba-tiba. Wanita itu hanya diam karena terlalu terkejut.


"Alex." Teriak Revon dari luar. Dengan cepat Alex melepas pelukannya dan berlari keluar rumah.


"Coming!" Balas Alex di tengah larinya.


Tepat pukul 5 sore mereka berangkat menggunakan mobil Jeep yang berada di garasi.


•••


Selama perjalanan Revon menjelaskan mengenai rencana yang akan mereka lakukan saat sampai disana.


Alex dan Aston sempat berselisih mengenai siapa yang bergerak menolong Erica dan Robert dari cengkraman penyihir. Lalu keputusan ditetapkan oleh Revon yang memilih Aston yang akan mendampinginya dan Alex yang berjaga memantau situasi.


Setelah perjalanan sekitar 1 jam lebih Alex menghentikan Jeep di sebuah lahan kosong dengan pagar besi yang mengelilingi.


Terlihat mobil yang dikendarai Robert terparkir diluar pagar bersatu dengan tumpukan semak-semak.


Revon turun lebih dulu dan melihat sekeliling. Melihat lebih dekat, pagar itu ternyata terkunci dengan sihir.


"Aston. Kemari." Ujar Revon.


Lelaki muda itu pun berjalan mendekat ke arah Revon. Sedangkan Alex baru saja turun dari mobil setelah memarkirkannya.


"Apa kamu bisa membukannya?" Tanya Revon.


"Seharusnya ini mudah. Biar aku coba." Jawab Aston lalu mulai memegang gembok yang terlihat tranparan.


Klek.


Setelah menunggu cukup lama, akhirya Aston berhasil membukanya. Mereka pun masuk satu persatu. Alex menjadi penuntun arah menemukan aroma Erica dan Robert.


Perlahan mereka berjalan di antara semak-semak agar tidak menarik perhatian. Setelah cukup lama, Alex pun menghentikan langkahnya di samping sebuah rumah yang terbuat dari kayu.


"Aroma mereka berhenti di rumah itu." Alex memberitahukan kepada Revon dan Aston dengan suara lirih.


"Aston, apa kamu bisa melakukan sihir perlindungan? Kita harus membatasi area rumah ini dengan sekitarnya agar tidak ada bala bantuan yang datang saat kita menyerang. " Ujar Revon.


"Aku bisa melakukannya tapi sihir pelindungku tidak bisa bertahan lama. Mungkin 1 hingga 2 jam saja. Dan itu sangat menguras tenaga." Jawab Aston.


"Kita harus berhasil membawa Robert dan Erica dalam waktu maksimal 2 jam."


Mereka berdua mendengarkan Revon dan bersiap untuk menyerang.


•••


Seorang lelaki dan perempuan tengah berada di sebuah kamar kosong yang gelap. Mereka terduduk di kursi yang saling bersebrangan. Tangan dan kakinya terikat dengan akar tumbuhan.


Tubuh mereka lemas, tenaganya dan kekuatannya seperti terhisap hingga tidak tersisa.


Entah sudah berapa lama mereka seperti ini. Ternyata lelaki tua dan muridnya itu memiliki rencana buruk tanpa mereka sadari. Perlahan tapi pasti Robert dan Erica diracuni dengan racun yang paling lemah. Dan lama kelamaan racun itu melumpuhkan syaraf tubuh mereka.


"Clein, setelah ini kamu harus ambil darah mereka. Karena hari ini kita akan melakukan ritual pemindahan kekuatan." Ujar lelaki tua berumur 40-an itu yang sedang mempersiapkan keperluan ritualnya.


"Baiklah Mr. Greig." Lelaki bernama Clein menjawab dengan tersenyum seperti senang melakukannya.


Tok. Tok.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu dengan tergesa. Mr. Greig dan Clein pun menjadi waspada.


Mr. Greig memberi isyarat Clein untuk membuka pintunya.


Cklek.


Di depan pintu terlihat seorang lelaki muda yang terlihat panik dan takut. Akan tetapi Clein bisa merasakan jika dia bukanlah manusia biasa.


Manusia biasa tidak akan bisa melewati pagar pembatas dunia ini. Pikir Clein.


Clein melihat lelaki di depannya dengan tatapan menyelidik. Dia masih belum bisa percaya dengan lelaki itu.


"Selamatkan saya.. Saya mohon. Kakak, pasti penyihir yang hebat. Saya penyihir yang masih baru, bahkan sekedar menggunakan kekuatan saya sendiri pun masih belum bisa..." Lelaki itu berkata dengan wajah ingin menangis.


Clein tersenyum mendengar pujian lelaki itu yang seakan membuatnya terbang.


Lalu dari kejauhan terlihat seorang vampir yang berjalan mendekat dengan langkah kaki yang lebar. Tatapan matanya sangat tajam.


"Aaahhhh... Kakak, tolong saya. D-dia... dia vampir yang mengejarku... Selamatkan aku, Kak." Ujar lelaki muda itu yang terlihat ketakutan setengah mati.


"Jangan takut. Aku akan menghadapinya. Kamu masuk, sana!"


"Hati-hati, Kak." Lelaki muda itu tersenyum tipis dibalik raut wajah ketakutannya.


Cklek.


Lelaki muda itu masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Clein diluar. Saat di dalam rumah, lelaki muda itu berjalan menelusuri ruangan dengan waspada.


•••


Clein tersenyum remeh menatap vampir di hadapannya. Dia akan memberi pelajaran kepada vampir yang berani membuat keributan di tempat tinggalnya.


"Serahkan dia padaku." Ujar vampir itu dengan tenang.


"Hahaha.. Siapa kamu berani memerintahku, huh?!"


"Kamu tidak akan tahu siapa aku, Clein. Karena aku tidak sudi di kenal oleh orang sepertimu." Perlahan warna mata vampir itu berubah menjadi hitam kelam dengan aura kegelapan yang kental.


Siapa lagi vampir yang bisa seperti itu? So, bisa di pastikan dia adalah Revon.


"Hah! Dasar brengsek." Clein melempar bola-bola cahaya merah bertubi-tubi ke arah Revon. Namun semua itu tidak melukai Revon. Karena saat bola-bola cahaya itu menyentuhnya, tubuh Revon berubah menjadi asap-asap hitam.


Clein tercengang melihat itu, dia semakin membabi buta menyerang Revon dengan segala kekuatan yang dia miliki.


Slaashhh.


Baaammm.


Sebuah pohon menjadi korban salah sasaran dari Clein yang hendak menyerang Revon. Namun semuanya gagal karena dia selalu berubah menjadi asap dan serangannya menembus tubuhnya begitu saja.


"Hanya itu yang kamu punya? Sangat.. mengecewakan." Ujar Revon.


"Mahluk apa kamu sebenarnya? Vampir tidak bisa melakukan itu." Tanya Clein dengan kesal.


"Kamu akan tahu sebentar lagi."


Dengan cepat Revon menyerang Clein dan menghantamnya ke tanah dengan keras.


Baammm.


"Ergghh.." Erang Clein dengan gigi yang saling beradu. Tubuhnya terasa remuk. Dia berusaha lepas dari cengkraman Revon dan berusaha membakar tangan lelaki itu.


Merasakan panas di kulit tangannya, Revon segera mundur dan melepas cengkramannya. Perlahan Clein bangkit dengan terbatuk-batuk.


Clein mengucapkan mantra dan menyembuhkan dirinya sendiri. Revon tersenyum, dengan begitu Clein sudah memakai hampir seluruh kekuatannya. Dia tidak akan bisa bertahan lama.


Namun tiba-tiba serangan datang tidak terduga kepada Revon. Seketika tubuhnya terpental hingga menabrak bebatuan yang besar. Butiran debu berterbangan menutupi area itu.


Bruaghh.


"Kamu tidak menduga itu, kan? Hahaha kali ini aku berhasil menyerangmu." Ujar Clein dengan bangga.


Tapi saat debu-debu itu sudah menghilang, Revon tidak ada disana. Clein mengarahkan pandangannya kesana-kemari mencari vampir itu.


Tapi dia sama sekali tidak terlihat.


"Good bye, Clein. Say hello to the darkness." Bisik Revon yang tiba-tiba terdengar di telinga Clein. Entah mengapa lelaki itu merasakan sakit yang teramat sangat di dadanya.


Tubuh Clein ambruk ke tanah dengan mata terbuka lebar. Jantungnya telah direnggut secara paksa dari tubuhnya.


"Sayang sekali ini harus berakhir lebih cepat." Ujar Revon dengan tangan yang memegang jantung dari Clein yang sudah mati.


Seperti tanpa beban, Revon membuang jantung itu ke sembarang arah. Lalu dia segera menyusul Aston ke dalam rumah.