
Chapter sebelumnya
"Berikan racunnya." Ujar Robert tiba-tiba.
Erica yang mendengar itu seketika terkejut dan menatap Robert dengan tidak percaya.
Tidak. Kenapa dia memutuskannya tanpa pikir panjang? Pikir Erica.
"Aku percaya padamu." Ujar Robert dengan tenang.
Erica tidak mampu berkata-kata. Tapi, memang mau tidak mau dia tetap harus melakukan ini.
Lelaki itu memberikan botol kecil berisi cairan berwarna hitam pekat kepada Robert. Tanpa ragu, Robert meminum semua racunnya hingga habis.
1 menit...
2 menit...
Apa yang terjadi selanjutnya??
•••
"Apa kamu sudah gila?! Kenapa kamu asal minum saja!" Ujar Erica setengah teriak.
Robert hanya diam dan menatap wanita itu dengan tersenyum.
Kenapa dia tersenyum seperti itu? Apa dia sudah siap mati? Pikir Erica dengan mata terbelalak.
"Sepertinya dia bukan sekedar temanmu.. Jika benar dia temanmu.. Dia terlalu ceroboh hingga mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menjadi kelinci percobaan." Ujar lelaki itu dengan santainya sambil menyisihkan rambutnya yang menerpa wajahnya.
Erica terus mengamati Robert. Dia tidak ingin kehilangan satu petunjuk pun yang akan muncul. Petunjuk yang berupa gejala-gejala setelah meminum racun.
Tiba-tiba tubuh Robert mulai limbung diiringi dengan nafas yang tidak beraturan. Dengan sigap Erica menopang tubuh lelaki itu dan berusaha membuatnya tetap berdiri.
Suara geraman lirih keluar dari mulut lelaki itu. Keringat dingin mulai bercucuran dan tubuhnya semakin limbung.
Erica benar-benar panik. Dia melihat gejala-gejala itu, tapi otaknya tidak bisa bekerja dengan baik. Rasa cemas dan takut menyelimuti dirinya.
"Robert.. Kamu bisa mendengarku? Robert?" Ujar Erica dengan menepuk-nepuk wajah lelaki itu.
Kesadaran Robert mulai menipis. Kedua matanya tidak bisa fokus, tubuhnya terasa panas dan lemas. Jantungnya berdetak sangat kencang hingga seperti ingin keluar dari dadanya.
"Ah, bagaimana? Apa kamu sudah tau racun yang aku berikan?" Tanya lelaki itu dengan smirknya. Dia sangat menikmati hiburan di hadapannya.
Damn. Nafas tidak beraturan, tubuh lemas dan keringat yang bercucuran. Jantung berdetak kencang. Gejala ini terlalu umum. Bagaimana aku bisa mengetahui jenis racunnya? Pikir Erica dengan alis yang berkerut.
Sekali lagi, Robert hampir saja terjatuh. Tapi Erica sekuat tenaga berusaha membuatnya untuk berdiri dan dalam keadaan sadar.
Dengan lengan lelaki itu yang berada di bahunya. Wajah mereka berdekatan dan hanya tersisa jarak yang tipis di antara mereka.
Saat mata mereka saling berhadapan, Erica menyadari akan sesuatu.
"Perenggut kekuatan." Gumam Erica.
Dia mengingat racun itu membuat siapapun mahluk supranatural yang meminumnya menjadi kehilangan kekuatan dan tubuhnya lemas. Racun itu bekerja menekan kekuatannya dan lama kelamaan akan membuatnya mati.
Namun hal itu masih tidak bisa membuat Erica sedikit merasa lega. Racun itu baru dia pelajari dan belum sampai di cara penyembuhannya.
Bagaimana ini? Aku... aku bingung harus apa!? Pikir Erica.
"Hey! Kenapa kalian malah bermesraan di depanku. Nona, kamu hanya akan diam seperti itu sampai kapan? Ah, jangan bilang kamu tidak tahu cara menyembuhkan dia." Ujar lelaki berambut sebahu itu.
Erica tidak menjawab dan hanya diam. Kelopak mata Robert mulai menutup, melihat itu Erica sangat panik.
"Robert! Hey! Jangan pingsan. Aku tidak kuat kalau harus mengangkat tubuhmu yang seperti godzila ini!" Ujar Erica dengan setengah teriak.
"Hah... Apa kamu bilang?" Ujar Robert dengan suara yang lirih dan mata yang terbuka sedikit.
"Kamu harus tetap sadar. Godzila!" Ujar Erica penuh penekanan.
"Ha.. hahahahaha.. Erica.. Kamu sangat lucu.. Aku tidak akan keberatan kalau pun mati sekarang.. Karena aku bisa melihatmu di akhir hayatku.." Ujar Robert dengan sedikit tertawa.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati. Godzila. Jadi stop berbicara hal gila seperti itu." Ujar Erica lalu bepikir keras mencari jalan keluar.
Saat Erica mengedarkan pandangannya, dia melihat seorang lelaki tua sekitar umur 40 tahun datang menghampiri dari arah desa. Lelaki tua itu tampak gagah dengan jenggot yang memanjang.
Coat hitam panjang membalut tubuhnya dan semakin menambah kewibawaannya.
Seketika lelaki berambut sebahu itu menoleh dan raut wajahnya tampak kaget.
"Clein. Apa yang kamu lakukan disini? Bukankah aku tadi berpamitan kepadaku akan pulang ke rumah?" Ujar lelaki berumur itu.
"Mr. Greig. Saya.. Saya tadi bertemu dengan orang asing ini saat perjalanan pulang. Mereka terlihat mencurigakan. Jadi saya menghentikan mereka." Ujar lelaki bernama Clein.
"Benarkah?" Ujar Mr. Greig.
"Saya tidak akan berani membohongi anda." Ujar Clein.
"Mr. Greig. Ini tidak seperti yang dia katakan. Kami bukan orang jahat. Kami datang dengan baik-baik. Tapi tiba-tiba dia mencegat kami dan meracuni kekasih saya. Anda bisa lihat sendiri, kekasih saya terlihat kesakitan hingga tidak kuat menopang tubuhnya." Ujar Erica dengan raut wajah sedih.
Aku akan memanfaatkan hal ini untuk bisa menyelamatkan Robert!
"Ah, Mr. Greig. Jangan dengarkan mereka. Bila penjahat mengakui kejahatannya, tentu penjara akan penuh, kan? Mereka hanya mencoba mengelabui anda." Ujar Clein.
"Apa kamu menganggapku bodoh, Clein?" Ujar Mr. Greig dengan tatapan mengintimidasinya.
"Maafkan saya Mr. Greig. Bukan.. Bukan itu yang saya maksud." Ujar Clein yang terlihat takut.
Siapa lelaki tua ini? Dia membuat lelaki berengsek itu takut.
"Apa salah kami.. Kami bahkan tidak menyerang atau melakukan apapun kepada anda. Tapi... " Ujar Erica dengan meneteskan air matanya.
Robert sudah tidak bisa menahan berat tubuhnya lagi dan kesadarannya sudah menghilang. Seketika Erica merasakan berat tubuh Robert menimpanya dan membuatnya hilang keseimbangan.
"Nona!" Ujar Mr. Greig lalu secepatnya menolong Erica.
Mr. Greig menahan tubuh Robert dan membopongnya. Erica bernafas lega dan menatap lelaki tua itu.
"Terima kasih Mr. Greig. Saya tidak tahu jika tidak ada anda.. mungkin saya sudah sangat kesusahan. Sayang? Apa kamu mendengarku?" Ujar Erica yang terlihat panik.
"Clein. Bantu aku membawa mereka ke rumahku. Jika kamu menolak, besok kamu tidak akan ikut latihan." Ujar Mr. Greig dengan tegas.
"Tapi.. Mr.."
Mr. Greig menatap tajam Clein memberikan peringatan telak kepada lelaki itu. Dengan enggan, Clein membantu untuk membopong Robert.
"Mari Nona.. Kita akan pergi kerumah saya." Ujar Mr. Greig lalu mulai berjalan seirama dengan Clein.
"Hiks.. Terima kasih Mr. Greig." Ujar Erica dengan raut wajah memelas.
Okay. Rencanaku berhasil. Robert, kamu pasti akan sembuh. Apapun caranya. Dan buku itu aku pasti akan menemukannya secepat mungkin. Pikir Erica.
•••
Hallo readers kesayangankuuu🤗
Maap ya kalau jarang update.. hiks..
Author lagi sibuk karena udah mulai Work From Office sejak Januari akhir.
Rasanya susah banget buat update setiap hari.. Yah, karena sepulang kerja udah keburu capek dan sering ketiduran.
Setiap pagi atau sebelum tidur aku paksain buat nyicil nulis. Tapi ya gitu lamaaaa banget..
😭😭😭
Mohon jangan pindah kelain hati yaa readers kesayangan. Aku tuh tidak bisa ditinggalin...
Cukup mantan aja yang ninggalin 🤪🤭
Oke cukup sampai disini keluh kesahku.. wkwk
Jangan lupa untuk baca Chat Story "Penulis Singa.co". Disana kalian akan menemukan kekamvretan dari penulis-penulis aneh yang pasti bikin rasa humormu anjlok.
Jangan lupa kepoin para pemainnya yee.. Dijamin dah bakal auto sukaaaaaa😊😊
Baaiklah, guys.. Author mohon pamit.
Salam Hangat❤
Affxxvi