My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 8 - between a dream and reality



Kamar Rose


Rose POV


Setelah selesai mandi, dia mengambil ponsel dari dalam tasnya. Namun dia menemukan sapu tangan di dalam tas.


"Sapu tangan?.... Ah, sapu tangan milik Alex. Iiishh karena sapu tangan ini aku harus bertemu dia lagi suatu saat." Ujar Rose merasa kesal.


Dia melempar sapu tangan itu ke keranjang pakaian kotor. Setelah itu dia berbaring di ranjang dengan menatap langit-langit kamarnya. Dia sebenarnya sudah lelah, tapi dia tidak ingin tidur.


Jika dia tidur pasti akan bermimpi buruk lagi. Dia mengambil ponsel di meja dan melihat foto Revon.



Saat itu dia sangat susah dibujuk untuk berpose. Katanya terlalu banyak orang membuatnya jadi risih. Walau dia terlihat tidak nyaman tapi dia tetap tampan.


Rose tertawa kecil mengingat saat itu.


"I miss you, honey. Maafkan aku.. " Gumamku lirih.


Air mataku menetes lagi. Hah! Aku seperti tidak akan bosan menangis dan menangis. Setelah lelah menangis, tanpa sadar aku pun tertidur.


•••


"Morning, bae." Ujar suara lelaki.


Suara ini? Apa Revon ada disini?


Aku pun membuka mataku dengan malas. Cahaya di ruangan tidak terlalu terang, bahkan cenderung gelap. Tapi aku dapat melihat dia... dia sedang berada di depanku. Jari-jarinya mengusap pipiku dengan lembut, mata indahnya memandangku intens.


Apakah ini mimpi? Aku berulang kali mengerjapkan kedua mataku. Namun dia masih sama ada di depanku dan senyumannya perlahan mengembang.


"Kenapa kamu mengedipkan mata berulang kali?" Ujarnya dengan tertawa kecil.


Suara tawa itu, aku sangat merindukannya.


"Apa ini benar-benar kamu? Aku.. aku.. Oh god. Kalau pun ini mimpi.. aku tidak ingin bangun.." Ujarku.


Aku mulai menangis, dia terlihat bingung melihatku menangis.


Aku menikmati pelukan hangat darinya. Jeez, ini terasa sangat nyata.


Apakah ini kenyataan atau hanya mimpi?


"Sudah jangan menangis, okay? Kemarilah, ada kejutan untukmu." Ujarnya.


"Kejutan?" Tanyaku.


"Iya kejutan. Cepat ayo ikut aku." Ujarnya terlihat antusias.


Aku pun mengikutinya dan ternyata dia mengajakku ke balkon kamar hotelku. Cahaya matahari terbit dan memberikan pemandangan yang menakjubkan pagi ini.


"Bagaimana? Kamu suka? Aku tahu kamu belum pernah melihat matahari terbit dari balkon kamarmu sendiri." Ujarnya dengan nada humor. Dia memeluk tubuhku yang ramping dengan tubuhnya yang atletis.


Aku tersenyum dan membalikkan tubuhku menghadap dia. Rambutnya yang acak-acakan membuat tanganku terulur untuk merapikannya sedikit.


"Apa kurangku, bae? Katakan padaku." Tanyanya tiba-tiba. Raut wajahnya berubah menjadi kecewa dan dingin.


"Kamu tidak kurang apapun, hon. Kamu sempurna." Jawabku mencoba tetap tenang.


"Lantas.. Kenapa kamu... kamu.. membunuhku?" Tanyanya dengan menatapku kecewa. Dia seperti menahan tangis, perlahan dia berjalan mundur dariku.


"Honey.. please.. dengarkan aku.." Ujarku mencoba menarik tangannya agar tidak menjauh.


"I don't want to hear anything from you." Ujarnya dengan penuh penekanan.


Dia perlahan pergi dan menghilang.


•••


Aku sontak terbangun dengan keringat yang membanjiri tubuhku. Nafasku terasa sesak.


Kenapa terasa sangat nyata? Kenapa dia terlihat sangat nyata di mimpi? Senyumannya, tatapannya, dan pelukannya benar-benar masih membekas.


Apa aku sudah gila? Apa sudah tidak ada perbedaan antara kenyataan dan mimpi?


"Aku bisa gila kalau seperti ini." Gumamku lirih sambil menutup wajahku dengan kedua tangan.