
Chapter sebelumnya
"Lelaki gila? siapa?" tanya Rose yang membuyarkan lamunan Revon.
Dia terlalu larut dengan pikirannya hingga tidak menyadari Rose yang masuk ke kamarnya. Wanita itu sejak tadi mencari-cari keberadaan Revon yang ternyata sedang ada di kamarnya.
"Aku mencarimu sejak tadi, ternyata kamu di sini," ujar Rose dengan raut wajah cemberut.
Rose mendekat ke arah Revon dan menatap sesuatu yang terlihat tidak biasa dari lelaki itu.
Seakan tahu arti tatapan Rose, lelaki itu menjawab, "Aku memang jarang merokok, hanya saat benar-benar ingin saja," jawab Revon sambil mematikan rokoknya.
"Kenapa kamu tidak bilang jika berhasil membantu Teresa membuka segel kekuatan sihirnya?" Rose terlihat marah.
"Maaf, Bae. Aku hanya sedikit lelah setelah membantu Teresa, jadi aku istirahat di kamar. Jangan marah Bae,"
"Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu, kan?"
Revon memeluk Rose lalu menciumi pelipis wanita itu dengan lembut.
"Tidak ada yang aku sembunyikan darimu, Bae,"
"Hmm ... Aku senang Teresa sudah bisa memakai kembali sihirnya. Tadi aku melihat dia sudah mulai melakukan perawatan kepada Erica dibantu Aston," ujar Rose dengan lirih. Wanita itu menikmati aroma khas tubuh Revon. Rasa marahnya sudah menguap seketika.
"Ya, aku juga senang. Apa kamu masih ingin membaca buku bersama?" ujar Revon.
Rose mengangguk dengan antusias mendengar itu. Revon pun mengajak Rose duduk di atas ranjang lalu membuka buku kuno itu untuk membacanya bersama.
•••
Tanpa terasa masa-masa penyembuhan Erica dan Robert terlewati dengan lancar tanpa hambatan. Keduanya semakin hari semakin membaik setelah Teresa membantu menetralisir racun di dalam tubuh mereka dengan kekuatannya.
Beruntung dia memiliki sihir yang kuat. Dengan mudah dia memindahkan racun yang telah diserap oleh kekuatannya ke tubuh berbagai macam hewan.
"Carikan aku hewan yang menggemaskan!" pinta Teresa.
Saat ini dia sedang berada di meja makan. Sepiring sayap ayam pedas sedang disantap dengan lahap seorang diri.
Sedangkan di ujung kiri meja makan Aston sedang melepas penatnya setelah seharian membantu Teresa dengan meminum segelas es kopi hitam dengan perlahan.
Setelah mendengar permintaan yang keluar dari mulut wanita itu, Aston merasa moodnya kembali turun.
"Apalagi yang kamu mau? Kemarin kamu minta belalang, kupu-kupu …. " jawab Aston yang tiba-tiba terhenti karena Teresa yang memotong perkataannya.
"Hey. Itu masih mudah ditangkap," protes Teresa dengan mulut yang mulai memerah karena rasa pedas dari sayap ayam yang dia makan.
"Coba saja kamu tangkap sendiri," ujar Aston.
Tiba-tiba Alex masuk ke ruang makan dengan tatapan tajam yang mengarah kepada Aston. Dia merasa Aston sudah mengambil kesempatannya untuk dekat dengan Teresa.
"Kenapa kamu tidak memilih serigala saja? Aku tahu serigala yang jinak," ujar Aston sambil melirik ke arah Alex.
"Tidak. Cukup sekali saja aku memilih serigala," jawab Teresa dengan nada sarkasnya.
"Del …. " Alex ingin bersuara namun dengan cepat Teresa memotongnya.
"Aku tidak ingin berbicara denganmu,"
"Teruskan pertengkaran kalian. Aku mau pergi tidur," Aston segera bangkit dari kursinya dan pergi.
"Tunggu! Aston!" panggil Teresa dengan keras namun lelaki yang dipanggil sama sekali tidak menghiraukannya.
Alex mendekati Teresa dan memandang lekat wajah wanita itu, "Apa menyukai yang lebih muda sedang menjadi trend?" ujar Alex dengan sarkas.
Wanita itu bangkit dari kursinya dan membereskan sisa makanannya. Dengan cepat Teresa mencuci piring yang digunakan tadi lalu pergi ke kamarnya.
Namun Alex mengikutinya hingga ke depan kamarnya. Lalu sebelum lelaki itu ikut masuk ke kamarnya, dia mendorong lelaki itu dengan sihirnya hingga terpental ke dinding.
"Ouch ... Del !" teriak Alex setengah menghardik.
Braak
Teresa menutup pintu kamarnya dengan keras, sama seperti dirinya yang menutup pintu hatinya untuk Alex.
•••
Di kamar Revon
Apa yang sedang dia lakukan? Mengapa sejak tadi dia sibuk menelpon dan tidak menghiraukanku? Pikir Rose.
Sejak kemarin, Revon sangat sibuk melakukan panggilan dan menerima panggilan melalui ponselnya. Rose mencoba menarik perhatiannya berulang kali. Namun itu hanya bertahan sebentar setelah itu dia kembali sibuk dengan ponselnya.
"Honey … Honey … Honey!" panggil Rose kepada Revon.
"Hmm?" ujar Revon tanpa menatap ke arah Rose.
Lelaki itu masih fokus dengan ponselnya. Hal itu membuat Rose tidak tahan dan menarik wajah Revon agar menatapnya.
"Kamu tidak menghiraukanku," keluh Rose.
"Aku tidak mungkin seperti itu kepadamu, Bae," jawab Revon menatap wanita itu dengan lekat.
"Sejak kemarin kamu sangat sibuk menelpon atau memandangi layar ponselmu. Apa kamu sudah bosan denganku?"
"Bae …."
"Apa kamu mau mencari kekasih baru?"
"Apa?"
"Atau kamu sudah memiliki kekasih baru di luar sana? Iya?" Rose mengatakannya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Hey, dengarkan aku. Aku tidak akan pernah bosan denganmu. Aku tidak akan mencari kekasih lain selain dirimu. Kemarin sedang banyak berkas kantor yang perlu dicek, lalu beberapa karyawan tidak becus membuatku harus turun tangan menyelesaikan masalah dengan melakukan panggilan-panggilan membosankan itu. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak, okay?" Revon berusaha menenangkan Rose.
Revon mengusap pipi Rose yang basah karena tetesan air mata berhasil lolos dari kedua pelupuk matanya. Namun semakin lama air mata itu semakin turun dengan deras.
"Maafkan aku. Sstt … jangan menangis, Bae," bisik Revon dengan lembut. Kedua tangannya memeluk tubuh Rose, dia merasa sangat bersalah membuat wanita itu sampai seperti ini.
Beberapa menit berlalu, Rose sudah mulai tenang, "Maafkan aku. Aku sudah bertindak berlebihan, kan?" ujar Rose dengan suara parau.
"Kamu tidak perlu meminta maaf. Aku yang salah. Beri aku waktu 10 menit untuk menyelesaikan berkas terakhir. Bagaimana kalau nanti kita jalan-jalan atau makan malam di luar?" ujar Revon sambil mengusap lembut rambut panjang Rose.
"Tidak. Aku hanya ingin di kamar denganmu sampai besok," jawab Rose yang masih membenamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu.
"Apa yang ingin kamu lakukan denganku di kamar selama itu?" tanya Revon diakhiri dengan tawa kecil.
"Biarkan aku memikirkannya sendiri. Sudah lanjutkan membaca sana!" jawab Rose namun masih enggan melepas pelukannya.
Dengan smirknya, Revon membuat Rose mengubah posisi duduknya sehingga Rose berada di pangkuannya.
"Jangan banyak bergerak. Aku tidak akan bisa fokus jika kamu begitu," perintah Revon dengan senyuman penuh arti.
Rose yang tadinya sedikit membenarkan posisinya seketika terdiam karena ucapan Revon. Dia tertawa kecil lalu kembali menyandarkan tubuhnya pada tubuh Revon.
Lelaki itu kembali fokus ke ponselnya dan membiarkan Rose bersandar di pelukannya.