
Sudah seminggu sejak Rose tidak sadarkan diri. Revon semakin menggila dan membuatnya mau tidak mau harus meminta bantuan Alex. Satu-satunya lelaki yang terlihat peduli dan tidak ingin mencelakakan Rose.
Selama seminggu Alex setiap hari datang ke rumah Revon untuk melihat keadaan Rose. Lelaki itu juga memaksa Revon untuk menceritakan kejadian yang menimpa Rose hingga seperti sekarang. Namun Revon tetap tidak ingin memberitahu.
Hingga saat ini, dia sedang berbicara empat mata dengan Alex di ruang kerja. Dia sedang menceritakan kejadian yang menimpa wanita yang dia cintai.
"Jadi.. Kamu sudah menyerah dan memilih menceritakan kejadiannya kepadaku?" Ujar Alex dengan melipat kedua tangannya didepan dada.
"Ya. Aku harap ada gunanya aku menceritakan ini kepadamu. Aku ingin Rose kembali sadar, kembali seperti semula." Ujar Revon dengan raut wajah lelah.
"Tanpa kamu minta pun, aku akan melakukan apapun untuknya. Dia wanita yang pantas untuk mendapatkan hidupnya kembali. Tapi, ingat baik-baik, aku tidak melakukan ini untukmu." Jawab Alex.
"Yeah. Whatever. Aku akan mulai menceritakan kejadiannya. Jadi.. Sejak aku bangkit kembali, aku mendapati musuhku Stevan mengambil seluruh aset pribadiku. Dan juga dia mencoba untuk mendekati Rose agar bisa mempengaruhi pikirannya.
Dia berhasil. Rose mengalami beberapa halusinasi yang membuatnya melihatku di beberapa tempat. Suatu saat aku mendengar Rose memanggilku melalui pikirannya. Suara itu terdengar samar, tapi aku tahu kalau itu adalah Rose. Aku melacak keberadaannya dan mendapati Stevan di kamar hotel Rose mencoba memperkosanya.
Aku membuat lelaki itu dalam kondisi yang cukup buruk dan membawanya sebagai tawanan di basement rumah ini. Rose juga aku bawa untuk tinggal disini, dengan maksud membangun suasana baru. Menghabiskan waktu berdua lebih banyak.
Tapi, tiba-tiba kejadian itu muncul. Saat aku sedang keluar rumah dengan Robert untuk suatu urusan. Stevan kabur dan melakukan sesuatu hal dengan sihirnya. Ya, dia adalah penyihir yang mahir. Entah apa yang dia lakukan hingga membuat Rose tenggelam di dalam bathub berisi air.
Disekeliling bathub berjejer lilin dan telapak tangan Rose tergambar sayatan membentuk pola aneh. Aku tidak bisa memahaminya." Jelas Revon panjang lebar.
"Oke jadi Stevan telah melakukan semacam ritual sihir yang membuat Ros tidak sadarkan diri. Aku akan mencoba mencari penyihir secepatnya. Btw, apa kamu tidak kenal barang satu pun penyihir?"
"Ada. Tapi dia sudah setahun menghilang dan entah kemana. Aku sama sekali tidak bisa menghubunginya." Ujar Revon dengan menyisirkan jarinya ke rambutnya yang sudah acak-acakan.
"Aku akan pulang dulu dan mulai mencari penyihir besok." Ujar Alex.
"Yeah. Thank you."
"Jangan mencoba akrab denganku, Revon. Kita bukan teman." Jawab Alex dengan raut wajah jijiknya.
Revon hanya diam dan melihat Alex menghilang di balik pintu ruang kerjanya.
•••
Sesampainya di rumah yang Alex sewa bersama teman-temannya, lelaki itu langsung pergi ke kamarnya. Beberapa temannya melihat raut wajah Alex yang terlihat seperti berkata "jangan ganggu aku".
"Psst.. kenapa dia?" Bisik Dean.
"Entahlah. Mungkin dia sedang badmood." Jawab Lee.
"Pms kali." Ujar Ricky dengan asal.
Mendengar itu, Taylor, Lee, dan Dean tertawa perlahan agar tidak mengganggu Alex di kamar.
•••
Alex POV
Triingg. Triingg.
Bunyi ponsel yang menandakan terdapat panggilan masuk. Aku pun membalikkan badan yang tadi sedang posisi terlungkup menjadi berbaring.
Mengambil ponsel dari saku jaketku. Tanpa melihat siapa pemanggilnya aku pun langsung mengangkat panggilan itu.
"Hey, little wolf." Sapa dari seorang wanita di seberang telpon.
Aku mengerutkan alis mendengar sapaan itu. Seketika aku melihat layar ponselku dan disana tertera nama "Author Bangs*t". Tiba-tiba aku merasa menyesal tidak melihat nama pemanggilnya tadi.
Sial*n! Pikirku.
"Hey! Jawab aku. Jangan bilang kamu sibuk lalu kamu bisa tidak menjawab telponku." Ujar wanita itu dengan kesal.
"Ya. Aku sibuk. Aku tutup..." Jawabku yang tiba-tiba dipotong oleh wanita itu.
"Tunggu! Aku tahu kamu sedang mencari penyihir, kan? Aku tahu beberapa penyihir."
"Bohong! Aku tidak percaya Aff, kamu hanya wanita yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan."
Hah! Yang benar saja!
"Aku serius kali ini. Aku tahu penyihir dari Novel Hujan Meteor karya Diqa Alisyah. Dia cukup terkenal dengan kemahirannya dalam ilmu sihir." Jawabnya.
"Really? Aku ingin bertemu penyihir itu. Cepat beritahu dimana dia sekarang?" Ujarku dengan antusias.
"Eits.. Ada syaratnya! Baru aku kasih tahu."
"Apa aku bilang. Kamu pasti mencari kesempatan dalam kesempitan."
"Alex! Namaku bukan untung. Jadi.. apa syaratnya?"
"Yeah, terserah. Syaratnya adalah kamu harus datang ke Indonesia, temani aku pergi ke acara hari sabtu. "
"What the hell. Itu jauh sekali dari sini, hampir 12.000 KM. Aku tidak mau." Ujarku dengan kesal.
Sudah muncul tiba-tiba, sekarang seenaknya menyuruh orang!
"Hey! Kamu tidak boleh melewatkan kesempatan ini. Bagaimana kalau penyihir itu ada di Indonesia juga? Atau ada seseorang yang mengenal penyihir itu dengan akrab? Lagipula aku kesana menghadiri acara besar yang dihadiri banyak orang dari penjuru negeri. Mungkin saja diantara mereka ada penyihir hebat." Ujar wanita itu dengan santainya.
"Memang acara apa? Jangan bilang aku harus menjadi pasangan kamu ke acara pernikahan atau semacamnya."
"Pfftt.. Acara resepsi pernikahan tepatnya. Oh, ayolah! Aku tidak mau hanya pergi sendirian."
"Salah kamu sendiri, menjadi single tidak taken-taken."
"Alex! Kamu berani ya membully aku. Lihat saja aku coret nama kamu dari novel ini. Hahaha." Ujar Author dengan ketawa ala sinetron.
"Eh, Aff cantik, sabar dan rajin menabung. Jangan coret aku ya. Ya sudah aku mau menemani kamu ke acara resepsi. Tapi awas kalo kamu bohong tentang penyihir itu."
"Good boy. Tiketnya sudah aku pesan untuk berangkat malam ini. Jadi cepat bersiap-siap."
"What?! Ini sudah jam 9.30 malam di Perancis. Maksudmu malam di dunia bagian mana?"
"Jam 10 malam waktu Perancis. Berarti 30 menit dari sekarang. Jelas? Okay! Aku tunggu kedatanganmu. Bye, Little wolf."
"Shit! Dasar Aff bangs*t." Umpatku dengan kesal.
•••
Setelah penerbangan yang terasa sangat lama Alex sampai di Indonesia dengan selamat. Sebelum lepas landas tadi, wanita yang lelaki itu panggil Aff sudah mengirim undangan resepsi ke emailnya.
Saat berada di luar bandara, dia melihat wanita yang terlihat familiar sedang bersandar di mobil taksi menghadap dirinya.
"Little wolf! Here!" Teriak wanita itu sambil melambaikan tangan.
Dengan enggan Alex menghampiri wanita itu dan terpaksa menerima perlakuan darinya karena dia sudah terlalu malas berdebat.
"Senyumnya mana! Asshhh... Kelihatan terpaksa banget kamu datang ke sini." Ujar wanita yang tidak lain adalah author bangs*t.
"Memang terpaksa. Hmm. Sudah aku capek banget. Mau berbaring di kasur dengan tenang. Kamu harus pesankan kamar hotel, makanan, dan semua yang aku butuhkan disini. Ingat! Kamu yang minta aku ke sini." Ujar Alex.
"Ya ya ya. Masuk taksi sana." Jawab Aff dengan mendorong Alex masuk ke taksi tanpa memperhatikan kepalanya. Hal itu membuat kepala lelaki itu terpentok pintu mobil.
Jduk!
"Dam, Aff!" Teriak Alex sambil menatap tajam Aff.
Sedangkan wanita itu hanya tersenyum tanpa dosa.
•••
Piip piip piip!
Hiyaa akhirnya author masuk ke scene😂😂
Dalam rangka mau datang ke suatu acara.. wkwkwk
Acara siapa tuh??? Penasaran??
Langsung dateng ke novelnya Mbak Nov yak!
Terus yang penasaran sama penyihir yang aku maksud, bisa kepoin ceritanya kak Diqa ini. Dijamin bikin otak olahraga😌
Oke cukup sekian. selamat bertemu di chapter selanjutnya.😊
Salam hangat
Affandi❤