My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 68 - Trying



Dengan mudah Aston menjatuhkan patung hiasan berbentuk burung hantu itu tanpa menyentuhnya sedikitpun. Lelaki itu hanya berdiri di samping Teresa lalu menggerakkan sedikit tangannya ke atas. Patung itu pun jatuh.


"Jadi … kamu penyihir juga?" tanya Teresa dengan pandangan menyelidik.


Aston hanya tersenyum dan mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. 


"Kenapa tidak kamu saja yang menyembuhkan Erica?" tanya Teresa lagi.


"Aku masih terlalu muda. Maka dari itu aku belum mendapatkan seluruh kekuatanku. Itulah alasan Alex membawamu kesini," jawab Aston.


Raut wajah Teresa seketika berubah, bibirnya tertarik ke bawah dengan kesal bercampur jijik, "Jangan sebut nama lelaki brengsek itu. Dia membuatku tidur terlalu malam," kesalnya.


Aston menatap Teresa dengan mata menyipit penuh curiga.


"Jangan berpikiran yang tidak masuk akal. Mengenai membuka segel sihirku, sebenarnya aku pernah diberitahu oleh ayahku cara membukanya. Dia mengatakan kalau itu sangat menyakitkan, 'kamu akan dibuat tertidur secara paksa, selanjutnya kamu harus menggali kenangan-kenangan yang membuatmu merasakan seluruh emosi yang ada dalam dirimu.' katanya," jelas Teresa mencoba mengingat perkataan ayahnya dulu saat dia masih remaja.


"Lalu, langkah selanjutnya?" Aston angkat suara terlihat tertarik.


"Itu yang sedang aku coba ingat-ingat lagi. Tapi aku masih tidak bisa mengingatnya," 


"Begini saja. Apa ayahmu tinggal di Paris juga?" tanya Aston.


"Hmm … ayahku sudah mati karena menolong seorang manusia. Dia dibunuh dengan keji setelah menolong orang yang sedang keracunan," jelas Teresa dengan mengalihkan pandangannya ke arah jendela.


"I'm sorry to hear that. Ayahmu pasti orang yang baik," jawab Aston merasa atmosfer sekitarnya menjadi muram.


Disisi lain, Revon berjalan menuruni tangga dengan menggandeng tangan Rose. Bertepatan dengan itu, Alex baru saja memasuki rumah Revon dengan santai seperti sedang masuk ke rumah sendiri.


"Rajin sekali kamu datang ke rumahku," ujar Revon dengan menatap Alex yang saat ini sampai di ruang tamu.


"Aku hanya sedang bosan," jawab Alex dengan smirknya. Dia menatap Revon yang mendekat ke arahnya bersama Rose di sampingnya.


Jangan lupa, mereka berdua bergandengan tangan. Revon dan Rose!


"Aku tidak menerima tamu seperti … kamu!" ujar Revon dengan tersenyum masam.


"Hmm … dimana Teresa?" gumam Alex dengan keras lalu pergi dari hadapan Revon.


"Sudahlah. Biarkan saja dia," ujar Rose kepada Revon. Tangan lelaki itu beralih memeluk pinggang Rose.


Revon kembali mengajak Rose berjalan ke arah kamar Erica.


"Jangan kasihani dia. Dia sangat tidak pantas," jawab Revon berbisik di telinga Rose.


Saat memasuki kamar Erica, Revon melihat Aston dan Teresa yang saling berdekatan. Lalu Alex mendekati mereka berdua.


"Apa kalian sedang membicarakan sesuatu?" tanya Alex kepada mereka.


Teresa tidak menghiraukan Alex dan memilih untuk mengatakan sesuatu kepada Revon, "Aku akan mencoba cara yang diberitahukan oleh ayahku untuk membuka segel sihirku. Aku butuh bantuanmu," ujarnya.


"Siang ini," jawab Teresa singkat.


•••


Ruang kerja Revon


Teresa sedang duduk berhadapan dengan Revon. Lelaki itu menatap Teresa dengan tatapan tajam.


"Apa kamu sudah benar-benar tahu caranya?" tanya Revon dengan mengangkat satu alisnya.


Teresa tampak gelisah, dia masih belum mengingat apa yang dikatakan ayahnya dulu mengenai cara membuka segel kekuatan sihir. Dia hanya mengingat sebagian saja.


"Jika kamu masih belum yakin dengan caramu, lebih baik kita lakukan ini lain kali," ujar Revon.


"Tidak. Kamu tidak ingin Robert dan Erica menunggu lebih lama untuk disembuhkan, kan? Jadi, lebih cepat lebih baik," jawab Teresa.


Revon berpikir jika ini adalah kesempatan dirinya bisa mempercepat rencana pernikahannya dengan Rose. Jika Robert dan Erica sembuh lebih cepat, maka pernikahan dia dan Rose juga akan lebih cepat.


"Baiklah. Jelaskan cara yang kamu maksud," pinta Revon kepada Teresa.


•••


Matahari semakin menjulang tinggi, Revon dan Teresa akan segera melakukan cara membuka segel sihir Teresa. 


Sebelum itu, Revon kembali ke kamar Rose dan menemukan wanita itu sedang menerima panggilan video dari Wen.


"Bae, aku akan membantu Teresa agar bisa membuka segel sihirnya. Aku ada di ruang kerja jika mencariku … " bisik Revon dengan lirih.


Rose menoleh ke Revon dan memintanya menunggu, "Wait!" bisiknya.


"Wen, kita lanjut ceritanya lain kali ya. Bye Wen," ujar Rose lalu segera mematikan panggilan video.


"Aku akan ikut denganmu," ujar Rose.


"Lebih aman kalau kamu disini. Aku tidak tau ini nanti berjalan aman atau tidak," jawab Revon.


"Tapi, aku tidak mau kamu hanya berdua dengan Teresa di sana," protes Rose.


"Bae, aku tidak hanya berdua dengan Teresa. Aku akan mengajak Aston dan Alex," jawab Revon dengan tersenyum. Dia senang melihat Rose yang cemburu.


"Hmm … baiklah. Tapi kamu harus berjanji tidak akan terlalu dekat dengan Teresa," Rose menatap Revon dengan wajah serius.


"Bae …. " 


"Janji?" 


"Iya janji. Aku pergi dulu," jawab Revon lalu mengecup bibir Rose. Setelah itu Revon membawa buku 'The Destiny of Vampire' dan pergi dari kamar Rose.