
Revon POV
Byur.
Aku membuka mata dan melihat sekelilingku, semuanya hanya air. Cahaya yang masuk hanya sedikit, sehingga sangat susah untuk melihat dengan jelas.
Saat aku semakin berenang ke dalam, terlihat sesuatu berwarna putih. Semakin aku mendekat semakin terlihat bahwa itu bukan sesuatu melainkan seseorang memakai gaun berwarna putih.
Aku mencoba mendekatinya karena aku tidak bisa melihat wajahnya. Ketika aku berputar dan menghadap tepat ke wajahnya, seketika aku terkejut.
Rose! Bagaimana dia bisa ada disini?
Dia terlihat tidak sadarkan diri. Aku menepuk-nepuk pipinya dan mengguncang tubuhnya. Tapi dia tidak kunjung bangun.
Saat aku ingin memberikan nafas buatan, tiba-tiba dia membuka kedua matanya dan mendorongku menjauh.
Tidak. Apa yang dia lakukan?
Aku kembali mendekatinya, tapi lagi-lagi dia mendorongku dengan kedua tangannya.
Shit!
Dia terlihat kehabisan nafas. Melihat itu aku segera menarik tubuhnya agar bisa memberikan dia nafas bantuan. Tapi dia menolak dan mendorongku, kali ini cukup keras hingga jarak kami cukup jauh.
No! Rose!
Tubuhnya semakin tenggelam ke dalam air dan menjauh dariku seutuhnya.
•••
"Rose!" Teriakku yang terbangun dari tidur.
Aku masih berada di kamar Rose. Pandanganku tertuju ke ranjang. Aku bernafas lega karena masih melihat wanita itu di sana.
"Apa maksud mimpi itu?" Tanyaku pada diri sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.
Tok. Tok. Tok.
"Masuk" Teriakku.
Terlihat Robert dan seorang vampir lain sedang membawa alat bantu pernafasan dan infus.
"Saya membawakan al... " Ujar Robert yang tiba-tiba terhenti karena melihat pecahan botol kaca di belakang pintu.
Saat mengedarkan pandangannya, lelaki itu juga melihat pecahan botol kaca lain yang berserakan di lantai.
Sepertinya bos sudah menggila. Pikir Robert sambil memandang iba ke bosnya.
"Aku perlu bicara denganmu. Setelah selesai memasang semua alat itu, temui aku di ruang kerja." Ujar Revon dengan wajah datar dan berjalan keluar kamar.
Robert hanya mengangguk dan berjalan mendekati Rose untuk melanjutkan tugasnya yang tertunda.
•••
Setelah mandi dan berganti pakaian, Revon pergi menuju ruang kerjanya. Dia duduk terdiam di kursi dan memikirkan sesuatu yang bisa membuat Rose kembali sadar.
Dia terpikirkan untuk meminta bantuan pada klan vampir yang ada. Tapi dia tahu kalau itu tidak akan mudah, karena dirinya yang bukan anggota klan manapun. Ditambah mereka terlihat tidak suka dengannya.
Apa aku harus meminta bantuan kepada klan serigala? Hah! Tidak mungkin mereka mau membantuku. Pikir Revon.
Tanpa dia sadari Robert mengetuk pintunya berkali-kali. Karena tidak ada jawaban, lelaki itu pun masuk begitu saja.
"Bos." Sapa seseorang itu yang tidak lain adalah Robert.
Revon sedikit terkejut dan menatap tajam Robert.
"Kenapa kamu tidak mengetuk pintu dulu?"
"Maaf, boss. Tadi saya sudah mengetuk pintu beberapa kali tapi sepertinya anda terlalu larut dalam pikiran anda hingga tidak mendengar saya mengetuk pintu." Jawab Robert dengan tenang.
"Apa kamu tidak pernah mendengar kabar Erica?" Tanya Revon tiba-tiba.
"Sejak setahun lalu saya tidak pernah mendengar kabar darinya. Dan nomor ponselnya tidak aktif."
Revon memijat pangkal hidungnya, merasakan pusing karena masalah yang dia hadapi.
Brak!!
Terdengar suara pintu terbuka dengar kasar dari arah luar. Seketika Revon berdiri dan berjalan ke arah sumber suara dan diikuti Robert di belakangnya.
"Menyingkir dari hadapanku! Aku ingin bertemu dengan vampir brengsek itu." Teriak lelaki yang baru saja masuk ke ruang tamu.
Tidak lama kemudian Revon muncul dengan wajah dinginnya. Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal dengan erat, siap untuk mendaratkan pukulan ke lelaki yang sudah seenaknya masuk ke rumahnya.
Buk!
Pukulan Revon membuat lelaki itu semakin marah dan mencengkram erat kerah kemeja Revon.
"Aku tidak ingin beramah tamah denganmu. Sekarang katakan, dimana Rose?"
"Bukan urusanmu dimana dia. She's mine. Sekarang keluar dari rumahku, aku tidak tahan dengan aroma anj*ng sepertimu, Alex."
Ya, lelaki itu adalah Alex. Dia sengaja datang karena merasakan firasat buruk tentang Rose. Dia meminta temannya untuk melacak ponsel Rose semalam saat dia melakukan panggilan. Walau yang menerima panggilan bukan Rose tapi Revon.
"Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Tanpa sepertujuanmu pun aku akan tetap mencari keberadaan Rose di rumah ini." Ujar Alex lalu berjalan melewati Revon.
Seketika Revon merasakan amarahnya mendidih dan aura gelap menyelimuti tubuhnya. Matanya berubah menjadi hitam kelam. Sebelum Alex keluar dari ruang tamu, tiba-tiba dia sudah terpental ke dinding dengan tangan Revon yang mencengkram lehernya dengan kuat.
Melihat itu seketika teman-teman Alex berubah menjadi serigala dan menyerang semua vampir.
Perkelahian pun terjadi. Mereka saling memukul, mencakar, mengigit hingga darah berceceran di lantai.
Alex pun mencoba terlepas dari cengkraman Revon dengan menendang perutnya dengan kuat. Hal itu cukup membuat cengkraman tangannya melonggar dan dia berhasil lepas.
Saat Alex akan berubah wujud menjadi serigala, Revon menerjangnya dan melemparnya ke lemari hingga membuat lemarinya hancur berkeping-keping.
Namun Alex tetap berhasil merubah wujudnya lalu menggeram ke arah Revon memperlihatkan giginya yang tajam dan runcing. Air liurnya menetes ke lantai.
"Disgusting. Kamu sudah berani mengotori lantaiku, hah?!." Ujar Revon dengan menatap jijik ke arah lantai.
Alex bersiap mengigit kepala Revon, tapi itu tidak berhasil karena dengan cepat Revon menghindar lalu memukul tubuh Alex hingga terpental.
Tanpa memberikan waktu kepada Alex untuk bangun, Revon menggunakan kekuatan telekinesisnya dan membuat serigala Alex merintih kesakitan.
Suara rintihan itu membuat Revon semakin puas dan senyuman menakutkan muncul di wajahnya.
Teman-teman Alex melihat itu, membuat mereka mendekati Revon dan bermaksud menyerangnya. Sedetik sebelum cakar dan taring mereka menyentuh tubuh Revon, lelaki itu sudah berpindah dan sekarang dia berada di atas tubuh Alex yang sudah kembali menjadi manusia. Revon memegang kepala Alex dan bersiap mematahkan lehernya.
"Mendekatlah dan kalian akan melihat dia mati." Ujar Revon dengan tatapan tajam.
Teman-teman Alex tidak ada yang berani maju dan berdiam di tempat mereka masing-masing.
Alex sudah tidak bisa bergerak karena tubuhnya terasa remuk. Namun dia tidak menyerah.
"Kenapa kamu menyebunyikan hal mengenai dia? Apa kamu sudah menghisap habis darah Rose hingga mati?" Tanya Alex.
"Shut up!" Teriak Revon.
"Aku bisa mencium aroma tubuhnya. Dia ada disini, kan? Biarkan aku menemuinya. Jika kamu tidak memperbolehkanku menemuinya, berarti kamu sudah melakukan hal buruk padanya sehingga kamu tidak ingin orang tahu."
"Aku tidak mungkin melakukan hal buruk padanya." Ujar Revon dengan kesal.
"Omong kosong! Buktikan kalau begitu. Biarkan aku bertemu dengannya." Teriak Alex.
"Fine. Setelah itu aku mau kalian pergi dari rumahku." Ujar Revon lalu melepaskan Alex.
"Dan kalian tetap disini. Hanya aku dan Alex yang masuk."
"Alex kita akan..." Ujar Dean yang dipotong oleh Alex.
"Kalian akan tetap disini." Ujar Alex dengan tegas.
Yah, ke-empat temannya Dean, Taylor, Lee dan Ricky yang ikut menemani Alex ke rumah ini. Mereka tidak ingin membiarkan Alex datang ke sarang vampir sendiri.
"Robert! Berikan mereka pakaian, aku tidak ingin melihat mereka berkeliaran seperti itu di rumahku. Dan kalian, jangan sentuh apapun di rumahku." Ujar Revon dengan menatap tajam kepada empat lelaki itu.
Robert pun melaksakan perintah bosnya dan pergi mengambil baju.
"Siapa juga yang mau menyentuh barang-barangmu." Gumam Dean yang terdengar oleh Revon.
Tangan Revon mengambil hiasan dinding terbuat dari perak yang runcing seperti panah, dan melemparnya hampir mengenai Dean. Dean seketika membelalakkan mata.
"Tutup mulutmu atau aku akan pastikan hiasan dinding itu menancap di kepalamu." Ujar Revon.
Robert kembali dengan membawa beberapa tumpuk baju dan membiarkan mereka memilih sendiri.
Alex selesai memakai baju dan Revon mengisyaratkan dia untuk mengikutinya. Selama perjalanan tidak ada yang memulai pembicaraan. Alex sudah merasakan tubuhnya kembali membaik.
Setelah beberapa saat, mereka sampai di kamar Rose. Perlahan Revon membuka pintu dan masuk diikuti Alex di belakangnya.
Alex terkejut dengan pemandangan di depannya. Dia mengepalkan tangan dan menatap Revon dengan penuh amarah.
What the fu*k! Apa yang sudah dia lakukan padanya?! Pikir Alex.