
Keesokan paginya Rose tidak menemukan Revon di sampingnya, sisi ranjangnya kosong dan terasa dingin. Hal itu membuat moodnya memburuk dalam sekejap. Dengan bibir yang tertekuk ke bawah, Rose berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri, Rose masuk ke dalam walk in closet Dan memilih gaun santai selutut berwarna merah muda. Ditengah-tengah kegiatan menyisirnya, rasa lapar di perutnya kembali datang. Bersamaan dengan ingatan aroma unik dari tubuh Revon beberapa jam yang lalu. Lebih tepatnya lewat tengah malam tadi saat di kolam renang.
"Kenapa aku teringat aroma itu lagi? Haahhh … Rose, ada apa denganmu?!" kesal Rose. Wanita itu berbicara dengan pantulan dirinya di cermin.
Moodnya semakin lama semakin buruk. Rose berusaha untuk melupakan aroma itu dan berniat pergi ke dapur.
Cklek.
Tidak terlihat Revon di sekitar kamar, hal itu membuat Rose semakin kesal. Dengan langkah yang dihentakkan cukup keras seperti anak kecil, Rose menuruni satu persatu anak tangga. Saat akan sampai ke dapur, Rose menghentikan langkahnya seketika.
Ternyata Revon sedang berdiri di pantry dan mengaduk sesuatu di wadah. Rose kembali merasa kesal karena pasti dia akan mencium aroma itu lagi, tapi dia lapar. Perlahan, Rose berjalan mendekat ke arah kulkas tanpa menghiraukan Revon.
Rose mengambil sebuah apel lalu berniat memakannya di tempat lain selain dapur. Namun, sebelum melewati pantry dari arah lain Robert datang. Dengan jarak Rose yang lebih dekat dengan Robert, tiba-tiba wanita itu mematung.
Robert tidak menyadari hal itu, tapi Revon menyadarinya. Revon merasa heran dan penasaran, lelaki itu mengamati tingkah Rose sambil mendengarkan Robert yang berbicara mengenai pekerjaan.
Rose terlihat tidak nyaman dan berulang kali mendekatkan jarinya ke hidung. Lebih tepatnya menutupi hidungnya. Revon melirik Rose yang sedikit bergeser ke arah dirinya yang berdiri agak jauh.
Robert selesai berbicara dengan Revon, lalu pergi dari dapur. Setelah kepergian Robert, Rose seketika terlihat lemas, menutup mata dan mencoba menghirup udara sebanyak mungkin. Tanpa sadar Rose melangkah mendekati Revon tapi tidak terlalu dekat juga. Masih ada satu meter jarak diantara mereka.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya saja, hmm?" ucap Revon.
Lelaki itu menuangkan sesuatu di atas teflon. Aroma makanan seketika memenuhi indra penciuman Rose. Rose membuka matanya lalu menatap omelette yang sedang dimasak. Ternyata Revon sedang membuat omelette. Hal itu membuatnya semakin lapar.
"Ini sudah pasti untukmu. Kamu tidak perlu menatapnya seperti itu." Revon mengatakan itu dengan nada datar tapi tersirat akan godaan.
Rose beralih menatap Revon dengan tatapan tajam. Tidak lama, omelette pun matang. Revon menata omelette diatas piring lalu memberikannya kepada Rose. Wanita itu bergantian menatap sepiring omelette lalu menatap Revon. Namun, Rose tidak mengambil sepiring omelette itu, dia masih kesal karena Revon yang meninggalkannya sendiri semalaman.
"Buat kamu saja," ucap Rose singkat.
Rose berniat pergi dari dapur membawa apel di tangannya. Sebelum melangkahkan kakinya, tiba-tiba Revon menarik tangannya. Revon mengurung Rose diantara tubuh atletisnya dan pantry.
"Bae, katakan … ada apa, hm? Kamu terlihat aneh sejak semalam. Dan tadi, aku tahu kamu menutup hidung saat ada Robert disini," ungkap Revon.
Rose sedikit mendongak menatap Revon yang mana lebih tinggi darinya. Aroma yang sama, kembali memenuhi indra penciuman Rose. Rose mengalihkan pandangan ke arah kulkas di belakang Revon, sambil menelan ludah.
Revon menarik dagu Rose agar menatap dirinya. "Bae, kamu mengingatkanku pada sesuatu."
Rose bingung mendengar perkataan Revon. Revon tiba-tiba mengambil pisau yang berada di atas pantry. Revon mengarahkan pisau itu ke lehernya sendiri.
"Revon! Apa yang kamu lakukan?!" Rose panik dan berusaha menarik tangan Revon yang membawa pisau agar menjauh.
Revon malah tersenyum lebar. Revon menggores lehernya sendiri hingga cukup dalam. Darah keluar dari luka itu. Rose yang melihat itu terkejut dan berusaha menghentikan Revon.
Seolah sedang melakukan eksperimen, Revon melihat setiap ekspresi dari wajah Rose. Ada sesuatu yang lain yang menarik perhatian lelaki itu.
Revon menjauhkan pisaunya dari leher. Rose mencoba menghentikan darah yang mengalir dengan menutup luka itu dengan telapak tangannya. Revon tertawa kecil.
"Bisa-bisanya kamu tertawa," kesal Rose.
"Bae, aku tidak apa-apa. Kamu lupa siapa aku?"
Rose hanya menatap Revon tanpa menjawab. Tawa Revon perlahan menghilang, secara tiba-tiba Revon menjauhkan telapak tangan Rose dari lehernya. Revon membiarkan Rose melihat telapak tangannya yang berlumuran darah.
Mendengar itu, Rose melirik Revon yang terlihat tersenyum tanpa beban. Selama beberapa detik, Rose hanya menatap telapak tangannya. Tidak ada tindakan dari Rose sedikitpun.
"Lihat baik-baik," pinta Revon. Lelaki itu lalu menarik telapak tangan Rose mendekat ke wajahnya.
Revon memasukkan jari telunjuk Rose ke dalam mulutnya. Melahapnya dari pangkal hingga ke ujung, membersihkan seluruh darah di bagian itu.
Rose tidak bisa berkata-kata. Wanita itu hanya menatap Revon tanpa berkedip. Selesai melakukan hal itu, Revon melepaskan tangan Rose. Revon menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Rose.
Rose mulai memasukkan jari tengahnya ke dalam mulut, hanya sebagian saja. Namun, ternyata darah itu sudah mengering.
Revon menghentikan Rose. "Itu sudah kering. Lebih baik yang masih fresh."
Dengan cepat, Revon kembali menggoreskan pisau ke sisi lain lehernya. Darah kembali mengalir, kali ini Revon segera mendekat ke Rose. Lelaki itu sedikit menunduk untuk memberikan akses kepada Rose.
"Jangan membuat darahku terbuang percuma, Bae." Revon berbisik di telinga Rose.
Dari jarak sangat dekat, Rose benar-benar bisa menghirup aroma darah Revon. Perlahan, Rose menjilat sedikit darah yang masih segar itu. Seperti sebuah kembang api, Rose merasa seluruh sel dalam tubuhnya bersorak gembira. Hingga membuat pikirannya berkabut dan lupa segalanya.
Seketika Rose menarik leher Revon dan menyesap semua yang dia mampu.
"Oh, ****!" umpat Revon.
Saat ini Rose memeluk tubuh Revon dengan kedua tangannya, lalu kedua kakinya bergelayut di pinggang Revon.
"Whoaa! Oke, kamu boleh memanjatku," ungkap Revon.
•••
3 jam setelah itu …
Di balkon kamar, Revon sedang berbicara dengan Erica melalui telepon. Khawatir dan penasaran, itulah yang membuatnya ingin mengundang Erica ke rumah untuk bertemu Rose.
"Apa terlihat perubahan pada tubuhnya?" tanya Erica.
"Tidak ada. Dia tidak terlihat pucat atau kesakitan seperti perubahan fisik manusia yang akan menjadi vampir. Maka dari itu, kamu datang kerumah, okay?" balas Revon.
"Okay okay. Aku akan kesana sore nanti."
"Siang saja."
"Tidak bisa."
"Hm, Baiklah." Revon menutup panggilan.
Setelah itu Revon berjalan masuk ke dalam kamar sambil melakukan peregangan di area lehernya. Luka di lehernya sudah pulih sepenuhnya. Tapi rasa gigitan Rose masih sangat membekas di ingatannya.
Revon berdiri di ujung ranjang, memandang Rose yang sedang tertidur. Wanita itu terlihat tenang, tidak seperti sebelumnya yang seperti menahan sesuatu dan menjadi emosional.
*Peregangan otot