
Setelah menjelaskan kepada Revon kalau dia menangis karena terharu mendengar cerita Wen, lelaki itu sudah lebih tenang dan membiarkan Rose mengantar Wen ke mobil.
Setelah menyelesaikan makannya, Rose pun meminta chocolate mousse yang sudah dibungkus pelayan.
"Ini billnya, nona." Ujar pelayan itu.
Ketika Rose melihat ada daftar makanan milik Wen juga seketika dia bingung.
"Sepertinya yang ini sudah dibayar oleh teman saya." Ujar Rose kepada pelayan.
"Ah maaf, tapi teman anda tadi sama sekali belum membayar apapun." Jawab pelayan itu dengan tenang.
Wen, kamu benar-benar ya. Pasti kamu sengaja karena Revon akan datang. Pikir Rose kesal dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Sepertinya temanmu lupa membayar. But, it's okay, bae." Ujar Revon sambil memberikan black cardnya.
"Dia sudah bilang akan mentraktirku. Itu masalahnya." Ujar Rose dengan wajah cemberut.
Setelah itu pelayan mengembalikan black card milik Revon dan meninggalkan mereka berdua.
"Setelah ini kita akan pergi kemana?" Tanya Rose sambil berjalan keluar cafe.
Revon melingkarkan tangannya di pinggang ramping wanita itu. Mencium rambut Rose berkali-kali.
"Revon? Kamu mendengarku, kan?"
"Hmm.. Nanti juga kamu akan tahu." Jawab Revon dengan tersenyum manis.
Mereka pun masuk ke mobil dan meninggalkan cafe.
•••
Mereka berhenti di suatu restaurant. Revon segera menarik tangan Rose dan masuk ke dalam restaurant.
"Restaurant? Tapi aku sudah makan." Ujar Rose kepada Revon.
Lelaki itu hanya diam dan tersenyum. Lalu pelayan datang menyambut mereka dan mengantarnya ke meja.
Revon menyiapkan kursi untuk Rose dan mempersilahkan dia duduk. Sementara dia sendiri duduk di kursi yang berhadapan dengan Rose.
"Kebetulan sekali restaurantnya dalam kondisi sepi." Ujar Rose sambil mengamati sekeliling restaurant.
"Tidak ada yang kebetulan, bae."
Apa maksudnya? Apa dia membooking seluruh restaurant? Walaupun romantis tapi ini sedikit berlebihan menurutku. Pikir Rose.
"Apa kamu membooking seluruh restaurant?"
"Aku hanya tidak suka ada yang mengganggu waktu berdua kita." Jawab Revon dengan tenang.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan?"
"Tidak ada yang berlebihan jika itu untukmu, bae. Selama aku mampu, aku akan memberikan semua yang ada di dunia ini." Jawab Revon yang membuat pipi Rose memanas seketika.
Tiba-tiba pelayan tadi datang kembali dan menuangkan wine untuk mereka.
"Bagaimana? Apa kamu suka tempat ini?" Tanya Revon dengan menatap Rose intens.
"Hmm.. ya. Tempat ini bagus dan..romantis"
Rose menyesap winenya dengan gugup. Jantungnya berdegup dengan kencang karena lelaki itu sejak tadi terus menatapnya.
"Apa impian terbesar dalam hidupmu, bae?" Tanya Revon tiba-tiba.
"Pekerjaanku. Menjadi seorang model internasional. Itu adalah impianku sejak kecil." Jawab Rose dengan mudah.
Revon mengangguk mengerti dan tersenyum manis menatap Rose.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Rose kemudian.
"Aku hanya ingin membuat hidupku lebih bermakna." Jawab Revon.
"Maksudnya?"
"Apa yang kamu lakukan jika hidup selama beratus-ratus tahun dan telah melewati zaman demi zaman, melakukan semua yang ingin kamu lakukan. Tapi.. kamu masih merasa hampa?" Tanya Revon dengan satu alis terangkat.
"Hmm.. mungkin, mencari pasangan hidup?" Jawab Rose dengan alis yang berkerut.
Revon menatap wanita itu dengan tersenyum manis.
Oh God! Senyuman itu. Dia terlihat semakin tampan, bahkan dalam penerangan yang redup dari cahaya lilin ini. Pikir Rose.
"Pipimu memerah. Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Revon sambil mengusap pipi Rose.
Dia merasa gugup dan jantungnya berdegup kencang. Berkali-kali dia menyesap winenya berharap bisa sedikit menenangkan dirinya.
"Jangan terlalu banyak meminum winenya. Aku ingin kamu tetap sadar, bae." Ujar Revon dengan menatap wanita itu intens.
"Okay"
Selama beberapa menit berlalu hanya keheningan yang terdengar diantara mereka.
"Apa kamu bisa memainkan alat musik?" Ujar Revon memecah keheningan.
"Dulu.. aku pernah belajar biola pada umur 10 tahun. Tapi aku berhenti setelah 1 tahun kemudian karena aku tidak berminat lagi untuk belajar." Jawab Rose dengan tenang.
"Apa ada alasan lainnya? Kamu bisa mengatakannya padaku, bae." Ujar Revon yang tahu jika ada sesuatu hal lain.
Rose hanya diam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Karena tidak mendapatkan jawaban dari Rose, lelaki itu mencoba untuk membiarkannya. Dia tidak ingin merusak suasana.
"Aku bisa bermain piano. Dulu aku adalah seorang musisi yang tampil di opera setiap malam sabtu. Banyak wanita yang menyukai penampilanku. Setiap selesai tampil, pasti banyak bunga, coklat bahkan surat cinta di lokerku yang berada di belakang panggung. Sampai suatu saat, ada seorang wanita bangsawan yang secara terang-terangan menggodaku. Parahnya, dia menggodaku tepat dihadapan suaminya. She's crazy, right? Tapi aku tidak pernah menggubris dia, karena aku tidak mau merusak rumah tangga orang. Aku masih memiliki moral, bae. Walaupun hanya sedikit." Ujar Revon dengan tertawa kecil.
"Hmm.. aku tidak terkejut jika kamu memiliki banyak penggemar. Khususnya wanita. Look at you, kamu tampan dan.. hot. Hanya saja kamu memiliki wajah datar dan dingin." Ujar Rose sambil menunjukkan jarinya ke wajahnya sendiri. Dia sedang meniru ekpresi wajah Revon.
Melihat itu, Revon tertawa dengan lepas. Tanpa sadar, Rose yang melihat pun ikut tertawa dengannya. Setelah puas tertawa, Revon berkata.
"Apa aku separah itu? Menurutku aku tidak terlihat seaneh itu, bae." Ujar Revon.
"Hmm.. yaya. Aku hanya mencoba meniru ekspresimu. Tapi sepertinya gagal." Ujar Rose dengan mengangkat kedua bahu.
"Aku akan terus tersenyum di depanmu, bae. Agar kamu mengingatku sebagai diriku yang seperti ini. Bukan dengan wajah datar dan dingin itu." Ujar Revon dengan tertawa kecil.
Rose hanya diam menatap Revon dengan malu-malu. Dia sudah membuatnya meleleh. Saat mengedarkan pandangannya, Rose menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Ah, bukankah itu sebuah piano?" Tanya Rose yang tidak sengaja melihat piano di tengah restaurant.
"Ya, itu sebuah piano."
"Bisakah kamu memainkannya untukku?"
"Bisa. Tapi aku tidak bermain piano secara gratis. Aku ingin kamu membayarku, bae." Ujar Revon tersenyum.
"Kamu sangat perhitungan." Jawab Rose dengan cemberut.
"Aku hanya bercanda, bae. Ayo ikut aku." Ujar Revon sambil menarik Rose untuk mengikutinya.
Mereka pun sampai di dekat piano. Revon duduk di kursi panjang samping piano, lalu mengisyaratkan Rose untuk ikut duduk juga.
"Aku akan memainkan sebuah instrumen klasik. Enjoy the show, Ma Rose." Ujar Revon sambil tersenyum manis menatap wanita yang ada di sampingnya.
(Instrumen klasik piano Aria dari Goldberg Variations)
🎶🎶🎶
Rose mendengarkan dengan seksama. Alunan piano yang begitu enak didengar. Dia menatap takjub jari-jari Revon yang menari di atas tuts piano dengan lincah. Lelaki itu terlihat fokus sambil meresapi setiap nada.
Sebenarnya apa yang tidak bisa lelaki ini lakukan? Dia tampan, pintar, seksi, romantis, sedikit humoris dan dia adalah seorang pianis. He's surely perfect. Pikir Rose dengan heran.
Setelah Revon memainkan piano, Rose tersenyum lebar dan memberikan tepuk tangan sebagai bentuk apresiasinya.
"Tidak heran semua wanita itu tergila-gila denganmu." Ujar Rose dengan tersenyum bangga.
"Apa kamu termasuk di dalam daftar nama wanita itu?" Tanya Revon sambil mengusap lembut pipi Rose.
"Hmm.. Let me think about it." Jawab Rose dengan raut wajah seperti orang berpikir.
"Really? Apa cara bermainku kurang meyakinkanmu? Aku akan memainkan satu lagi untukmu."
(Instrumen klasik Jesu, Joy of man's desiring dari Johann Sebastian Bach)
🎶🎶🎶
Setelah selesai Revon bermain piano.
"Aku lebih suka yang ini." Ujar Rose kepada Revon.
"Aku juga suka yang ini." Ujar Revon sambil mengusap bibir Rose dengan ibu jarinya.
Revon tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari bibir Rose. Tanpa membuang waktu, lelaki itu mendaratkan ciumannya di bibir Rose dengan lembut dan penuh perasaan.
Melalui ciuman itu, Revon mencoba menyalurkan rasa cinta dan sayangnya kepada Rose.
Wanita itu seakan dibuat meleleh oleh ciuman Revon. Dia tidak bisa memikirkan hal lain selain meresapi setiap pangutan di bibirnya.