
Sampai di Airport, mereka sudah ditunggu oleh seorang supir dengan setelan rapinya. Revon merangkul pinggang Rose dengan mesra.
"Mr. Dent kami sangat senang bisa melayani penerbangan ini. Untuk penerbangan selanjutnya, anda bisa hubungi saya. Saya akan siap 24 jam." Ujar Pilot dengan ramah.
"Alright. Thank you. Saya akan menghubungi anda setelah keperluan saya disini selesai." Balas Revon dengan wajah datar.
Setelah itu Revon merangkul pinggang Rose dan berjalan mendekat ke arah mobil jemputan mereka.
"Mr. Dent." Sapa lelaki yang menunggu di samping mobil itu dengan sopan.
Revon hanya mengangguk dan membukakan pintu mobil untuk Rose. Setelah itu supir tadi dan Revon berbicara tentang sesuatu sebelum Revon masuk ke dalam mobil.
Selang beberapa detik supir pun segera melajukan mobil pergi dari bandara.
•••
Sampai di kantor, semua orang melihat Revon dengan terkejut. Seakan menambah keterkejutan itu, Rose yang lama tidak terlihat tiba-tiba sekarang sedang dirangkul oleh Revon.
Tanpa sengaja Wen melihat Rose dan mengikutinya masuk ke dalam elevator.
Ting.
"Wen!" Ujar Rose dengan antusias.
"Roseee!! Kemana saja kamu? Kenapa kamu tidak menjawab telponku? You *****!" Teriak Wen di hadapan Rose.
Wanita itu melupakan seseorang. Yah, Revon sedang ada di sana melihat Wen dengan tatapan tajam.
"Ms. Wen." Ujar Revon yang mengagetkan Wen.
Dia menoleh dan menatap Revon dengan mata membelalak. Wen merasa tidak percaya bisa melihat bosnya lagi.
"Rose. Apa dia benar-benar Revon? Ah, maksudku Pak CEO." Ujar Wen melirik Rose dengan wajah anehnya.
"Haha. Apa matamu mulai rabun? haha." Jawab Rose agak canggung.
Mendengar itu, Wen tersenyum dengan canggung dan berubah menjadi sopan.
"Aku ingin kita ketemu nanti. Banyak yang harus kamu jelaskan." Bisik Wen di telinga Rose.
Belum sempat menjawab, pintu elevator terbuka.
Ting.
Pintu elevator terbuka di lantai tempat ruangan CEO. Revon merangkul Rose keluar dari elevator.
"Wen, nanti aku akan menelponmu." Ujar Rose setengah teriak sebelum Wen menghilang di balik elevator.
"Bisakah nanti aku bertemu Wen?" Tanya Rose kepada Revon.
"Kita lihat nanti." Jawab Revon dengan singkat.
Kini mereka berada di depan ruangan CEO. Revon membuka pintu dan mengisyaratkan Rose masuk terlebih dahulu.
Saat Rose melihat ke dalam ruangan, di meja terlihat seorang wanita yang tampak familiar bagi Rose sedang menata dokumen.
Ah, dia kan.. Wanita yang waktu itu memeluk Revon. Pikir Rose dengan marah.
"You gotta be kidding me!" Ujar Rose menatap Revon dengan tajam.
Bibir lelaki itu membentuk garis tipis. Dia sudah menduga reaksi Rose akan seperti ini.
"Dengarkan penjelasanku dulu. Okay?" Ujar Revon dengan tenang.
"Revon, kamu sudah sampai. Aku sudah menyiapkan dokumen yang kamu butuhkan..." Ujar wanita itu sambil berjalan mendekat ke arah mereka.
Wanita itu memakai blazer biru dan rok diatas lutut yang memperlihatkan pahanya saat berjalan.
"Oh, kamu membawa seseorang. Siapa dia Revon?" Tanya wanita itu penasaran.
"Dia.. " Belum sempat Revon berbicara, Rose memotong tiba-tiba.
"Saya istrinya." Jawab Rose dengan menatap tajam kepada wanita itu.
Mendengar itu, Revon sedikit terkejut. Namun dengan cepat dia menormalkan ekspresinya menjadi datar. Samar-samar bibirnya membentuk smirk.
"Benarkah Revon? Kamu sudah menikah?" Tanya wanita itu tidak percaya.
"Iya benar, Kath. Perkenalkan dia Roseline Mint, istriku. Dan Rose, kenalkan dia Katherine Wilson. Sementara dia yang akan membantuku mengurus pekerjaan disini." Jawab Revon dengan tenang. Dia akan mengikuti permainan Rose.
"Senang bertemu dengan anda, Mrs. Dent." Ujar Katherine dengan senyumnya.
Namun Rose jelas bisa melihat tatapan sinis dari wanita itu.
"Senang bertemu dengan anda juga, Ms. Wilson." Ujar Rose dengan tersenyum manis.
"Laporan kemarin aku ingin itu segera direvisi. Bagaimana? Ada kendala dengan projek-projeknya?" Tanya Revon sambil berjalan ke meja dan melihat layar monitor yang menujukkan laporan dari tiap projek.
Katherine menatap Rose dengan smirknya dan mendekati Revon. Dengan sengaja, dia menyentuh tangan lelaki itu. Sontak Revon menjauhkan tangannya karena merasa risih.
Rose tersenyum lebar melihat Revon yang menjauh dari jangkauan Katherine. Mereka masih membicarakan sesuatu mengenai pekerjaan dan membuat Rose duduk di sisi meja dengan bosan.
"Iya kamu selesaikan ini dulu. Setelah itu projek yang satunya. Ada lagi?" Tanya Revon.
"Tidak ada. Aku sudah paham." Jawab Katherine.
"Kalau begitu aku akan membawa dokumen ini. Kami pergi dulu." Ujar Revon sambil membawa map mendekati Rose.
"Tunggu!" Ujar Katherine lalu memeluk Revon tiba-tiba.
Melihat itu, Rose seketika berdiri dan mendekat ke arah mereka berdua.
"Ms. Wilson. Kami sedang buru-buru, jadi permisi." Ujar Rose yang menarik tangan Revon pergi dari ruangan.
Tanpa berhenti, Rose terus menarik tangan Revon hingga masuk ke elevator.
Ting.
Dia kesal dengan Revon yang hanya diam saat wanita itu memeluknya.
"Mrs. Dent? Kamu benar-benar membuatku terkejut, bae." Ujar Revon yang perlahan mendekat dan memojokkan Rose ke dinding.
"Sudahlah. Kamu terlihat lebih cocok dengan wanita itu." Ujar Rose dengan kesal dan menatap tajam Revon.
"Tidak. Aku tidak ingin bersama wanita lain selain dirimu. Mrs. Dent." Balas Revon menatap wanita itu dengan intens.
"Whatever." Ujar Rose dan mengalihkan pandangannya ke nomor lantai yang perlahan berganti.
"Look at me. Rose." Ujar Revon dengan suara rendah dan menggoda.
Namun wanita itu sama sekali tidak menatapnya. Revon pun menekan tombol untuk menghentikan elevator dan membuat Rose menoleh ke arahnya.
Tiba-tiba Revon mendaratkan ciuman ke bibir Rose dengan intens. Awalnya Rose tidak merespon, tapi semakin lama dia semakin terlena oleh ciuman itu.
Jari-jari lentik Rose menelusup ke rambut Revon dan sedikit menariknya. Hal itu membuat Revon menggeram dan semakin memperdalam ciuman.
Lelaki itu beralih mencium rahang dan turun ke leher Rose. Tubuh Revon sepenuhnya menghimpit tubuh Rose hingga terasa tonjolan di balik celananya.
"Revon.. Apa tidak ada cctv?" Tanya Rose tiba-tiba di sela ciuman.
Dengan enggan Revon menjauh dan menutupi kamera kecil yang ada di sudut ruangan dengan jasnya.
"I want you. Right now." Ujar Revon dengan suara serak.
Tanpa menunggu jawaban, lelaki itu mulai kembali mencium leher Rose dan mengigit kecil telinganya. Tangannya menyingkap gaun wanita itu dan menyentuh titik sensitifnya.
"Aahh.. "
"Kamu.. sangat siap, bae." Bisik Revon dengan tersenyum.
Lelaki itu menarik kain yang menutupi titik sensitif Rose hingga turun ke kakinya. Tanpa membuang waktu, Revon membuka celananya lalu mengangkat tubuh Rose dengan mudah.
Dengan sekali hentakan, dia sudah berhasil masuk.
"Aahh.. " Desah Rose dengan kepala yang mendongak.
"****! Haah.." Ujar Revon dengan nafas yang tidak beraturan. Dia bergerak dengan cepat dan kasar.
"Are you still mad, bae?" Tanya Revon dengan menatap mata Rose.
"Yes!" Jawab Rose dengan nafas yang memburu dan mulut yang terbuka.
"Really?" Tanya Revon yang tiba-tiba berhenti bergerak.
Merasakan hal itu, Rose mengerutkan alis merasa tidak suka. Dia menatap Revon dengan kesal.
"Revon!" Ujar Rose dengan nada frustasi.
"Katakan kamu sudah tidak marah. Dengan begitu aku akan melanjutkan ini." Ujar Revon dengan tersenyum.
"Revon, please." Ujar Rose dengan alis berkerut.
"Bae, bukan itu jawaban yang ingin aku dengar." Jawab Revon dengan serius.
"Fine. Aku sudah tidak marah denganmu." Ujar Rose dengan pasrah.
Puas mendengar itu, Revon pun kembali melanjutkan aksinya. Suara nafas mereka yang memburu terdengar memenuhi seluruh elevator.
Rose merasa seluruh sarafnya menjadi tegang, jari-jarinya mencengkram erat bahu Revon.
"Rose.. Haah.." Ujar Revon yang merasa akan mencapai puncak kenikmatan. Dia menyembunyikan wajahnya di leher wanita itu.
"Aahh..."
"Rose.."
Setelah mencapai puncak kenikmatan, mereka berdua diam sejenak sambil berusaha menormalkan nafas.
"Kamu benar-benar sudah gila, Revon. Kita sedang berada di dalam elevator dan... lihat sekarang." Ujar Rose sambil menyandarkan kepalanya di bahu Revon.
"Ya, aku memang sudah gila, Rose. Aku gila karenamu." Balas Revon dengan tertawa.
Setelah beberapa saat Revon pun menurunkan tubuh Rose perlahan, tapi wanita itu terlihat tidak bisa berdiri dengan benar.
"Aah..Aku tidak bisa merasakan kakiku. Bagaimana ini?" Ujar Rose sambil berpegangan pada bahu Revon.
Lelaki itu memakai celananya kembali sambil tersenyum tanpa dosa.
"Aku tidak keberatan menggendongmu, bae." Ujar Revon sambil menatap wanita di hadapannya dengan raut wajah senang.
"What?! Big no. Kamu ingin semua orang kantor memperhatikan kita?" Ujar Rose dengan frustasi.
"Mau bagaimana lagi, hmm?" Tanya Revon masih dengan senyum lebarnya.
"Stop smiling!" Ujar Rose sambil menatap Revon dengan tajam.
"Okay okay. Jadi bagaimana?" Tanya Revon dengan memiringkan kepala.
Rose tidak menjawab dan mencoba menggerakkan kakinya. Dia merasa sudah lebih baik daripada tadi.
"Aku sudah tidak apa." Ujar Rose sambil memakai kembali celana dalamnya.
Revon mengangguk dan tersenyum bahagia. Entah apa yang membuatnya senang. Mungkin karena kejadian "itu".
Lelaki itu menekan tombol agar elevator berjalan kembali dan mengambil jasnya dari cctv.
Ting.
Pintu elevator terbuka dan mereka pun berjalan keluar dari kantor secara beriringan. Saat akan sampai di luar kantor, Rose ingat akan seseorang.