My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 90 - Just tell him



Sembari membawa secangkir coklat panas, Revon berjalan menuju kolam renang. Lelaki itu melihat Rose duduk di pinggiran kolam dengan kaki yang masuk ke dalam air. Rose mulai memakan roti panggang yang ada di samping kanannya.


Revon duduk di samping kiri Rose, memberikan secangkir coklat di tangannya. Rose menerima coklat itu dan sedikit meminumnya. 


"Humm … kamu membuatnya dengan pas," puji Rose.


"Enak?" Revon menarik Rose mendekat.


"Sangat sangat enak."


Revon tertawa kecil melihat Rose yang sangat lahap memakan semua roti. Tangan Revon mengusap bibir Rose, remahan roti menempel di sudut bibir wanita itu. Rose menatap Revon dan mengecup bibir lelaki itu sekilas. 


"Kamu tidak mau?" tawar Rose sambil memberikan sepotong roti.


"Tidak. Semua itu untukmu." balas Revon.


Rose tersenyum lalu kembali memakan roti yang masih tersisa. Tidak berapa lama, semua roti panggang itu pun habis tak bersisa. Coklat panas juga tidak lupa dia minum hingga tandas. 


Revon menarik tubuh Rose lebih dekat, lelaki itu berbisik di telinga Rose.


"Aku ingin bayaranku," bisik Revon.


Rose menatap Revon intens. "Tapi aku ingin tidur." 


Rose sengaja mengatakan hal itu hanya untuk menggoda Revon. Dan benar saja, Revon terlihat agak kesal. Rose tersenyum lalu bangkit berdiri dari posisi duduknya. Revon menatap Rose dengan menaikkan sebelah alisnya.


Rose melepas gaun tidurnya menyisakan pakaian minim yang menutupi bagian intimnya. Revon menatap Rose dengan mulut yang sedikit terbuka. "Apa kamu sedang mengerjaiku?" 


Rose tidak menjawab dan memilih untuk berjalan mengitari kolam. Saat sudah cukup jauh dari tempat Revon duduk, Rose perlahan masuk ke dalam kolam. ******* kecil lolos ketika tubuhnya sepenuhnya sudah berada di dalam air.


Rose berenang mendekat ke arah Revon. Sejak tadi, lelaki itu terus menatapnya lekat. Hal itu membuat Rose merasakan gelenyar panas di dalam tubuhnya.


Wanita itu naik ke pinggiran kolam, tepat berada di antara kaki Revon yang sedang terjulur ke dalam kolam. 


"Kamu tidak mau ikut?" tawar Rose.


Revon menelusuri setiap lekuk tubuh Rose hanya dengan tatapannya. "Aku tidak bisa menolak."


Tepat setelah itu, Revon melepas kaos yang sedang dia pakai lalu menceburkan diri ke dalam kolam. Rose tertawa saat terkena cipratan air karena Revon. Seperti gerakan slow motion, Revon muncul dari dalam air dengan rambut yang basah. Air meluncur bebas dari rambut hingga dada bidangnya. Revon mengusap wajahnya lalu menyisihkan rambut dari area wajahnya.


Untuk kesekian kalinya, Rose terpesona dengan ketampanan suaminya yang tidak bisa diragukan. Tanpa sadar, Revon sudah berada di hadapannya. Lelaki itu mengusap bibir Rose yang merah merona, sangat menggoda.


Revon menarik tengkuk Rose, mendaratkan kecupan-kecupan ringan yang semakin lama menjadi *******. Perang lidah pun tidak terhindarkan.


Dengan gerakan cepat, Revon menyudutkan Rose ke sisi kolam. Tangan Revon bergerak pelan dari paha wanita itu, terus naik dan naik. 


"Yes, Bae!" 


Revon beralih mengecup leher jenjang Rose sambil meninggalkan beberapa hickey. Secara naluri, Rose melingkarkan kakinya di pinggang Revon.


Rose menarik wajah Revon dari tengkuknya, lalu wanita itu mencium kembali bibir Revon dengan penuh semangat. Tangan Revon membelai titik sensitif Rose hingga membuat wanita itu menggeliat tidak karuan.


Rose menarik rambut Revon ketika merasakan gejolak dalam tubuhnya. Tanpa membuang waktu, Revon menghentikan ciuman lalu melepas celana yang dia pakai. 


"Aahh …." Rose membuka sedikit bibirnya merasakan sensasi Revon yang memenuhi dirinya.


Revon mulai bergerak pelan sambil menatap kedua netra Rose. Revon sempat melihat raut wajah Rose yang terlihat kurang nyaman.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Revon.


Rose terdiam beberapa saat. "I'm fine."


Rose mencium bibir Revon, menutup mata meresapi setiap kenikmatan yang satu sama lain berikan. Hingga Rose menghentikan ciuman, perlahan mereka membuka mata dan saling menatap intens. 


Rose sejak tadi mencium aroma sesuatu yang sangat unik, entah kenapa aroma itu membuatnya penasaran. Dan saat Rose lebih mendekat ke tubuh Revon, dia menyadari aroma itu dari tubuh Revon.


Rose mencoba mencari tahu lebih, wanita itu perlahan mengecup rahang hingga ke leher Revon. Perlahan aroma unik itu semakin jelas. Rose mencium aroma itu berasal dari leher Revon, wanita itu menelan ludah dan menatap leher Revon cukup lama. Samar-samar muncul keinginan yang tidak pernah dia duga.


"Bae? Hey?" panggil Revon. 


Rose tersadar dan menutup matanya sejenak. Wanita itu menjauh dari leher Revon lalu menatap ke arah lain, selain Revon.


Revon mengerutkan dahi. "Bae? Katakan, jangan mengelak lagi."


"Aku tidak apa-apa," balas Rose cepat. Wanita itu masih enggan menatap Revon.


Revon menghentikan gerakannya dan meraih wajah Rose. "Lihat aku dan katakan!"


Kedua netra Rose menatap Revon, perang batin membuatnya menjadi bimbang. Hingga beberapa menit berlalu, wanita itu masih enggan mengatakan apapun. 


"Okay, kita berhenti sampai disini," ucap Revon. Lelaki itu merasa kesal dan keluar dari kolam renang. Revon meraih handuk yang tersedia lalu melilitkannya ke pinggang.


Rose mencoba untuk menghentikan Revon, tapi lelaki itu sudah berjalan menjauh tanpa menoleh ke belakang. Rose menghela nafas sambil mengusap wajahnya kasar.


"Tidak. Itu terdengar aneh ... Aku tidak bisa mengatakannya." 


Rose keluar dari kolam dan memungut pakaian-pakaian yang tergeletak di lantai. Rose memutuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi yang berada di sudut area kolam. Setelah itu, Rose segera membalut bathrobe di tubuhnya sambil berjalan menuju kamar tidurnya.