
Teresa melihat Aston dengan takjub. Dulu wanita itu mampu mengendalikan sihir, tapi sejak dia memutuskan untuk menyegel kekuatannya. Teresa sudah benar-benar melupakan semuanya. Hingga dia merasa nyaman dengan kehidupan normalnya.
Tapi saat Revon mencoba membuka segel sihirnya, Teresa sempat mengingat seseorang. Tanpa sadar, Teresa bergumam. "Stevan?"
"Apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya Aston. Lelaki itu mendengar Teresa bergumam lirih.
"Hmm … tidak. Aku kembali ke hotel dulu," ucap Teresa.
Wanita itu melangkahkan kakinya menuju ke hotel dengan cepat. Aston merasa heran dengan sikap Teresa.
"Padahal tadi dia bilang ingin jalan-jalan."
Aston mencoba untuk tidak berpikiran buruk. Lelaki itu kembali bermain di tepi danau dan menikmati cahaya bulan.
•••
Mentari telah menampakkan sinarnya dengan ceria. Sinar kehangatannya memenuhi seluruh kota.
Tampak di sebuah kamar di salah satu hotel bergaya Victoria, Rose masih terlelap dengan selimut yang menutup seluruh tubuhnya. Rambut panjangnya tergerai bebas ke berbagai arah.
Sementara Revon baru selesai membereskan beberapa barang. Hari ini mereka akan kembali ke rumah. Namun saat akan membangunkan Rose, lelaki itu merasa tidak tega karena Rose terlihat sangat lelap.
Revon pun memutuskan untuk membuat sarapan terlebih dulu untuk Rose. Dia teringat jika masih ada strawberry di kulkas. Revon pergi ke dapur lalu membuat roti bakar dengan selai strawberry.
Dengan senyum yang menghiasi bibirnya, Rebon membuat roti bakar itu sambil memikirkan tentang aktivitasnya semalam.
"Strawberry! apa dia akan mengingatmu?" gumam Revon. Dia tertawa mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya.
Setelah roti bakar siap di atas piring, Revon mulai menghancurkan beberapa strawberry lalu memasaknya dengan sedikit gula dan air. Setelah strawberry itu sudah mengental seperti selai, Revon mengoleskannya ke sisi roti lalu menumpuknya dengan roti lain. Setelah itu, Revon membuat teh hangat dengan madu.
Revon kembali berjalan menuju kamar sambil membawa nampan berisi menu sarapan sederhana itu. Lelaki itu meletakkan nampan di meja dekat ranjang.
Revon mendekati Rose yang masih terlelap. "Bae, bangun … kita akan checkout hari ini."
Rose masih terlihat tidur dengan nyenyak. Revon tersenyum memikirkan sesuatu. Lelaki itu mengecup pipi Rose berkali-kali. Rose mulai terusik, wanita itu berusaha menjauhkan wajahnya dari Revon. Namun Revon menahan wajah Rose agar tidak menjauh.
"Hmm … Revon!" protes Rose.
"Bangun, Bae. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu," ucap Revon.
"Aku masih mengantuk … "
Tepat saat Rose mengatakan itu, Revon menarik selimut yang menutupi tubuh Rose. Seketika Rose terbangun karena udara yang terasa dingin mengenai kulitnya.
"... Revon!"
"Kita akan checkout 1 jam lagi."
"Apa? Kenapa tiba-tiba sekali? Aku masih ingin tidur."
"Kamu bisa tidur di mobil. Oke? Sekarang makan sarapanmu selagi masih hangat."
Rose melirik nampan di meja sebelah ranjang yang dia tempati. Rose menarik kembali selimut yang sudah berada di kakinya. Tapi Revon tidak melepaskan tangannya dari sisi lain selimut. Rose melotot tajam ke arah Revon.
Revon tertawa setelah puas menjahili Rose. Wanita itu kembali menyelimuti tubuhnya sambil perlahan duduk. Rose pun mengambil nampan berisi sarapan itu.
"Strawberry?" ucap Rose sambil mengunyah roti.
"Kamu terlihat menyukainya semalam," balas Revon.
Rose mendengus sambil terus memakan roti. Dia menikmati selai strawberrynya.
"Apa kamu menikmatinya?" tanya Revon.
Kini lelaki itu duduk disebelah Rose dengan tersenyum jail.
"Hmm … ya … tapi kamu keterlaluan melakukannya hingga dini hari," terang Rose.
Rose berhenti mengunyah lalu melirik Revon yang berada di sebelahnya. Lelaki itu tersenyum lebar memperlihatkan gigi rapinya.
Melihat itu, Rose melemparkan bantal ke wajah Revon. Bukannya merasa bersalah, lelaki itu malah tertawa dengan keras. Seiring dengan Rose yang menghabiskan rotinya, tawa Revon mereda.
"Oke. Ayo mandi sekarang," ucap Revon.
"Tunggu! Aku tidak mau mandi bersama," protes Rose.
"Aku tidak mengatakan mandi bersama," balas Revon dengan smirknya.
Rose terdiam dan dia bisa merasakan pipinya memanas.
"Tapi … aku tidak menolak jika kamu menginginkan mandi bersama," tambah Revon.
Rose merasa kesal karena Revon yang terus menggodanya. Wanita itu kembali melempar bantal lagi ke arah Revon. Kali ini Revon menangkap bantal itu sebelum mengenai wajahnya.
Revon mengambil nampan dari tangan Rose lalu meletakkannya di meja. Revon mengecup bibir Rose, lalu lelaki itu menggendong Rose menuju kamar mandi.
"Apa hari ini kamu ada pekerjaan?" bisik Rose.
Revon tersenyum, lelaki itu membuka pintu kamar mandi. Revon membawa Rose agar duduk di dekat wastafel.
Lelaki itu mengambil sikat gigi untuk Rose dan membiarkan wanita itu menggosok gigi. Revon pun mengambil sikat gigi miliknya juga.
Setelah selesai, Revon menyiapkan air di bathtub dengan Lavender essentials. "Aku akan bekerja di rumah jika kamu menginginkannya."
"Aku tidak yakin kamu akan benar-benar melakukannya," balas Rose.
"Ada Robert. Aku bisa mengaturnya."
Revon tersenyum sambil mengatakan itu. Rose berusaha menahan diri untuk tidak ikut tersenyum.
Sepertinya senyuman Revon menular.
Revon kembali menggendong Rose lalu menurunkannya di dekat bathtub. Perlahan Rose masuk ke dalam bathtub yang airnya terasa segar.
Setelah memastikan Rose terlihat nyaman dengan segalanya, Revon melepas celana kain yang sedang dia pakai dan masuk ke dalam bathtub yang sama. Rose memandang Revon dari atas sampai bawah dengan intens.
"Jangan melihatku seperti itu. Kamu tidak ingin memancingku, kan?" ucap Revon.
"Ehem … okay. Kita harus segera menyelesaikan mandinya," balas Rose. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Walaupun masih sedikit melirik Revon.
•••
Setelah mandi, Revon memberikan sebuah paper bag yang berisi gaun baru. Rose menatap Revon dengan alis terangkat. "Kenapa tidak sekalian kamu membelikanku hairdryer?"
Revon tersenyum lebar sambil mengisyaratkan Rose untuk membuka laci meja. Rose yang penasaran pun membuka laci yang Revon tunjuk. Wanita itu mengambil sebuah hairdryer dari dalam laci.
"Aku punya semua yang kamu inginkan, Bae."
Rose mendekati Revon lalu mencium bibir Revon perlahan. Wanita itu merasa senang dan bahagia mendapatkan Revon, lelaki yang sempurna dengan segala ketidaksempurnaannya. Lelaki yang selalu ada untuknya. Lelaki yang mampu menjerat hatinya.
"I love you, Revonelle Dent."
Revon tersenyum manis, tatapan matanya terfokus pada Rose. Revon menangkup wajah Rose. "I love you more, Roseline Dent. Lebih dari yang kamu bayangkan."
...*** Tamat ***...
Terimakasih buat yang sudah menemani perjalanan mereka sampai sekarang. ♥️😊
Jangan unfavo dulu😌
Nanti author kasih bonus part🤭