
Tepat pukul 10 malam, acara resepsi pernikahan telah usai. Para hadirin pun berangsur pulang. Robert memerintahkan beberapa orang untuk membantu membereskan acara.
"Apa semuanya aman?" tanya Revon. Robert seketika menoleh kepada Revon yang sudah berada di sampingnya.
Mereka berdua berdiri di dekat pintu masuk hotel. Beberapa meter dari tempat mereka berdiri, Rose, Teresa, Erica, Alex dan Aston sedang mengobrol dan bercanda bersama.
"Semua aman. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," balas Robert dengan profesional.
"Besok aku dan Rose akan kembali ke rumah. Jadi kamu bisa bekerja seperti biasa," jelas Revon.
Robert tanpa sadar mencuri pandang kepada Erica yang sedang asik bercerita ke semua yang sedang berada di dekatnya. Robert tidak melihat jasnya yang tadi wanita itu ambil. Lalu tiba-tiba ingatan saat Erica menciumnya muncul di kepalanya, Robert menelan ludah sambil memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Hmm, I smelled something," goda Revon dengan smirknya.
Robert membalas dengan tersenyum tipis. Setelah itu, Revon beranjak dan berjalan mendekati Rose. Lengan Revon melingkar posesif di pinggang Rose.
"Cukup mengobrolnya. Aku ingin mengambil istriku," ucap Revon.
"Rose, aku harap besok kamu akan baik-baik saja," goda Erica. Rose melototi Erica namun berakhir dengan tawa kecil yang lucu.
Sementara disisi lain, Alex memutar mata lalu menjauh dari pembicaraan yang sedang terjadi. Teresa melirik Alex yang berjalan menjauh. "Kamu berhasil membuat lelaki menyebalkan itu menjauh. Thanks Erica."
Erica seketika tertawa dengan keras. Lalu disusul dengan tawa kecil Aston.
"Aku akan pergi lebih dulu. Kalian jangan mengganggu, okay? Erica atau siapapun dari kalian bisa panggil Robert jika butuh sesuatu," ucap Revon lalu pergi menggandeng Rose.
Erica berhenti tertawa dan perlahan mengedarkan pandangannya. Masih di samping pintu, Robert berdiri sambil menatap lurus ke arah Erica. Selama beberapa detik, pandangan mereka saling mengunci.
"Aston, bisa kamu temani aku jalan-jalan sebentar? Aku ingin melihat-lihat," pinta Teresa.
Aston mengangguk lalu berbisik di telinga Erica. "Tidak perlu menungguku. Lakukan apapun yang kamu mau."
Erica mengalihkan pandangannya dan menatap Aston penuh tanya. Namun lelaki itu hanya tersenyum smirk lalu pergi bersama Teresa keluar hotel.
Saat ini, hanya ada Erica dan Robert yang tersisa. Dengan penuh percaya diri, Robert berjalan mendekati Erica. Lelaki itu berdiri tepat di depan Erica, hanya menyisakan satu inci jarak diantara mereka.
"Kamu berdiri terlalu dekat," ucap Erica.
Mendengar itu, Robert semakin mendekat hingga wajah mereka hampir bersentuhan. "Tidak cukup dekat, bagiku."
Erica merasakan jantungnya berdegup kencang. Wanita itu perlahan berjalan mundur untuk memberikan jarak, tapi Robert tidak tinggal diam. Setiap Erica berjalan mundur, Robert melangkah maju mengikis jarak.
"Aku ingin bicara denganmu," ungkap Robert.
"Bicara saja," balas Erica cepat.
"Aku butuh tempat yang lebih privasi. Ikut aku," ucap Robert lalu menarik tangan Erica untuk ikut dengannya.
•••
Rose sedang berdiri di depan cermin yang memanjang hingga ke bawah. Wanita itu terdiam sambil menatap pantulan dirinya yang masih memakai gaun pengantin. Dari arah belakang, sepasang lengan melingkar di perut rata Rose. Aroma tubuh yang sangat dia kenal seketika memenuhi indra penciuman Rose.
"Aku ingin mendengar ceritamu," ucap Rose.
"Aku tidak ingin membebani pikiranmu malam ini. Kita akan membicarakan ini besok," tolak Revon.
"Aku tidak akan bisa tidur tenang jika kamu tidak mengatakannya sekarang," bantah Rose.
Revon menatap Rose dengan intens. "Apa kamu masih ingat dengan ritual yang ada di buku?"
"Hmm … ya. Aku ingat."
"Aku sudah mencoba membicarakan itu dengan Erica. Dia memiliki cerita dari leluhurnya bahwa ritual itu hanya bisa dilakukan pada pasangan manusia dengan vampir yang dulunya adalah manusia juga. Mereka masih bisa memiliki keturunan. Tidak ada ritual untuk pasangan manusia dan vampir murni," jelas Revon.
"Buku itu adalah sumber yang paling valid. Aku tidak yakin dengan sumber lainnya."
Rose terdiam dan menutup mata. Revon tidak bisa menebak apa yang sedang ada dipikiran wanita itu. Hal itu membuatnya khawatir sekaligus takut. "Bae, katakan sesuatu. Apa yang sedang ada di pikiranmu?"
"Apa itu alasannya?" balas Rose.
"Alasan?"
"Alasan kamu mengatakan kamu tidak ingin memiliki anak. Kamu tidak sungguh-sungguh mengatakan itu."
Revon mengeratkan pelukannya lalu mencium pelipis Rose dengan lembut. "Kamu sudah tahu jawabannya."
"Tidak. Aku ingin mendengar jawaban dari mulutmu."
Revon menatap intens kedua netra wanita yang saat ini juga menatapnya melalui pantulan cermin. "Aku bahkan sudah membayangkan bagaimana memiliki seorang putri dengan sifat keras kepala seperti dirimu."
Rose melotot ke arah Revon. "Oh, begitu. Bagaimana denganmu? Arogan, diktator, posesif–"
"Seksi dan tampan," potong Revon.
Rose tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Wanita itu lalu berbalik menghadap lelaki yang sekarang sudah menjadi suaminya. Tangan halus Rose mengusap pipi Revon, lalu turun menyusuri rahang tegas lelaki itu.
"Kamu bisa mengeksplor tubuhku lebih jauh," goda Revon.
"Hmm …." balas Rose.
Tangan Rose membuka jas Revon lalu menjatuhkannya di atas lantai. Selanjutnya, Rose mencium bibir Revon dengan perlahan dan lembut. Selang beberapa menit, Revon mengambil alih permainan. Lelaki itu memperdalam ciuman dan menghimpit tubuh Rose ke dinding. Ciuman yang panas dan mulai membuat Rose terlena. Tersadar akan sesuatu, Rose mendorong tubuh Revon untuk menghentikan ciuman.
"Aku harus melepas beberapa aksesoris rambut," jelas Rose.
Revon mengecup bibir Rose lalu melepaskan wanita itu dari pelukannya. Rose pun segera mendekat ke cermin dan melepas aksesoris rambutnya. Rambut kehitamannya terjatuh bebas ke bahunya. Lalu Rose mengambil make up remover dan mulai menghapus riasan wajahnya.
Sambil menunggu Rose, Revon mengambil wine di meja dan menuangkannya ke dalam gelas. Setelah selesai membersihkan riasannya, Rose berjalan menghampiri Revon dan mengambil gelas berisi wine dari tangan lelaki itu.
"Jangan terlalu banyak minum," ucap Revon.
"Aku tidak ingin meminumnya," balas Rose lalu meletakkan gelas di meja.
Rose mendorong Revon hingga terduduk di atas single sofa. Dengan perlahan tangan Rose membuka satu persatu kancing kemeja Revon sambil duduk dipangkuan lelaki itu. Tangan Revon perlahan membelai punggung Rose dengan sentuhan sensual.
Setelah membuka seluruh kancingnya, Rose melepas kemeja lelaki itu dan melemparkannya ke sembarang arah. Jari lentik Rose menyusuri tubuh Revon, dari leher, bahu, lengan, dada dan semakin turun ke bawah. Revon mulai merasakan tubuhnya yang terasa panas akan gairah dan nafasnya yang memburu.
Revon mengamati ekspresi Rose yang sedang mengeksplor bagian tubuhnya. Saat Rose melihat ke bawah, dia menemukan sesuatu yang serasa ingin dibebaskan dari dalam celana Revon. "Kamu ingin membebaskannya?"
Rose mengalihkan pandangannya ke wajah Revon yang sedang menampilkan smirk. Lalu sebuah ide jahil muncul di kepala Rose. Wanita itu mengangkat sedikit tubuhnya untuk bergeser semakin mendekat ke tubuh Revon. Rose semakin membuka lebar kedua pahanya, dan menempatkan titik sensitifnya tepat di atas bagian gundukan celana Revon.
"Oh, ****!" umpat Revon.
Tidak sampai disitu, Rose menggerakkan pinggulnya maju dan mundur. Revon menelan ludah dengan susah payah lalu membuka bibirnya. "Kamu ingin bermain, hmm?
Rose tidak menjawab dan hanya tersenyum manis. Revon tertawa, lelaki itu menatap Rose dengan pandangan yang menggelap.
"Lakukan apapun yang kamu mau. Aku akan menggunakan waktuku untuk memikirkan apa yang akan aku lakukan padamu nanti," ucap Revon dengan suara serak.
Mendengar itu, entah mengapa Rose bisa merasakan ketakutan bercampur rasa excited yang luar biasa. Rasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Apa yang akan kamu lakukan padaku nanti?" tanya Rose.
Revon hanya terdiam dan menampilkan smirknya. Selang beberapa detik, Revon berbisik. "Aku akan melakukan apa yang aku mau."