
Chapter sebelumnya...
"No way! Kekasihmu pasti meninggalkanmu karena menyadari wajahku yang sempurna dan lebih tampan dari kamu. Tapi sebagai teman, aku tidak akan menerima dia. Aku tidak ingin barang bekas darimu." Ujar Dean dengan raut wajah jijik.
Ricky yang melihat itu pun melempar kaleng soda kosong ke arah kepala Dean.
Tak.
"Awwh." Ujar Dean sambil mengusap kepalanya.
"Sepertinya otakmu sudah bergeser. Aku tidak ingin mendengarkan ocehanmu itu." Ujar Ricky lalu beranjak ke arah kamarnya.
Satu persatu mereka pun meninggalkan Dean yang masih berada di ruang tamu.
"Mereka pasti minder denganku." Gumam Dean dengan santainya.
•••
Setelah perjalanan yang lebih dari 6 jam, Robert dan Erica sampai di suatu lahan kosong yang dipenuhi semak belukar. Sekitar 5 meter dari mobil mereka, terdapat sebuah gerbang tinggi yang terlihat tidak terawat. Gerbang itu terlihat berkarat dan setiap jeruji besinya terlilit oleh tanaman liar.
Tempat macam apa ini? Bahkan vampir pun tidak tinggal di tempat seperti ini. Pikir Robert.
Lelaki itu menoleh kepada Erica dan berkata,
"Apa ini benar tujuan kita?" Tanyanya dengan alis berkerut.
"Ya. Invisible doesn't mean it doesn't exist. (Tidak terlihat bukan berarti tidak ada)" Ujar Erica dengan percaya diri.
"Okay. Jadi apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" Ujar Robert dengan memiringkan kepalanya. Dia benar-benar tidak mengerti.
"Just watch this." Ujar Erica dengan mengedipkan satu matanya.
Apa dia baru saja menggodaku? Pikir Robert dengan berdebar-debar.
Wanita itu tiba-tiba keluar dari mobil dan berjalan mendekat ke arah gerbang itu. Robert masih terdiam dan hanya melihat Erica yang berjalan dengan seksama.
Erica memakai hanya memakai satu set pakaian olahraga yang dibalut oleh jaket. Namun dia terlihat lebih seksi dengan memakai pakaian itu.
"Apa yang akan dia lakukan?" Gumam Robert lalu ikut keluar dari mobilnya.
Entah Erica merapalkan mantra apa, Robert tidak bisa memahami setiap kata yang keluar dari bibir wanita itu.
Erica mengangkat tangannya ke udara dan telapak tangannya menghadap ke gerbang. Sekejap angin berhembus dengan kencang dan tiba-tiba terdengar bunyi kunci gerbang yang dibuka.
Tring. Tring. Tring. Cklak. Kriiiieeettt.
Robert hanya diam dan melihat pintu gerbang yang perlahan terbuka. Tanpa sadar dirinya terlalu asik melihat keajaiban gerbang yang bisa terbuka sendiri hingga tidak tahu bahwa Erica memanggilnya.
"Robert... Robert.. Hey!?" Ujar Erica berulang kali hingga lelaki itu tersadar.
"Hah?" Ujar Robert dengan bingung.
"Kita sudah bisa masuk sekarang. Ayo, naik ke mobil." Ujar Erica lalu berjalan lebih dulu ke arah mobilnya.
Robert masih memandang ke arah gerbang dengan bingung. Tapi karena tidak ingin membuat Erica menunggu lama. Robert pun ikut masuk ke mobil.
Perlahan lelaki itu menancapkan gas dan berlalu masuk ke dalam lahan kosong itu. setelah mobil sudah benar-benar melewati gerbang, seketika gerbang tertutup kembali.
"What the fu*k!" Ujar Robert dengan terkejut.
Lalu belum selesai dikejutkan dengan hal itu, lagi-lagi terdapat kejutan lain. Udara sekitar menjadi dingin dan kabut-kabut tebal menutupi pandangan.
Robert mencoba meminta penjelasan dari Erica. Wanita itu terlihat tenang dan tidak ada raut kecemasan sedikitpun.
"Bisa kamu jelaskan apa yang sedang terjadi?" Tanya Robert dengan satu alis terangkat.
"Kamu akan tahu nanti." Jawab wanita itu dengan smirknya.
"Ini bukan hal yang membahayakan, kan?"
"Nah. Kamu lajukan mobilnya perlahan. Nanti akan terlihat jalannya di depan." Ujar Erica.
"Apa kamu sudah pernah kesini?" Tanya lelaki itu sambil perlahan melajukan mobil.
"Tidak. Aku hanya mengikuti feelingku." Ujar Erica.
"Feeling? Bukannya insting?"
Setelah melajukan mobil sekitar 20 menit, terlihat dari kejauhan rumah-rumah kuno dengan penerangan dari lentera di setiap depan rumah. Tidak banyak rumah yang berdiri, hanya sekitar 20 rumah saja yang ada.
Tiba-tiba saja ada seseorang lelaki dengan memakai coat coklat dan rambut yang tergerai sebahu menghadang mobil. Tatapannya tajam dan dingin.
Lelaki itu melipat kedua tangannya di depan dada dan berkata,
"Siapa kalian? Ada perlu apa datang kesini?" Tanyanya.
Robert menoleh ke arah Erica dengan satu alis terangkat. Namun Erica hanya mengangkat kedua bahunya dan bersiap keluar dari mobil.
Sebelum wanita itu keluar dari mobil, Robert menarik tangannya.
"Tunggu! Bagaimana kalau dia adalah orang jahat?" Ujar Robert.
"Dia terlihat seperti penduduk sini. Jadi... aku bisa meminta dia mengantarkan kita ke rumah kerabatku itu." Ujar Erica dan sekali lagi bersiap keluar mobil.
"Tunggu... Erica.." Ujar Robert dengan sedikit berteriak.
Namun Erica sudah keluar dari mobil dan menghampiri lelaki tadi. Karena khawatir jika lelaki asing itu berbuat yang tidak-tidak kepada wanita itu, Robert pun akhirnya ikut keluar dari mobil dan menghampiri mereka.
"Aku sedang ingin berkunjung ke rumah kerabatku. Klan Donovan." Ujar Erica dengan tenang.
"Ah, Klan Donovan? Hah! Buktikan kalau kamu memang salah satu dari Klan Donovan. Dan lagi... kenapa seorang vampir ada disini? Apa kamu tersesat hmm? " Ujar lelaki itu dengan nada meremehkan.
"Mau dimanapun aku berada, sama sekali bukan urusanmu." Ujar Robert dengan tatapan tajamnya.
"Okay. Stop! Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya?" Tanya Erica.
"Erica! Kamu tidak harus membuktikan apapun kepadanya. Memangnya siapa dia?!" Ujar Robert sambil menarik lengan wanita itu agar menghadap dirinya.
"Kalau tidak mau memberikan bukti. Lebih baik kalian keluar dari sini. Sekarang." Ujar lelaki itu.
"Robert, kita harus segera menemukan buku itu. Jadi biarkan aku membuktikan kepadanya." Ujar Erica dengan sedikit berbisik.
"Aku dari Klan Donovan yang menguasai sihir penyembuhan. Aku akan melakukan sihir penyembuhan. Tapi... disini tidak ada yang sakit ataupun terluka.." Ujar Erica kepada lelaki itu.
"Aku membawa racun saat ini. Dan racun itu bereaksi kepada vampir. Jadi.. Kamu bisa menyuruh temanmu itu meminum racunnya lalu kamu sembuhkan dia. Sangat mudah, kan?" Ujar lelaki itu dengan smirknya.
Robert merasa kesal dan ingin menerjang lelaki di hadapannya. Namun dia tidak bisa berbuat gegabah, karena dia disini sedang menjalankan sebuah misi. Misi untuk mencari buku ritual penyihir.
Sedangkan disisi lain, raut wajah Erica terlihat tegang. Dia tidak bisa meminta Robert meminum racun itu. Pikirannya penuh akan pertanyaan.
Bagaimana kalau racun itu belum pernah aku jumpai?
Bagaimana jika aku gagal membuat lelaki itu percaya?
Dan.. Bagaimana jika aku gagal menyembuhkan Robert?
Damn! Apa tidak ada pilihan lain yang lebih bagus?
"Kamu terlihat ragu. Apa kamu takut ketahuan kalau kamu hanya berbohong? Sudahlah! kalian membuang-buang waktuku." Ujar lelaki itu dengan raut kesal.
"Tunggu! Aku akan melalukannya. Tapi sebelum itu.. Aku ingin tahu racun apa itu?" Ujar Erica.
"Kamu harus mencari tahunya sendiri melalui gejala yang ditimbulkan racun itu. Yang pasti, ini bukan racun biasa." Ujar lelaki itu dengan tersenyum.
Erica kembali diam dan terlihat sedang berpikir. Wanita itu tidak bisa mempertaruhkan nyawa seseorang seperti ini. Apalagi kemampuannya sihir penyembuhannya belum sempurna. Karena itu dia perlu meracik obat untuk membantu sihirnya.
Jika saja sihirnya sudah sempurna, dia pasti tidak akan kesulitan seperti ini.
"Berikan racunnya." Ujar Robert tiba-tiba.
Erica yang mendengar itu seketika terkejut dan menatap Robert dengan tidak percaya.
Tidak. Kenapa dia memutuskannya tanpa pikir panjang? Pikir Erica.
"Aku percaya padamu." Ujar Robert dengan tenang.
Erica tidak mampu berkata-kata. Tapi, memang mau tidak mau dia tetap harus melakukan ini.
Lelaki itu memberikan botol kecil berisi cairan berwarna hitam pekat kepada Robert. Tanpa ragu, Robert meminum semua racunnya hingga habis.
1 menit...
2 menit...
Apa yang terjadi selanjutnya??