My Vampire CEO (After Death)

My Vampire CEO (After Death)
Chapter 93 - Mood swing



Sesampainya di restoran, mereka berdua disambut dengan baik oleh pelayan di sana. Memang patut untuk mendapatkan pelayanan terbaik karena Revon dan Rose adalah pelanggan setia di restoran itu. Sejak kencan pertama, Revon sudah mengajak Rose kesana.


Pelayan pun mengantarkan mereka ke ruangan khusus yang biasanya di pesan oleh orang-orang berdompet tebal.


Tapi tiba-tiba Rose menarik tangan Revon untuk berhenti. "Aku ingin makan di meja itu."


Rose menunjuk meja dengan dua kursi yang berada di sudut ruangan. Di samping meja itu terdapat jendela berukuran besar yang menampilkan pemandangan malam kota Paris yang indah.


"Apa meja itu belum ada yang memesan?" tanya Revon.


"Belum. Apa anda ingin menempati meja itu?" balas pelayan.


"Ya," jawab Rose cepat.


Karena tidak sabar dan sudah sangat lapar, Rose menjawab pertanyaan pelayan itu. Revon tersenyum tipis melihat tingkah Rose. Setelah itu, Rose menggandeng tangan Revon berjalan cepat menuju meja.


Mereka duduk di kursi yang tersedia, lalu pelayan memberikan buku menunya. Revon tidak menyentuh sama sekali buku menunya, lelaki itu lebih tertarik melihat Rose yang membuka buku menu dengan antusias.


"Aku ingin ini semua, lalu ini, ini dan hmmm ini," ucap Rose. Wanita itu menunjuk beberapa menu tanpa menyebutkannya. Tapi yang jelas, Rose memesan banyak sekali makanan.


Pelayan itu menatap Rose hampir tidak percaya, tapi dia tetap menulis pesanan sesuai yang diinginkan Rose. Revon menambahkan sebotol wine dalam pesanannya. Kemudian pelayan itu pergi untuk memproses pesanan.


Beberapa menit kemudian, perlahan-lahan makanan mulai memenuhi meja. Revon tidak bisa berhenti tersenyum melihat Rose yang senang. Ya tentu Rose senang, karena makanannya sudah datang.


"Selamat makan," ucap Rose.


Revon tersenyum lebar. "Makan yang banyak."


"Kamu tidak akan menguras tenagaku setelah ini, kan?" bisik Rose.


Revon perlahan menampilkan smirknya. "Bae, aku tidak mengerti apa yang kamu maksud."


"Kamu jelas tahu apa yang aku maksud."


Revon hanya tersenyum, lalu meminum wine yang telah dituang ke gelas. Rose mulai menyantap makanannya. Perlahan-lahan setiap makanan di piring telah habis tak bersisa. Wanita itu rupanya sangat menikmati setiap suapan demi suapan yang terasa memanjakan lidahnya.


Revon dengan sabar menunggu, lelaki itu ikut senang melihat Rose makan dengan lahap. Tiba-tiba Revon terpikirkan mengenai kejadian tadi saat di rumah, lelaki itu semakin tersenyum lebar hingga menampakkan gigi rapinya.


Rose menangkap ekspresi Revon. "Kenapa kamu tersenyum? Apa ada yang lucu? Apa ada saus di bibirku?"


Revon seketika tertawa kecil mendengar pertanyaan Rose. "Tidak ada yang salah denganmu, Bae. Aku hanya membayangkan jika kita memiliki seorang anak, aku harap dia akan mirip denganmu."


Rose memakan suapan terakhirnya. "Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Aku hanya…tidak ingin anak kita akan kesusahan, jika dia mirip denganku. Kamu tahu sendiri bagaimana aku dan kehidupanku. Terutama kehidupan sebagai penghisap darah," ungkap Revon.


Rose meraih tangan Revon dan menggenggamnya. "Dia tidak akan kesusahan. Karena kamu adalah ayahnya. Kamu pasti bisa mengajarinya segala hal. Dan lagi, kamu bukan orang seburuk itu. Paling tidak kamu sudah lebih baik dari pertama kali kita bertemu."


Revon tersenyum mendengar ucapan Rose. Hatinya berdebar, semakin besar rasa cintanya kepada Rose. Lelaki itu mengecup tangan Rose sambil menatap mesra wanita itu.


"Sepertinya aku harus memberimu hadiah karena sudah memujiku. Katakan, apa hadiah yang kamu inginkan?" tanya Revon dengan senyuman manisnya.


"Entahlah. Aku ingin kamu memberikan sesuatu yang mengejutkanku," balas Rose.


"Hmm… aku akan memberikan diriku."


Rose menaikkan satu alisnya. "Aku tidak mengerti."


"Aku akan membiarkanmu melakukan apapun kepadaku. Ini berlaku 2 hari–"


"–7 hari. Aku ingin 7 hari."


Revon menampilkan smirknya. Lelaki itu sedikit memajukan tubuhnya agar lebih dekat dengan Rose. "2 hari atau tidak ada hadiah untukmu?"


"2 hari terlalu singkat. Aku jamin, kamu tidak akan dirugikan."


"Hmm baiklah, Bae. Aku akan menurutimu. Aku yakin kamu tidak berani melakukan hal aneh."


Rose hanya tersenyum penuh arti. Setelah obrolan itu, mereka hanya diam dan menikmati pemandangan malam. Revon meminum semua wine hingga tandas. Rose sempat ingin ikut minum, tapi Revon hanya menuangkan sedikit ke gelas Rose. Saat Rose ingin protes, Revon mengatakan bahwa Rose akan mabuk jika minum lebih banyak dari yang Revon berikan.


"Sudah larut, kita pulang sekarang," ucap Revon.


"Baiklah."


Rose dan Revon pun pergi untuk menyelesaikan pembayaran. Tidak lama kemudian mereka keluar dari restoran. Selama perjalanan pulang, Rose terlihat sangat senang. Revon membuka kap mobilnya karena melihat cuaca malam ini sangat cerah. Bintang-bintang terlihat jelas bersinar. Rose tersenyum kepada Revon. Begitu banyak kisah yang mereka lalui bersama. Mulai dari kisah yang pahit dan menyakitkan hingga kisah yang manis dan memabukkan. Tidak peduli seberat apapun kisah selanjutnya, Rose tetap ingin berada di sisi Revon.


•••


"Bae, aku membuatkan coklat hangat untukmu. Minumlah, mungkin bisa membantumu lebih nyaman."


Revon datang menghampirinya dengan segelas coklat. Aroma coklat itu cukup menggiurkan bagi Rose. Revon membantu Rose untuk bangun. Perlahan Revon memberikan gelas coklatnya. Saat seteguk coklat masuk ke mulutnya, Rose terdiam sejenak. Lidahnya terasa mati rasa dan tidak bisa merasakan apapun.


"Tidak ada rasa. Lidahku tidak bisa merasakan apapun," ungkap Rose dengan wajah tertekuk.


Revon menatap Rose dengan khawatir. Lelaki itu mengambil gelasnya dari tangan Rose, meletakkan gelasnya ke meja samping tempat tidur. Revon lalu menarik Rose untuk mendekat kepadanya. Tanpa membuang waktu, Rose segera memposisikan dirinya senyaman mungkin ke dalam pelukan Revon. Revon juga mengusap-usap punggung Rose dengan lembut.


"Aku akan memanggil Erica kesini, ya?"


"Hmm, ya."


"Apa kamu tidak haus?"


"Haus?"


"Maksudku menginginkan darah, seperti sebelumnya."


"Sepertinya…tidak. Aku tidak menginginkan apapun."


Revon mengecup kening Rose lembut. Rose yang dalam keadaan seperti ini cukup membuat Revon frustasi. Baru semalam wanita itu terlihat sangat senang, sekarang Rose terlihat murung dan tidak bersemangat. Suhu tubuh Rose tinggi seperti sedang demam, tapi Rose sendiri merasa kedinginan. Saat ini Revon tidak ingin berada jauh dari Rose. Dia ingin selalu disisi Rose, mendekapnya, melakukan apapun yang bisa membuat wanita itu merasa lebih baik.


Tiba-tiba saja Revon terpikirkan sesuatu. Tangan Revon perlahan beralih dari pinggang Rose menuju ke perutnya. Mengusap perut Rose yang masih rata. Rose perlahan menaikkan pandangan agar bisa melihat ekspresi Revon. Ternyata Revon juga sedang menatap ke arah Rose sejak tadi. Senyuman perlahan terbentuk dari bibir Revon, yang kemudian senyuman itu menjalar ke bibir Rose.


"Apa kamu merasa lebih baik?" tanya Revon.


"Sedikit. Hmm… entahlah. Tapi yang jelas aku ingin menempel terus denganmu, seperti ini."


Revon tertawa mendengar ucapan Rose. "Kamu sudah bisa bercanda, itu berarti kamu sudah lebih baik."


"Omong-omong aku ingat sesuatu," aku Rose.


Revon menatap Rose dengan penasaran. "Apa?"


"Saat makan malam kemarin, kamu menjanjikan sesuatu kepadaku."


"Ya, lalu?"


"Aku ingin menagihnya," lirih Rose.


Rose bermain-main dengan kancing kemeja Revon. Lelaki itu menatap Rose dengan intens. Gerakan tangan Revon yang mengusap punggung Rose juga semakin pelan. Rose meminta Revon agar berbaring dengan nyaman di ranjang, lalu Rose membuka satu persatu kancing kemeja Revon. Revon hanya diam membiarkan Rose melakukan apapun yang dia mau.


Setelah berhasil membuka semua kancing, Rose kemudian membuka kemeja Revon dan berniat untuk melepaskan dari tubuh Revon. Untuk memudahkan Rose, Revon membantu Rose melepaskan kemeja itu. Setelah itu, Rose melemparkan kemejanya ke sembarang arah. Wanita itu lalu ikut berbaring tepat di sebelah Revon. Memeluk tubuh Revon, menghirup aroma tubuh Revon yang sangat candu baginya.


"Ah, jadi Ini yang kamu inginkan?" tanya Revon.


"Iya, kenapa? Ada yang salah?"


Revon diam-diam merutuki isi kepalanya yang sudah berpikir terlalu jauh. "Tidak, tidak ada yang salah. Berbaringlah dengan nyaman, oke? Aku akan menghubungi Erica sebentar."


Revon mengambil ponselnya lalu menghubungi Erica. Revon hanya bicara singkat dan meminta Erica segera datang menemuinya. Setelah itu, panggilan selesai. Rose bahkan tidak bisa mendengar jawaban dari Erica.


"Apa yang dia katakan?" tanya Rose.


"Dia akan datang."


"Benarkah? Aku tidak mendengar jawaban apapun dari Erica tadi."


"Aku memang tidak menunggu jawaban Erica. Tapi aku tau dia pasti akan datang."


"Kenapa kamu tidak menunggu jawaban Erica?"


Revon menghela nafas panjang. "Karena dia sedang berada di ranjang bersama Robert. ******* Robert terdengar oleh telingaku."


"Erica dan Robert?"


"Sialan aku harus mendengar mereka melakukannya."


Rose tertawa kecil mendengar keluhan Revon. "Hmm, sekarang aku bisa istirahat dulu, kan?"


Rose mendekatkan tubuhnya dan menjadikan lengan Revon sebagai bantalan. Rose memejamkan mata. Jari-jari Revon terulur untuk mengusap pundak Rose. Selanjutnya Revon sedikit terkejut ketika kaki Rose naik ke atas kakinya. Semakin naik dan naik hingga sampai di atas pinggangnya.


Beberapa menit kemudian, Revon bisa merasakan deru nafas Rose yang teratur. Itu menandakan jika Rose susah tertidur. Sedangkan Revon sama sekali tidak bisa tenang. Pasalnya kaki Rose juga memeluk tubuhnya. Posisi kaki Rose berada di bagian sensitifnya. Revon berharap Rose tidak menggerakkan kakinya saat tertidur.