
Tiba-tiba kedua mata Rose terbuka. Dia menatapku lalu berusaha lepas dari pelukanku.
Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu.
Aku menggelengkan kepala sambil mencoba mengatakan kalau aku tidak mau melepaskannya.
Selanjutnya dia melakukan hal yang tidak aku duga.
Dia.. menampar pipiku dengan sangat keras.
Aku hanya terdiam beberapa saat mencoba mencerna kejadian yang baru saja terjadi.
What the hell?!!
•••
Revon tersentak dan bangun dari tidurnya. Seluruh syaraf tubuhnya menegang dan jantungnya berdetak kencang. Jari-jarinya menyentuh pipi kanannya, rasa sakit akibat tamparan itu terasa nyata.
Tapi bagaimana itu bisa terjadi? Sedangkan Rose masih tetap terdiam diatas ranjang bersamanya.
Ya, memang tadinya dia tertidur saat berbaring di ranjang dan memandangi wajah Rose. Memeluk tubuh dingin wanita itu berharap bisa memberikan sedikit kehangatan.
Membelai lembut pipinya yang semakin terlihat tirus. Tangannya semakin turun ke arah bibir wanita itu. Bibir yang sebelumnya terlihat pink kemerahan sekarang terlihat pucat.
Lelaki itu menangis dalam diam hingga tanpa terasa dia terlelap sambil memeluk Rose.
•••
Pagi ini, Erica berencana untuk pergi ke tempat tinggal kerabatnya yang berada di suatu tempat terpencil di suatu desa. Memang terhitung jarak dari rumah Revon ke sana jauh, tapi dia tetap harus melakukannya.
Setelah bersiap-siap, Erica keluar dari kamar dan terkejut melihat Robert yang datang bersama adiknya. Rasa senang memenuhi perasaanya, sekejap dia memeluk adik laki-lakinya itu dengan erat.
"Kak. Jangan seperti ini aku malu." Ujar adiknya.
"Just silent, Aston. Berikan aku sedikit waktu memelukmu seperti ini." Jawab Erica kepada lelaki berumur 18 tahun itu.
Erica mengerutkan dahi, tersadar jika Robert masih disana dan melihat drama kakak-adik ini.
"Jangan hiraukan aku. Anggap saja aku tidak melihat." Ujar Robert tersenyum sambil mengangkat kedua bahu.
Perlahan Erica melepaskan pelukannya kepada Aston. Dia melirik Robert yang masih memandang ke arahnya.
"Ah, aku lupa. Terimakasih banyak sudah mengantarkan adikku ke sini." Ujar Erica.
"Bukan aku yang mengantarnya kesini. Tadi Dean yang mengantarnya sampai depan rumah." Ujar Robert dengan mengangkat kedua alis.
"Tetap saja terimakasih. Oh iya, Kamar dia yang mana?" Tanya Erica.
"Tepat disebelah kamarmu. Ayo ikut aku, Aston." Ujar Robert yang beranjak membuka pintu kamar.
•••
Setelah mengantar Aston, Erica dan Robert berbicara empat mata di ruang tamu. Wanita itu menjelaskan jika dia ingin pergi ke desa tempat kerabatnya tinggal untuk mencari tahu buku ritual.
"Kamu akan pergi bersama siapa?" Tanya Robert dengan menaikkan satu alis.
"Aku akan pergi sendiri." Ujar Erica.
"Tidak. Kamu tidak boleh pergi sendiri." Ujar Robert dengan mengerutkan alis tidak setuju.
"Aku bisa pergi sendiri.. lagipula.." Ujar Erica yang tiba-tiba dipotong Robert.
"Aku akan menemanimu. Kamu mau berangkat sekarang? Aku akan ambil beberapa barang sebentar."
"Hey! Tidak perlu aku akan pergi sendiri..."
"Sstt.. Aku tidak terima penolakan. Tunggu disini !"
Lalu Robert berlari dengan cepat dan menghilang masuk ke dalam rumah.