
Sinar mentari pagi telah datang. Hari ini Rose ingin menghirup udara segar di luar setelah kemarin seharian di kamar bersama Revon.
Tepat setelah lelaki itu menyelesaikan pekerjaannya, Rose semakin mendekap tubuh Revon dengan erat. Sesekali dia mengusap-usapkan hidungnya di leher lelaki itu dan menghirup aroma khas darinya.
"Bae … apa sebenarnya yang kamu inginkan?" ujar Revon dengan smirknya.
Senyuman mengembang di bibir Rose. Lalu dia menghentikan aksinya dan menatap wajah Revon.
"Aku sangat suka dengan aroma tubuhmu," jawab Rose dengan pipi yang merona.
"Jadi, kamu hanya ingin mencium aroma tubuhku?" tanya Revon dengan senyuman menggoda.
"Iya …. " jawab Rose dengan menahan tawanya. Dia merasa kalau percakapan antara dirinya dan Revon saat ini membuatnya ingin tertawa.
Tiba-tiba Revon membaringkan tubuh Rose diatas ranjang hingga membuat wanita itu menahan nafas karena gerakan mendadak itu.
Lelaki itu menatap Rose dengan iris mata hitam kemerahan miliknya, "Bernafas, Bae. Apa kamu ingin nafas buatan dariku?" ujar Revon dengan suara serak.
Seketika Rose tersadar dan kembali bernafas. Wanita itu menelusuri wajah Revon, mengagumi ketampanan kekasihnya yang sangat membuatnya terpesona berkali-kali.
Selama beberapa menit mereka hanya menikmati keheningan sambil menatap satu sama lain. Jari-jari Revon mengusap pipi Rose dengan lembut, lalu beralih ke rambutnya yang panjang.
Revon terlihat mengerutkan dahi, tidak lama kemudian dia berkata, "Ada seseorang yang ingin menemuimu," ujar Revon dengan melirik ke arah pintu.
"Menemuiku? Siapa?" tanya Rose sedikit was-was.
Revon tidak menjawabnya dan hanya tersenyum manis menatap Rose. Dia bangkit dari ranjang dan menarik Rose untuk mengikutinya membuka pintu.
Cklek.
Rose mematung dengan wajah yang terkejut. Di depannya sedang berdiri seorang yang sudah lama dia tunggu untuk kembali bangun dan bisa sembuh seperti semula.
"Erica …. " ujar Rose dengan lirih.
"Lama tidak bertemu. Rose," Erica menyapa dengan senyuman hangat.
Tanpa membuang waktu, Rose memeluk Erica dengan penuh semangat hingga Erica mengeluarkan protesnya.
"Hey! Kamu ingin membuatku pingsan, huh?" protesnya.
Rose pun segera mengendurkan pelukannya namun masih enggan melepasnya.
"Maafkan aku. Ini semua salahku," ujar Rose dengan suara yang serak.
"Bae, berhenti menyalahkan dirimu," Revon bersuara dengan lembut.
Revon dan Erica saling menatap selama beberapa detik. Lalu Erica berkata, "Rose. Revon benar, ini bukan salahmu. Jadi, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri," ujar Erica.
Erica melepaskan pelukan dan melihat Rose yang menitikkan air matanya.
"Oh God! Jangan menangis, Rose. Aku belum mati," ujar Erica dengan nada gurauan. Dia berusaha untuk membuat suasana menjadi lebih baik.
"Kamu tidak tahu … kamu terlihat seperti orang mati 20 hari yang lalu," jawab Rose dengan sesenggukan.
Revon mendekat ke arah Rose dan merangkulnya. Lelaki itu mengusap punggung Rose untuk mencoba menenangkannya.
Selang beberapa saat, Rose sudah tenang, dia berbalik dan melihat ke arah Erica berdiri.
"Bagaimana dengan Robert?" Tanya Rose.
"Anda mencari saya, Ms. Mint?" ujar Robert yang muncul dari balik dinding yang berada di luar kamar.
"Aku sangat senang kalian sudah sembuh. Revon … Kita harus membuat pesta," Rose berkata dengan riangnya.
"Aku akan mengaturnya nanti. Ah, jika dilihat-lihat … kalian sudah sangat serasi untuk menjadi pasangan hingga sekarat pun bersamaan," ujar Revon dengan santainya.
Mendengar itu, Rose mencubit pinggang Revon. Namun lelaki itu malah tersenyum sambil menangkap kedua tangan Rose dan menyatukannya di belakang tubuh wanita itu.
Erica hanya tersenyum tanpa menjawab. Lalu Robert mengalihkan pembicaraan, "Tuan, bagaimana kabar perusahaan?" tanya Robert.
"Besok kamu akan ke kantor?" Rose merasa kesal karena baru mengetahui hal ini.
"Tenang, Bae. Aku akan mengajakmu juga. Kita akan kembali ke Paris," ujar Revon lalu mengecup pelipis Rose.
"Baiklah. Kalian bisa istirahat," Revon mengusir Erica dan Robert, lalu menutup pintu kamarnya.
•••
Teresa berjalan di pantai bersama seorang lelaki. Mereka tampak bahagia dan memiliki hubungan yang dekat.
"Ada penjual es krim. Kamu mau?" tanya lelaki itu.
"Aku mau yang rasa coklat dengan taburan kacang diatasnya," jawab Teresa.
"Tunggu disini. Jangan pergi kemana-mana," ujar lelaki itu sebelum berlari menuju gerobak penjual es krim.
Namun tiba-tiba, Teresa di hampiri oleh segerombol lelaki. Mereka berlima mendekati Teresa dan menggodanya. Teresa yang saat itu masih remaja merasa takut.
"Ayo ikut kami. Kami akan mengajakmu bersenang-senang," ujar salah satu lelaki dengan rambut blonde.
"Pergi, jangan ganggu aku!" pinta Teresa.
Sekejap tangan Teresa ditarik dengan kasar oleh lelaki berambut blonde itu. Spontan Teresa berteriak dengan keras sambil berusaha lepas dari cengkraman lelaki itu, "Lepas! Lepaskan aku!" teriaknya.
"Ssttt .... " Lelaki berambut blonde itu mencoba membuat Teresa bungkam dengan membekap mulutnya.
"Eehhmmm ... ehmm .... " Teresa masih berusaha teriak namun hanya suara tidak jelas yang dia keluarkan.
Saat mereka akan membawa wanita itu pergi menjauh dengan menaiki sebuah jeep yang entah dari mana, tanpa diduga ....
Buuggh
Buugghh
Buuaaghh
Dengan membabi buta, lelaki berambut blonde itu dipukuli oleh lelaki yang membeli es krim tadi. Tidak hanya itu, empat lelaki lain juga dia pukul hingga tidak sadarkan diri.
"Cukup!" teriak Teresa kepada lelaki yang masih memukuli lelaki berambut blonde yang berniat menculik Teresa.
"Aku akan membunuhnya," ujar lelaki itu dengan penuh amarah.
"Hentikan! Stevan!" teriak Teresa sekencang-kencangnya.
Beruntung lelaki yang di panggil itu mau berhenti.
Stevan, mau berhenti memukul lelaki berambut blonde itu.
"Haahh ...." Teresa terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal.
Dia bermimpi. Mimpi yang seharusnya tidak dia ingat, karena dia seharusnya tidak mengingat Stevan.
•••
Haloooooooo
Maap ya lama updatenyaaa....
😌😌😌
Ada yang kangen ama Revon gak nih?
Jangan lupa like yak, gua aduin Revon kalo kaga like🤣🤣🤭
..."Bae, sudah siap jalan?"...