
Chapter sebelumnya
"Aku tidak bisa memastikannya, tapi aku menemukan mobil yang terlantar disana dengan beberapa barang yang beraroma sama dengan Robert dan Erica." Ujar Alex dengan wajah serius.
"Apa itu dekat dengan desa tempat tinggal penyihir?" Tanya Revon kepada Alex.
"Desa tempat tinggal penyihir? Bukankah tempat itu sudah menghilang sejak 175 tahun yang lalu?" Ujar Alex yang bingung.
"Erica mengetahui tempat itu. Aku memintanya menemukan sesuatu yang bisa menyembuhkan Rose." Ujar Revon yang bergantian menatap Alex lalu Rose.
"Apa tempat itu sangat berbahaya? Bagaimana kalau mereka sudah..." Ujar Rose dengan suara yang bergetar.
"Tidak ada hal buruk yang terjadi kepada mereka. Mereka pasti baik-baik saja, Rose. Jangan berpikir yang aneh-aneh." Ujar Revon sambil memeluk Rose.
Alex yang masih berada disana merasa sangat terganggu dengan pemandangan di depan matanya. Lelaki itu memutar bola matanya dan memberikan jari tengahnya ke arah Revon.
"Keluar dari rumahku." Ujar Revon tanpa bersuara.
Alex tetaplah Alex. Sangat tidak bisa diperingatkan.
"Jadi kapan kita akan pergi menghampiri mereka?" Tanya Alex.
Revon menatap tajam Alex yang membuat Rose melepas pelukannnya dan kembali menghadap ke arah Alex.
"Secepatnya. Dan aku akan ikut" Ujar Rose.
"Kamu tidak akan ikut." Ujar Revon dengan tegas.
"Kali ini aku setuju denganmu vampir. Rose kamu tidak bisa ikut." Ujar Alex.
"Kenapa aku tidak bisa ikut?"
"Cukup. Aku tidak akan membahas ini lagi dan lagi, Rose. Alex, keluar dari rumahku." Ujar Revon.
"Baiklah. Tapi, aku pergi bukan karena takut denganmu. Ingat itu. Sampai jumpa, Rose." Ujar Alex lalu berbalik menuju pintu keluar.
•••
Setelah Alex pergi, Rose tidak berhenti untuk meminta ikut mencari Robert dan Erica. Namun jawaban Revon tetap sama.
Saat ini mereka sedang duduk berdampingan di sofa yang ada di dalam kamar. Karena tidak ingin lagi mendengar ocehan dari Rose, lelaki itu memberikan sihir agar dia merasa mengantuk dan tertidur.
Revon menatap lekat kedua mata Rose lalu membisikkan kalimat-kalimat penenang untuk membantu mempercepat reaksi sihirnya.
Setelah beberapa menit, akhirnya Rose pun terlihat sangat mengantuk. Berulang kali dia menguap dan mengerjapkan mata dengan lelah.
"Tidurlah. Kamu terlihat sangat mengantuk." Ujar Revon sambil mengusap rambut Rose dengan lembut.
"Tidak. Aku tidak mau tidur. Kamu pasti akan pergi mencari Robert dan meninggalkanku disini." Jawab Rose dengan wajah cemberut.
"Jadi.. kamu takut aku pergi mencari Robert sendiri? Atau kamu takut aku tinggal sendiri?"
Rose membuka mulutnya dan menguap untuk yang kesekian kalinya. Kedua tangan Revon memeluk tubuh wanita itu dan membiarkan Rose bersandar di dada bidangnya.
"Kamu tidak boleh pergi tanpa aku.. Janji?" Ujar Rose sebelum tertidur pulas di pelukan Revon.
Revon tersenyum dan mengeratkan pelukannya. Menghirup aroma lavender yang selalu menjadi favoritnya.
"Aku tidak bisa berjanji.. itu sama saja aku membiarkan kamu untuk ikut dalam bahaya yang bahkan aku masih belum tahu seperti apa. Jangan khawatir, aku akan membawa Robert dan Erica kembali." Ujar Revon lalu menggendong Rose ke ranjang.
Membaringkan wanita tersayangnya di atas ranjang dengan perlahan, lalu menyelimuti tubuhnya.
Setelah mematikan lampu utama, Revon menyalakan lampu tidur agar tidak terlalu gelap nantinya.
Mengambil sebotol wine, Revon berjalan ke arah balkon kamar yang tersekat oleh pintu kaca dengan tirai berwarna abu-abu gelap.
Revon membuka pintu dengan sangat pelan lalu menutupnya kembali dengan rapat agar tidak ada angin malam yang masuk ke dalam kamar.
Angin terasa sangat dingin namun tidak mendung, sinar rembulan pun tampak sempurna tanpa ada yang menghalangi.
"Jika aku pergi besok, siapa yang akan menjaga Rose disini?" Gumam Revon dengan alis berkerut.
Membuka botol wine ditangannya, dia segera menenggak minuman berwarna merah itu.
Klak.
Tiba-tiba saja terdapat batu kerikil yang mendarat tepat di sebelah Revon. Dengan penuh waspada lelaki itu mengedarkan pandangannya.
Seketika dia menatap tajam kepada seseorang yang sedang tertangkap penglihatannya berjalan mendekat ke area rumahnya.
Siapa yang dia lihat?
"Oh... sayang sekali. Padahal aku berharap Rose yang sedang berada di balkon." Ujar Alex dengan nada mengejek. Saat ini Alex sudah berada di bawah balkon.
"Besok kamu akan pergi ke tempat Robert dan Erica, kan? Baguslah. Aku bisa bertemu Rose setiap saat." Ujar Alex dengan smirknya.
"Teruslah bermimpi karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Besok kamu ikut denganku." Ujar Revon dengan wajah datar.
"Apa kamu bilang?" Tanya Alex dengan tidak percaya.
"Apa kamu tuli?" Tanya Revon kembali dengan satu alis terangkat dan memiringkan kepala.
"Aku tidak punya urusan dengan Robert dan Erica. Jadi, aku tidak punya alasan untuk ikut denganmu."
"Baiklah. Kalau begitu, aku pastikan kamu tidak akan bisa bertemu dengan Rose lagi mulai dari sekarang." Ujar Revon dengan santai.
"Aku masih punya 1000 cara untuk bertemu dengannya tanpa perlu persetujuanmu. Jadi terserah kamu ingin berkata apa." Ujar Alex lalu merebut botol wine dari tangan Revon.
Sejak tadi dia merasa haus dan akhirnya dia pun mengambil wine milik Revon. Tegukan pertama berhasil melewati kerongkongannya. Seketika raut wajahnya berubah seperti ingin muntah.
"Minuman apa ini? Rasanya seperti kencing kuda." Ujar Alex dengan menjulurkan lidah dan mengembalikan botol wine ke tangan Revon.
"Mengapa aku tidak terkejut jika kamu pernah meminum kencing kuda?" Jawab Revon dengan smirknya.
Alex menatap tajam Revon dengan lidah yang masih menjulur, berusaha menghilangkan rasa aneh yang ada pada indra pengecapnya.
Tiba-tiba Alex berlari kencang ke arah pintu balkon. Gerakan itu terlihat oleh Revon dan secepat kilat lelaki itu menghalangi Alex.
Pyarr.
Setelah memecahkan botol wine ditangannya Revon menarik kuat leher Alex dan mendorongnya ke pagar pembatas. Pecahan botol yang menjadi runcing Revon arahkan ke jantung Alex.
Sisi runcing itu sudah menggores kaos putih Alex dan beberapa tetes darah mengalir dengan bebas.
"Walau botol wineku tidak membunuhmu. Tapi aku yakin ini cukup menyakitkan jika menusuk ke jantungmu. " Ujar Revon di sela-sela rahang yang mengeras.
Alex mencoba melepaskan diri. Namun itu semakin membuat Revon menusukkan lebih dalam pecahan botol itu.
Darah mulai mengalir lebih deras. Tangan Alex mencoba mendorong pecahan botol ke arah berlawanan hingga telapak tangannya tergores.
"Oh Rose.." Ujar Alex seolah melihat Rose di belakang Revon.
Hal itu membuat Revon lengah. Dengan satu tendangan kuat Revon terpukul mundur dan melepaskan pecahan botol itu.
Dengan segera Alex pergi dari balkon. Karena terlalu tergesa-gesa, dia tidak memperhatikan pijakannya hingga membuat dirinya terjatuh ke tanah dengan keras.
Bruuggh.
Suara jatuh yang keras membuat para vampir yang bekerja di rumah Revon keluar mengecek dan mencium aroma darah serigala.
Belum sempat mereka melihat Alex, lelaki itu sudah menghilang tanpa jejak.
"Apa terjadi sesuatu?" Gumam salah satu vampir.
Dan... Tidak ada yang tahu jika Revon masih berada di balkon.
•••
Pagi hari sekali, Revon mendapat panggilan telpon dari Alex. Entah karena apa Alex berubah pikiran dan setuju untuk ikut dengannya mencari Robert dan Erica.
Dia juga memberitahu jika teman-temannya yang akan menjaga Rose.
Lalu secara tidak sengaja adik dari Erica yang baru kembali dari kegiatan study wisata sekolahnya mendengar percakapan Revon dan Alex seketika meminta penjelasan.
Aston Zanquen, lelaki berambut hitam itu awalnya mengira kakaknya sudah kembali selama dia pergi. Namun ternyata kenyataannya tidak sejalan dengan apa yang dia pikirkan.
"Katakan, apa terjadi sesuatu kepada Erica? Mengapa dia belum kembali?" Tanya Aston dengan cemas.
"Aston. Kakakmu baik-baik saja. Hanya ada sedikit kendala saat dia akan kembali. Jadi, tenanglah. Okay?" Jawab Revon berusaha untuk tidak membuat Aston panik.
"Sepertinya ini bukan sedikit kendala. Buktinya dia belum juga kembali, kan?" Ujar Aston.
"Aku akan ikut mencarinya." Ujar Aston dengan penuh tekad.
"Tidak Aston. Kamu harus tetap disini. Aku tidak ingin menambah masalah jika terjadi sesuatu kepadamu nanti." Ujar Revon dengan tegas.
"Aku bisa sihir." Ujar Aston yang membuat Revon menjadi tertarik.
"Jangan mencoba membohongiku. Buktikan kalau memang ucapanmu benar."
Aston tersenyum dan mulai melakukan sihirnya.
Apa benar Aston bisa sihir sepert Erica?