My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 81 - Child?



Rose dan Wen mulai berjalan perlahan menuju hotel. Wen menggandeng tangan Rose di sisi kanan, beberapa kali mereka saling melirik satu sama lain. Rose terlihat gugup, Wen dapat merasakan telapak tangan Rose yang terasa dingin.


"Bernafas, Rose. Semua akan baik-baik saja," bisik Wen.


Dari sisi kiri, Wen melihat suaminya yang mendekat ke Rose. Di dalam hotel, beberapa tamu yang merupakan orang-orang yang bekerja di Firstin Agency sudah menempati tempat duduk masing-masing. Keberadaan wartawan yang cukup banyak di dalam hotel membuat Rose semakin gugup. Rose meremas tangan Wen dengan keras.


"Kamu ingin mematahkan jariku, huh?" kesal Wen.


"Kenapa wartawannya sangat banyak?" keluh Rose.


"Bukankah itu bagus? Sebentar lagi kamu akan terkenal menjadi Mrs. Dent."


Rose tersenyum tipis dengan wajah merona. "Wen! Berhenti menggodaku."


Semakin dekat menuju Altar. Rose menundukkan kepala berusaha untuk menghilangkan rasa gugupnya. 


Tiba-tiba Wen memekik cukup keras. "Oh wow!" 


Rose menatap Wen dengan tatapan penuh tanya. Rose mengikuti arah pandang Wen dan melihat ke Altar. Di sana berdiri seorang pendeta, lalu Revon yang memakai jas pengantin dengan penuh wibawanya berdiri di depan Altar dengan tatapan fokus kepada Rose. Beberapa detik tatapan mereka saling mengunci.


"Rose, aku akan pergi ke tempat dudukku. Rose? Kamu dengar aku?" ucap Wen meremas tangan Rose.


Rose seketika tersadar lalu menatap Wen. Wen tersenyum lalu memberi isyarat ke arah suaminya untuk mengantar Rose. Akan tetapi, Robert mencegah suami Wen mendekat dan berbicara ke Wen. "Mr. Dent meminta saya untuk mengantar Nona."


Wen tersenyum dan berbisik di telinga Rose. "Ada yang cemburu. Hahaha … baiklah Rose, Robert akan mengantarmu. I'm happy for you."


Rose membalas senyuman Wen dan menatap kepergian Wen. Sebelum kembali melanjutkan langkahnya, Robert meminta Rose untuk menggandeng tangannya. Sekilas Rose melihat Revon yang tidak nyaman membuat Rose menahan tawa.


Perlahan rasa gugup yang dirasakan Rose menghilang berganti dengan rasa senang hingga rasanya jantungnya berdegup dengan sangat kencang.


Menaiki beberapa anak tangga, Revon segera meraih tangan Rose dari Robert. Revon menampilkan smirknya. "So Fucking Beautiful."


Rose merasa kedua pipinya memanas. Revon mencium tangan Rose dengan lembut. Pendeta pun berjalan mendekat dan menatap Revon dan Rose. "Mari kita mulai. Kalian sudah siap?"


Revon menatap tajam pendeta dan menjawab. "Yes!"


Sedangkan Rose hanya mengangguk. Pendeta mulai membuka prosesi pernikahan, namun pendeta itu terlihat agak terburu-buru menyelesaikan prosesi pernikahannya. 


Tibalah pada bagian pengucapan janji. 


"I, Revonelle Dent, take you, Roseline Mint, to be my wife, to have and to hold, from this day forward, for better for worse, for richer, for poorer, in sickness and in health, to love and cherish always."


Rose menatap mata Revon selama beberapa menit. Dia bisa melihat pancaran kesedihan di kedua mata Revon. Rose sempat bertanya-tanya didalam benaknya, hingga Revon berdehem untuk menarik perhatian Rose yang terhanyut di dalam pikirannya sendiri.


""I, Roseline Mint … take you, Revonelle Dent to be my husband, to have and to hold, from this day forward, for better for worse, for richer for poorer, in sickness and in health, to love and cherish always."


Robert datang membawa kotak cincin pernikahan dengan kemilau batu ruby merah yang cukup besar. Revon mengambil cincin dari Robert dan memasangkan cincin itu ke jari manis Rose. Setelah itu Rose pun mengambil cincin untuk Revon dan memasangkannya dengan perlahan. 


Sebelum tangan Rose menjauh, Revon menarik tangannya dan menciumnya dengan lembut. "My Queen."


Rose menatap mata Revon kembali, dan pancaran kesedihan itu masih ada di sana. Namun Revon mencoba menutupinya dengan senyuman.


Pendeta mengumumkan kepada semua hadirin yang sudah resmi menjadi pasangan suami-istri. Semua hadirin bersorak gembira dan menyuarakan untuk mempelai saling berciuman.


"Aku akan mencintaimu selamanya, dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kita. Bahkan maut sekalipun. Aku berjanji padamu, My Rose," bisik Revon kepada Rose tepat sebelum bibirnya mendarat di bibir Rose dengan lembut dan penuh cinta.


•••


Setelah acara pernikahan tadi, diselenggarakan resepsi yang mewah dan hanya orang-orang tertentu yang bisa hadir. Semua tamu undangan tampak sedang menikmati makanan atau mengagumi dekorasi pernikahan yang elegan.


"Selamat atas pernikahannya Mr. Dent Dan Mrs. Dent. Bisa kami ajukan beberapa pertanyaan? Hanya 5 menit saja." ujar salah satu wanita. Dia datang bersama lelaki yang sedang membawa kamera yang umumnya dibawa oleh jurnalis dari suatu media.


Revon menatap Rose untuk mencari persetujuan. Rose tersenyum dan mengangguk kepada suami tampannya itu.


"Baiklah. Kalian bisa mulai sekarang."  ucap Revon kepada wanita jurnalis itu.


Wanita itu bersiap di posisinya agar tidak menghalangi kamera, lalu memasang wajah ramah dan memulai menanyakan satu persatu pertanyaan yang sudah dia hafal.


"Hari ini, kabar spesial datang dari dunia fashion dan entertainment. Bagaimana tidak? Seorang CEO Firstin akhirnya melepas masa lajangnya dan menikah dengan seorang wanita cantik yang ternyata adalah salah satu modelnya sendiri. Sungguh pasangan yang sangat serasi."


"Sebelumnya saya ucapkan selamat kepada Mr. Revonelle Dent dan Mrs. Roseline Dent."


Revon memeluk pinggang Rose semakin erat dan tersenyum. "Terimakasih. Ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi kami."


Rose hanya tersenyum, dia sedikit terpikirkan oleh raut wajah sedih Revon saat proses pernikahan tadi.


"Sejak kapan kalian menjalin hubungan dekat?"


"Kami sudah dekat sejak 3 tahun lalu. Sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Dia benar-benar sudah berhasil mengambil hatiku." tutur Revon dengan menatap Rose.


"Itu waktu yang cukup lama. Tapi kami sama sekali tidak pernah mendengar kabar kedekatan kalian. Apakah kalian memang sengaja menyembunyikan hubungan kalian dari publik?" 


"Dia adalah hal paling berharga bagiku. Sementara dalam bisnis, antara lawan dan kawan hampir tidak terlihat bedanya. Itu membuatku ingin menyembunyikan Rose dari siapapun. Dan lagi, lelaki mana yang bisa menolak pesona wanita secantik ini. Aku tidak akan membiarkan siapapun merebutnya." ungkap Revon.


"Kalian tidak pernah terlihat di Paris selama beberapa waktu. Apa kalian sedang berencana tinggal di kota lain?" tanya wanita itu.


Saat Revon ingin menjawab, Rose mengusap dada Revon memberi isyarat untuk membiarkan dirinya menjawab. "Kami hanya pergi berlibur. Kamu tahu, seperti pasangan lain … kami ingin menghabiskan waktu berdua lebih lama." 


"Ah, itu sangat romantis. Pertanyaan terakhir, apakah kalian berencana memiliki anak dalam waktu dekat?" 


Revon mendadak menjadi tegang dan mengalihkan pandangannya dari Rose. Melihat reaksi Revon membuat Rose bingung. Selama beberapa menit, Revon masih terlihat diam tanpa ada niat untuk menjawab. Tidak ingin membuat wartawan itu semakin lama menunggu, Rose pun menjawab. 


"Kami akan menikmati waktu berdua terlebih dahulu. Jika memang sudah waktunya, kalian akan mendengar kabar baik itu dari kami." jelas Rose dengan senyuman tipis.


"Baiklah, terimakasih atas waktunya. Sekali lagi, selamat atas pernikahan kalian. Sekian sekilas wawancara kita bersama pasangan, Mr. Dent dan Mrs. Dent."


Para jurnalis itu pergi setelah berpamitan dengan Revon dan Rose. Revon masih diam seribu bahasa. Rose menarik tangan Revon untuk menjauh dari keramaian dan mencari tempat yang lebih tenang. Rose mengajak Revon ke sisi hotel yang menghadap ke arah danau. 


"Revon? Ada apa? Apa ada sesuatu?" tanya Rose kepada Revon.


Revon masih terdiam dan terlihat gelisah. Rose mencoba kembali bertanya. "Revon? Kamu tahu, kita sudah menikah. Aku berhak tahu apapun masalah yang sedang kamu pikirkan."


Revon menarik nafas gusar. Dia melonggarkan ikat dasinya dan membuka kancing teratas dari kemejanya. "Kita tidak bisa memiliki anak. Aku tidak mau memiliki anak."


Mendengar ucapan Revon, Rose menjawab. "Apa? Kamu bercanda, kan?" 


To be continued…


•••


Hallo guys!


Maaf ya lama gak update. Author lagi ngumpulin niat. Hahaha. 


Terimakasih buat kalian yang masih setia menunggu. Akhir-akhir ini lagi sulit ngumpulin niat. Hiks.


Buat yang baca, jangan lupa untuk like, comment dan ratenya. 🙏🙏