My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 50 - Alex is back



Chapter sebelumnya


"Aahh.. Revon.." Desah Rose dengan mata yang terpejam.


"I love you, Rose." Ujar Revon dengan lembut.


Mereka pun mencapai puncak kenikmatan dengan tubuh yang masih berada di bawah guyuran air.


Dengan sigap, Revon menurunkan tubuh Rose dan mulai membersihkan tubuhnya dengan sabun beraroma lavender.


"Setelah mandi kamu harus istirahat. Jangan memikirkan apapun dan jangan melakukan apapun." Ujar Revon.


"Bagaimana dengan Robert dan Erica? Kita harus menyelamatkan mereka." Ujar Rose dengan alis yang berkerut tidak suka.


"Serahkan padaku. Kamu tidak perlu ikut memikirkan ini. Aku tidak ingin kamu dalam bahaya lagi." Ujar Revon dengan tegas.


"Bagaimana bisa aku tidak memikirkan mereka? Aku yang memberitahumu bahwa mereka dalam bahaya, tapi aku malah disini dan tidak menolong mereka...."


"Stop! Aku tidak ingin bertengkar denganmu." Ujar Revon dengan nada memperingatkan.


Rose terdiam dan menatap tajam ke arah Revon. Setelah itu mereka menyelesaikan ritual membersihkan tubuh tanpa ada yang berbicara lagi.


•••


Di sebuah ruang kerja yang bergaya victorian, seorang lelaki tengah duduk terdiam dengan mata terpejam. Dia menyandarkan punggungnya di kursi yang terletak di samping meja kerjanya.


Menghembuskan nafas dengan pelan dan menenangkan pikiran dan jiwanya. Ada yang ingin dia ketahui, atau lebih tepatnya ingin dia cari. Keberadaan asistennya yang yah, bisa dibilang sangat loyal.


Karena dia rela mengemban tugas yang diberikan tuannya. Tanpa takut akan kehilangan nyawanya sendiri. Namun asisten itu tidak sedang bepergian sendirian.


Seorang penyihir wanita ikut dalam perjalanan dalam melaksanakan tugas kali ini. Selain itu tugas ini berhubungan dengan wanita penyihir itu. Dan tempat tujuan mereka adalah desa tempat tinggal dari kerabat wanita penyihir itu.


Lalu bukankah seharusnya lebih mudah?


Tapi... Mengapa mereka tiba-tiba susah dihubungi?


Apa terjadi sesuatu dengan mereka?


Dimana juga letak desa terpencil itu?


Tiba-tiba pintu ruang kerja terbuka dengan sangat kasar. Seketika membuyarkan pikiran dan jiwa yang sedang menenangkan diri itu.


Braakk!


"Hey As*hole! Dimana Rose? Mengapa kamar dia menjadi seperti itu? Apa kamu tertidur? Bisa-bisanya kamu tertidur di saat seperti ini? Apa yang sudah kamu lalukan kepada Rose?......" Teriak lelaki dengan raut wajah yang marah, kesal dan cemas.


As*hole?! Yang benar saja! Pikir lelaki yang sedang terduduk dengan rahang yang mengeras.


"Apa kamu meninggalkan sopan santunmu di rumah? Oh, aku lupa... Kamu tidak punya sopan santun." Jawab lelaki itu dengan nada sinis.


"Revon.. Apa kamu tahu? Sekarang kamu seperti ibu-ibu yang sedang sibuk mengomentari soal sopan santun anaknya. Aku kesini hanya untuk bertemu Rose. Aku sudah gila tidak bertemu dengannya beberapa hari ini."


"Aku tidak peduli kamu mau gila atau setengah gila. Sekarang cepat keluar dari rumahku jika kamu masih tidak bisa berperilaku sepantasnya. Alex."


"Okay! Apa aku harus datang kerumahmu dengan membawa hadiah? Lalu mengetuk pintu sambil mengucap 'permisi'. Oh tentu tidak, kita bukan teman."


"Ya memang, kita bukan teman. Jadi lebih baik... kamu keluar! Sekarang!"


"Aku ingin bertemu dengan Rose! Jangan-jangan kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"


"Apapun yang aku lakukan tidak ada urusannya denganmu. Alex."


"Aku tidak akan pergi sebelum bertemu Rose. Aku akan lakukan apapun asal kamu membiarkanku bertemu dengan Rose."


Revon seketika terpikirkan akan sesuatu saat mendengar perkataan Alex. Perlahan lelaki itu membuka mata dan menatap Alex dengan pandangan aneh.


"Kamu takut dengan permintaan yang bahkan belum aku katakan, huh?" Ujar Revon dengan smirknya.


"Aku tidak pernah takut pada apapun." Bantah Alex dengan wajah sombongnya.


"Kalau begitu jangan tarik perkataanmu yang tadi. Lalu lakukan permintaanku, mungkin aku bisa mempertimbangkan kamu untuk bertemu Rose." Ujar Revon dengan senyuman tipis.


Alex hanya tersenyum remeh dan menyisirkan jari-jarinya di rambut ikalnya. Namun dia masih di dalam ruang kerja tanpa berniat pergi. Setelah beberapa menit Alex pun mengeluarkan suara.


"Memangnya apa permintaanmu? Ah, jangan senang dulu, Dent. Aku juga akan mempertimbangkannya terlebih dahulu."


"Permintaanku sangat mudah. Temukan keberadaan Robert dan Erica. Lalu bawa mereka kembali ke rumah ini."


Mendengar permintaan Revon, Alex tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak.


"Memangnya kemana mereka? Apa mereka kabur darimu lalu menikah?" Ujar Alex disela-sela tawanya.


Revon menatap tajam ke arah Alex. Dia tidak bisa mengikuti jalan pikiran Alex yang terlalu gila.


"Aku ingin kamu menemukan mereka dalam waktu 48 jam." Ujar Revon dengan nada datar.


"Wait, dude! Kamu harus tahu. 1. Aku belum menerima permintaanmu dan, 2. Aku bukan pesuruhmu. Lagi pula kamu punya banyak anak buah di rumah ini. Kenapa harus aku?" Ujar Alex sambil berjalan mendekat ke meja kerja Revon.


"Indra penciumanmu sangat tajam. Jadi kamu pasti bisa menemukan mereka dengan cepat." Jawab Revon dengan santai.


"Aku bukan Anjing Pelacak!"


"Aku tidak mengatakan kamu Anjing."


"Itu kamu menyebutku Anjing."


"Kamu sendiri yang menyebut dirimu Anjing!" Ujar Revon yang mulai emosi.


Alex naik ke atas meja dan menarik kerah baju Revon mendekat hingga wajah mereka saling berdekatan.


Lalu apa yang terjadi?


Alex bersiap untuk mendaratkan pukulannya di wajah tampan Revon. Jari-jarinya terkepal dengan sangat erat.


Belum sempat kepalan tangan itu menyentuh wajah Revon, lelaki itu menangkap kepalan tangan Alex dan menahannya.


"Aku tidak akan melakukannya jika menjadi kamu. Jangan sampai kesabaranku habis, aku bisa saja melemparmu dari lantai 2 ini." Ujar Revon dengan rahang yang mengeras.


"Oh, aku sangat ketakutan." Ujar Alex dengan tersenyum.


"Aku tidak akan mempertemukanmu dengan Rose sebelum kamu lakukan permintaanku."


"Katakan! Dimana dia?!" Ujar Alex dengan kesal.


Dengan mudah Revon melepas cengkraman tangan Alex yang berada di kerah bajunya. Lalu dia menjauh hingga cukup untuk memberikan jarak antara keduanya.


"Keluar dari rumahku. Aku sudah muak dengan aroma tubuhmu."


Alex membenarkan jaket yang dia kenakan dan berbalik siap untuk keluar.


Braak!


Lagi-lagi dia menutup pintu dengan sangat keras. Kali ini lebih keras namun tidak sampai membuat pintu itu menjadi rusak atau hancur.


"Dia benar-benar merusak moodku. Sialan!" Ujar Revon dengan emosi.


Meraih botol wine di meja, tanpa berpikir dia melempar dengan kuat botol wine itu ke arah pintu. Seketika pecahan botol berserakan di lantai begitu pun cairan wine merah itu.